ASIAN GAMES AICHI-NAGOYA 2026

Kenapa 432 Atlet Indonesia Hanya Ditargetkan Empat Emas Asian Games?

Target 4 emas di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 lebih sedikit dari raihan 7 emas di edisi 2022. Target ini dinilai realistis karena alasan yang disebut kompleks.

02 Agt 2026 16:55 WIB · Olahraga

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Oleh Rebiyyah Salasah

Sebanyak 432 atlet Indonesia yang akan bertanding di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dibebani target empat medali emas. Kementerian Pemuda dan Olahraga menilai target yang lebih sedikit dari perolehan emas Indonesia di Asian Games Hangzhou 2022 ini adalah target realistis. Apalagi, persiapan berjalan di tengah efisiensi anggaran dan ada nomor pertandingan potensial yang ”menghilang”.

Komite Olimpiade Indonesia (KOI) mengumumkan Indonesia akan diperkuat 432 atlet dari 35 cabang olahraga (cabor) untuk Asian Games. Dalam pengumuman Sabtu (1/8/2026), Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari menyebutkan, penetapan kontingen Indonesia dilakukan setelah evaluasi antara tim peninjau Kemenpora, Komisi Sport KOI, dan federasi cabor tentang kesiapan atlet dan peluang prestasi.

Jumlah atlet ke Aichi-Nagoya 2026 itu lebih besar daripada kontingen Indonesia di edisi sebelumnya pada Hangzhou 2022. Saat itu, Indonesia mengirimkan total 415 atlet untuk 31 cabor dan mempersembahkan tujuh medali emas.

Kendati kuantitas atlet meningkat, target Indonesia untuk Aichi-Nagoya 2026 akan menurun dibandingkan dengan perolehan medali emas pada Hangzhou 2022. Sehari sebelum pengumuman KOI, pemerintah lewat Kementerian Pemuda dan Olahraga menyebut target untuk para atlet di Asian Games 2026 adalah empat emas.

Defile kontingen Indonesia saat Pembukaan Asian Games Ke-18 Tahun 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (18/8).

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengatakan, target empat emas merupakan target realistis. Ada persoalan kompleks mengapa Indonesia menetapkan target yang terbilang minimalis tersebut.

Ketika ditanya lebih lanjut tentang rincian empat target emas itu dari cabor mana saja, Erick mengatakan akan menyampaikannya kemudian. Namun, kata Erick, semua cabor sebisa mungkin harus menyumbangkan medali, termasuk bulu tangkis.

”Saya sudah sampaikan bahwa target realistis dengan situasi seperti hari ini adalah empat medali emas, tidak tujuh (seperti hasil di Hangzhou 2022),” kata Erick saat ditanya kaitan target dan pelaksanaan pemusatan latihan nasional yang kurang maksimal karena efisiensi anggaran, di kantornya, Jumat (31/7/2026).

Menurut Erick, penetapan target empat emas didasari berbagai alasan. Pertama, tiga nomor penghasil emas di Hangzhou tidak dilombakan lagi di Aichi-Nagoya. Ketiga nomor ini adalah nomor running target 10 meter dan running target mixed 10 meter di cabor menembak dan perahu naga di cabor dayung.

Petembak Indonesia, Muhammad Sejahtera Dwi Putra meraih emas dalam nomor perseorangan running target mixed 10 meter putra Asian Games Hangzhou 2022 di Fuyang Yinhu Sports Centre, Hangzhou, China, Selasa (26/9/2023). Muhammad Sejahtera mendapatkan emas dengan perolehan total poin 378-11x, perak diraih petembak Korea Utara, Kwon Kwangil dengan poin 377-9x dan perunggu diraih petembak Korea Selatan, Jeong Youjin dengan poin 377-6x. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 26-9-2023

Di Hangzhou 2022, Indonesia meraih tujuh emas dari angkat besi, panjat tebing, menembak (nomor perseorangan running target 10 meter dan nomor perseorangan running target mixed 10 meter). Selain itu, emas juga diberikan perahu naga, wushu, dan panjat tebing.

Untuk itu, Erick menyampaikan, pihaknya menambah porsi atlet sejumlah cabor unggulan agar memperluas potensi emas tambahan. Di sisi lain, persiapan tidak bisa ideal karena problem kedua, yakni efisiensi anggaran.

Saat rapat kerja dengan Komisi X DPR pada 2 Juni 2026, Erick menyampaikan problem itu. Erick pun mengutarakan target Kemenpora adalah empat emas karena persiapan atlet tidak bisa optimal menyusul pemangkasan anggaran.

Dalam paparannya, Erick menyebut, anggaran pelatnas untuk Asian Games 2026 menurun signifikan dibandingkan dengan Asian Games 2022. Untuk persiapan Hangzhou, anggaran pelatnas sebesar Rp 389 miliar untuk 31 cabang olahraga dan 415 atlet. Sementara untuk Aichi-Nagoya 2026, anggaran pelatnas Rp 81 miliar untuk 33 cabang olahraga dan 361 atlet.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir memaparkan soal persiapan Asian Games 2026 dalam rapat kerja bersama Komisi X DPRI RI di kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Artinya, terdapat penurunan sebesar 79 persen dari anggaran untuk Asian Games 2022. Penurunan itu tak lepas dari pemangkasan dari Kementerian Keuangan dan pagu Kemenpora yang rendah. Dari total anggaran Kemenpora sebesar Rp 1,15 triliun, terdapat pemangkasan hingga mencapai Rp 270 miliar.

Setelah meraih 31 emas saat menjadi tuan rumah di Asian Games Jakarta-Palembang 2018, kata Erick, Indonesia idealnya meraih sepertiga medali paling emas (10 keping) pada edisi selanjutnya di Hangzhou 2022. Saat itu, Indonesia memang menargetkan perolehan 12 emas, tetapi hanya tujuh emas yang berhasil diraih.

”Kalau persiapan dengan anggaran yang cukup besar saja hanya mendapatkan tujuh (emas), sekarang dengan Rp 81 miliar, tentu ini ada risiko-risiko,” kata Erick saat itu.

Keterlibatan swasta

Ketika Erick ditunjuk Presiden Prabowo Subianto untuk menggantikan Diro Ariotedjo sebagai Menpora, September 2025, optimisme muncul menyertainya. Sejumlah pengurus cabor, misalnya, meyakini Erick bisa memberi terobosan ketika ada problem, termasuk persoalan anggaran.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir memberikan keterangan pers soal persiapan SEA Games Thailand 2025 di Wisma Kemenpora, Jakarta, Kamis (16/10/2025).

Hal itu karena Erick berpengalaman di dunia olahraga. Erick juga pernah menjabat Menteri BUMN dan berasal dari kalangan pebisnis yang bisa mencarikan atau membuka jalan bagi cabor untuk kerja sama dengan mitra.

Erick mengklaim, terobosan itu sudah dilakukan dengan pelibatan swasta. Pengiriman atau perhelatan kejuaraan nasional, Asia, hingga dunia selama ini sudah bekerja sama dengan mitra.

Namun, sesuai regulasi, pelaksanaan pelatnas tetap harus bersumber dari anggaran pemerintah. ”Kalau tercampur anggaran pemerintah dan ini (sponsor), nanti menjadi kompleksitas sendiri, yang saya menghindari,” kata Erick.

”Kalau (penyediaan) peralatan olahraga (dari sponsor) oke. Cuma kalau sistem pelatnas memang dana pemerintah,” ujarnya lagi.

Pewushu Indonesia Harris Horatius menggigit medali emas usai final nomor nangun putra Asian Games 2022 di Xiaoshan Guali Sports Centre, Hangzhou, China, Selasa (26/9/2023). Harris Horatius berhasil meraih emas usai meraih total poin 19,506 (nanquan 9,756 poin dan nangun 9,750 poin).

Di tengah kondisi saat ini, Erick menyebut Kemenpora bersiasat dengan memfokuskan atlet-atlet elite untuk Asian Games. Agar problem ini tidak terulang lagi dan atlet-atlet muda pun bisa terus dibina, Kemenpora mengusulkan pelatnas dengan anggaran multi-tahun, bukan per ajang. Erick menyebut, Presiden Prabowo disebut menyetujui usulan itu.

”Padahal, kita tahu, dalam olahraga, ada atlet prioritas dan ada yang menuju prioritas. Atlet yang menuju prioritas tidak boleh berhenti dibina karena nantinya atlet prioritas tua, kariernya berhenti,” ucap Erick.

”Itulah mengapa saya mengusulkan anggaran pelatnas bersifat multiyears agar persiapan menuju Olimpiade 2032, bukan (Los Angeles) 2028, ya,” tutur Ketua Umum PSSI ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase