Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa PM Israel Benjamin Netanyahu berusaha menjegal kesepakatan nuklir AS-Iran?
- Apa saja tuntutan Israel ke AS soal Iran?
- Mengapa Israel juga pernah menahan serangan AS ke Iran?
- Bagaimana selama ini peran Israel dalam kesepakatan AS-Iran?
- Apa tanggapan Iran?
Alasan PM Israel Benjamin Netanyahu menjegal kesepakatan nuklir AS-Iran
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali meminta Amerika Serikat agar pembicaraan dengan Iran tidak berhenti pada isu nuklir. Dari Teheran, pejabat tinggi Iran menolak agenda di luar nuklir dan menyebut Israel mencari celah untuk merusak proses negosiasi.
Kunjungan Netanyahu ke Washington semula dijadwalkan pada 18 Februari 2026. Kunjungan itu mendadak dimajukan menjadi Rabu (11/2/2026). la datang selepas pertemuan AS-Iran di Muscat, Oman, Jumat pekan lalu, yang dinyatakan berjalan baik.
Sehari sebelum pertemuan, Netanyahu menyebut prioritas utama pembicaraannya dengan Presiden AS Donald Trump adalah negosiasi dengan Iran. la juga mau AS bertindak keras soal rudal Iran.
Trump dan Netanyahu berbicara lebih dari 2,5 jam. ”Tidak ada sesuatu yang definitif yang dicapai selain saya menegaskan bahwa negosiasi dengan Iran terus berlanjut untuk melihat apakah sebuah kesepakatan dapat diwujudkan,” kata Trump dalam unggahan media sosial setelah pertemuan dengan Netanyahu.
Trump menyebut pertemuan itu sangat baik meski tidak ada keputusan besar yang dibuat. la juga tidak menyatakan menerima permintaan Netanyahu.
Tuntutan Israel ke AS soal Iran
Netanyahu terus mendorong AS membuat perjanjian lebih keras dengan Iran. Ia berusaha membujuk Trump untuk memperluas perjanjian di luar isu nuklir Iran.
Demi kepentingan Israel, Netanyahu menuntut agar kesepakatan juga mencakup program rudal balistik Iran dan dukungan Teheran kepada proksi regional, seperti Hamas, Houthi, dan Hizbullah.
”Kesepakatan apa pun harus mencakup elemen yang sangat penting dari perspektif kami,” katanya dalam pernyataan video dari kantornya, Kamis (12/2/2026) di Washington, AS, sebelum ia bertolak kembali ke Israel.
Menurut Netanyahu, ia ragu akan hasil kesepakatan AS-Iran. Ia menilai Trump merasa sedang menciptakan kondisi untuk kesepakatan yang baik dengan Iran.
”Saya tidak akan menyembunyikan dari Anda bahwa saya menyampaikan skeptisisme umum mengenai kualitas kesepakatan apa pun dengan Iran,” ujarnya.
Sekretris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani menuduh Israel berupaya mengganggu jalannya diplomasi. ”Israel mencari alasan untuk menyalakan perang, tidak hanya menargetkan Iran, tetapi juga stabilitas seluruh kawasan,” ujarnya dikutip dari kantor berita Iran, IRNA.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei belum memberikan dukungan terhadap diplomasi. ”Musuh yang berusaha menundukkan bangsa Iran melalui pernyataan dan rencana mereka telah digagalkan,” katanya dalam pesan yang disiarkan televisi Pemerintah Iran, Rabu (11/2/2026).
Alasan Israel pernah menahan serangan AS ke Iran
Dengan alasan masing-masing, Israel dan empat negara Arab bekerja keras mencegah Amerika Serikat menyerang Iran. Sejauh ini, pencegahan itu berhasil. Meski demikian, kapal perang hingga jet tempur dan pesawat pengebom AS terus mendekati Iran.
Pencegahan itu, antara lain, dibedah dua media AS. Dalam laporan pada Sabtu (17/1/2026) sore waktu Washington atau Minggu pagi WIB, The Washington Post mengulasnya. Sementara The Wall Street Journal mengulas lewat laporan pada Jumat.
Arab Saudi, Oman, Mesir, dan Qatar bekeria keras mencegah serangan itu terjadi. Peneliti senior pada Washington Institute of Near East Policy, David Makovsky, menyebut niat Arab dan Israel berbeda. Arab benar-benar tak mau ada serangan.
Sementara Israel cuma meminta penundaan. Israel mau memastikan AS punya aset cukup di kawasan untuk bisa melancarkan serangan besar.
Negara-negara Arab khawatir, mereka akan kewalahan pada pembalasan itu. Apalagi kala Trump membahas rencana serangan ke Iran, aset militer AS di Timur Tengah dan sekitarnya terbatas. Tak ada kapal induk AS di Teluk Persia, Laut Arab, hingga Laut Tengah.
Netanyahu juga menelepon Trump pada Rabu. la mendesak AS menunda serangan ke Iran. Sebab, Israel takut jadi sasaran rudal dan pesawat nirawak Iran seperti pada Juni 2025.
Waktu itu Israel sudah dibentengi kapal perang dan pertahanan udara AS-Jordania. Walakin, tetap saja rudal dan pesawat nirawak Iran meledakkan berbagai lokasi di Israel.
Pusat pengolahan data intelijen dan kendali operasi militer Israel dihantam rudal-rudal Iran. Oleh karena itu, Netanyahu mendesak Trump menunda serangan sampai AS punya aset militer memadai di kawasan. Israel, kata Netanyahu kepada Trump, tidak siap menghadapi pembalasan Iran sendirian.
Peran Israel dalam kesepakatan AS-Iran selama ini
Trump dan Netanyahu kembali bertemu keenam kalinya sejak ia menjabat di kediaman Trump Mar-a-Lago, Florida, AS, Senin, 29 Desember 2025. Sebagaimana pertemuan-pertemuan terdahulu, isu kawasan Timur Tengah dan perkara dukungan AS untuk lsrael menjadi topik utama.
Dalam pertemuan kali ini, bumbu utama yang meramu pembicaraan mereka adalah ancaman untuk Iran dan Hamas, seteru Israel di kawasan.
Terkait isu Iran, komentar Trump mengenai negeri itu tampaknya atas permintaan Netanyahu. Selama beberapa bulan terakhir Israel sering mengutarakan kekhawatirannya terhadap Iran yang sedang membangun kembali kemampuan rudal balistik mereka.
Trump berkomentar, Iran ”mungkin berperilaku buruk” dan sedang mempertimbangkan situs nuklir baru untuk menggantikan situs yang menjadi sasaran serangan AS serta memulihkan kekuatan rudalnya.
Iran berada dalam kewaspadaan tinggi menyusul ancaman serangan Amerika Serikat. Perundingan Iran dengan AS terus berjalan untuk meredakan ketegangan meski kedua pihak saling mengancam.
Kantor berita AFP, Minggu (1/2/2026), mengutip Ketua Dewan Keamanan Nasiona Iran Ali Larijani, yang menyatakan ada kemajuan dalam perundingan dengan AS.
Meski demikian, ia memperingatkan AS untuk tidak melancarkan serangan militer ke Iran. ”Tak seperti yang digembar-gemborkan media, pengaturan struktur untuk negosiasi sedang berjalan,” katanya.
Meski pembicaraan berlangsung, Trump menambahkan, AS tetap mempertimbangkan ancaman serangan ke Iran. Washington sudah mengerahkan kelompok amada laut penyerang yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah. Saat ini kapal induk tersebut sudah berada di lepas pantai Iran.
Kehadiran armada perang tersebut sudah meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya konfrontasi langsung AS dengan Iran. Kepala Angkatan Darat Iran Amir Hatami memperingatkan AS dan Israel untuk tidak menyerang Iran.
Jika terjadi serangan, menurut Hatami, Teheran akan membalas dengan serangan rudal terhadap pangkalan, kapal, dan sekutu AS, terutama Israel. ”Pasukan (Iran) dalam kesiapan defensif dan militer penuh,” kata Hatami.
”Jika musuh melakukan kesalahan, tanpa diragukan itu akan membahayakan keamanan mereka sendiri, keamanan kawasan, dan keamanan rezim zionis,” kata Hatami, seperti dilaporkan oleh kantor berita resmi IRNA.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Sabtu, mengatakan, konflik yang lebih luas akan merugikan Iran dan AS. ”Republik Islam Iran tidak pernah menginginkan dan sama sekali tidak menginginkan perang dan sangat yakin perang tidak akan menguntungkan Iran, Amerika Serikat, ataupun kawasan ini,” kata Pezeshkian dalam percakapan telepon dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa PM Israel Benjamin Netanyahu berusaha menjegal kesepakatan nuklir AS-Iran?
- Apa saja tuntutan Israel ke AS soal Iran?
- Mengapa Israel juga pernah menahan serangan AS ke Iran?
- Bagaimana selama ini peran Israel dalam kesepakatan AS-Iran?
- Apa tanggapan Iran?
Alasan PM Israel Benjamin Netanyahu menjegal kesepakatan nuklir AS-Iran
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali meminta Amerika Serikat agar pembicaraan dengan Iran tidak berhenti pada isu nuklir. Dari Teheran, pejabat tinggi Iran menolak agenda di luar nuklir dan menyebut Israel mencari celah untuk merusak proses negosiasi.
Kunjungan Netanyahu ke Washington semula dijadwalkan pada 18 Februari 2026. Kunjungan itu mendadak dimajukan menjadi Rabu (11/2/2026). la datang selepas pertemuan AS-Iran di Muscat, Oman, Jumat pekan lalu, yang dinyatakan berjalan baik.
Sehari sebelum pertemuan, Netanyahu menyebut prioritas utama pembicaraannya dengan Presiden AS Donald Trump adalah negosiasi dengan Iran. la juga mau AS bertindak keras soal rudal Iran.
Trump dan Netanyahu berbicara lebih dari 2,5 jam. ”Tidak ada sesuatu yang definitif yang dicapai selain saya menegaskan bahwa negosiasi dengan Iran terus berlanjut untuk melihat apakah sebuah kesepakatan dapat diwujudkan,” kata Trump dalam unggahan media sosial setelah pertemuan dengan Netanyahu.
Trump menyebut pertemuan itu sangat baik meski tidak ada keputusan besar yang dibuat. la juga tidak menyatakan menerima permintaan Netanyahu.
Tuntutan Israel ke AS soal Iran
Netanyahu terus mendorong AS membuat perjanjian lebih keras dengan Iran. Ia berusaha membujuk Trump untuk memperluas perjanjian di luar isu nuklir Iran.
Demi kepentingan Israel, Netanyahu menuntut agar kesepakatan juga mencakup program rudal balistik Iran dan dukungan Teheran kepada proksi regional, seperti Hamas, Houthi, dan Hizbullah.
”Kesepakatan apa pun harus mencakup elemen yang sangat penting dari perspektif kami,” katanya dalam pernyataan video dari kantornya, Kamis (12/2/2026) di Washington, AS, sebelum ia bertolak kembali ke Israel.
Menurut Netanyahu, ia ragu akan hasil kesepakatan AS-Iran. Ia menilai Trump merasa sedang menciptakan kondisi untuk kesepakatan yang baik dengan Iran.
”Saya tidak akan menyembunyikan dari Anda bahwa saya menyampaikan skeptisisme umum mengenai kualitas kesepakatan apa pun dengan Iran,” ujarnya.
Sekretris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani menuduh Israel berupaya mengganggu jalannya diplomasi. ”Israel mencari alasan untuk menyalakan perang, tidak hanya menargetkan Iran, tetapi juga stabilitas seluruh kawasan,” ujarnya dikutip dari kantor berita Iran, IRNA.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei belum memberikan dukungan terhadap diplomasi. ”Musuh yang berusaha menundukkan bangsa Iran melalui pernyataan dan rencana mereka telah digagalkan,” katanya dalam pesan yang disiarkan televisi Pemerintah Iran, Rabu (11/2/2026).
Alasan Israel pernah menahan serangan AS ke Iran
Dengan alasan masing-masing, Israel dan empat negara Arab bekerja keras mencegah Amerika Serikat menyerang Iran. Sejauh ini, pencegahan itu berhasil. Meski demikian, kapal perang hingga jet tempur dan pesawat pengebom AS terus mendekati Iran.
Pencegahan itu, antara lain, dibedah dua media AS. Dalam laporan pada Sabtu (17/1/2026) sore waktu Washington atau Minggu pagi WIB, The Washington Post mengulasnya. Sementara The Wall Street Journal mengulas lewat laporan pada Jumat.
Arab Saudi, Oman, Mesir, dan Qatar bekeria keras mencegah serangan itu terjadi. Peneliti senior pada Washington Institute of Near East Policy, David Makovsky, menyebut niat Arab dan Israel berbeda. Arab benar-benar tak mau ada serangan.
Sementara Israel cuma meminta penundaan. Israel mau memastikan AS punya aset cukup di kawasan untuk bisa melancarkan serangan besar.
Negara-negara Arab khawatir, mereka akan kewalahan pada pembalasan itu. Apalagi kala Trump membahas rencana serangan ke Iran, aset militer AS di Timur Tengah dan sekitarnya terbatas. Tak ada kapal induk AS di Teluk Persia, Laut Arab, hingga Laut Tengah.
Netanyahu juga menelepon Trump pada Rabu. la mendesak AS menunda serangan ke Iran. Sebab, Israel takut jadi sasaran rudal dan pesawat nirawak Iran seperti pada Juni 2025.
Waktu itu Israel sudah dibentengi kapal perang dan pertahanan udara AS-Jordania. Walakin, tetap saja rudal dan pesawat nirawak Iran meledakkan berbagai lokasi di Israel.
Pusat pengolahan data intelijen dan kendali operasi militer Israel dihantam rudal-rudal Iran. Oleh karena itu, Netanyahu mendesak Trump menunda serangan sampai AS punya aset militer memadai di kawasan. Israel, kata Netanyahu kepada Trump, tidak siap menghadapi pembalasan Iran sendirian.
Peran Israel dalam kesepakatan AS-Iran selama ini
Trump dan Netanyahu kembali bertemu keenam kalinya sejak ia menjabat di kediaman Trump Mar-a-Lago, Florida, AS, Senin, 29 Desember 2025. Sebagaimana pertemuan-pertemuan terdahulu, isu kawasan Timur Tengah dan perkara dukungan AS untuk lsrael menjadi topik utama.
Dalam pertemuan kali ini, bumbu utama yang meramu pembicaraan mereka adalah ancaman untuk Iran dan Hamas, seteru Israel di kawasan.
Terkait isu Iran, komentar Trump mengenai negeri itu tampaknya atas permintaan Netanyahu. Selama beberapa bulan terakhir Israel sering mengutarakan kekhawatirannya terhadap Iran yang sedang membangun kembali kemampuan rudal balistik mereka.
Trump berkomentar, Iran ”mungkin berperilaku buruk” dan sedang mempertimbangkan situs nuklir baru untuk menggantikan situs yang menjadi sasaran serangan AS serta memulihkan kekuatan rudalnya.
Iran berada dalam kewaspadaan tinggi menyusul ancaman serangan Amerika Serikat. Perundingan Iran dengan AS terus berjalan untuk meredakan ketegangan meski kedua pihak saling mengancam.
Kantor berita AFP, Minggu (1/2/2026), mengutip Ketua Dewan Keamanan Nasiona Iran Ali Larijani, yang menyatakan ada kemajuan dalam perundingan dengan AS.
Meski demikian, ia memperingatkan AS untuk tidak melancarkan serangan militer ke Iran. ”Tak seperti yang digembar-gemborkan media, pengaturan struktur untuk negosiasi sedang berjalan,” katanya.
Meski pembicaraan berlangsung, Trump menambahkan, AS tetap mempertimbangkan ancaman serangan ke Iran. Washington sudah mengerahkan kelompok amada laut penyerang yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah. Saat ini kapal induk tersebut sudah berada di lepas pantai Iran.
Kehadiran armada perang tersebut sudah meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya konfrontasi langsung AS dengan Iran. Kepala Angkatan Darat Iran Amir Hatami memperingatkan AS dan Israel untuk tidak menyerang Iran.
Jika terjadi serangan, menurut Hatami, Teheran akan membalas dengan serangan rudal terhadap pangkalan, kapal, dan sekutu AS, terutama Israel. ”Pasukan (Iran) dalam kesiapan defensif dan militer penuh,” kata Hatami.
”Jika musuh melakukan kesalahan, tanpa diragukan itu akan membahayakan keamanan mereka sendiri, keamanan kawasan, dan keamanan rezim zionis,” kata Hatami, seperti dilaporkan oleh kantor berita resmi IRNA.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Sabtu, mengatakan, konflik yang lebih luas akan merugikan Iran dan AS. ”Republik Islam Iran tidak pernah menginginkan dan sama sekali tidak menginginkan perang dan sangat yakin perang tidak akan menguntungkan Iran, Amerika Serikat, ataupun kawasan ini,” kata Pezeshkian dalam percakapan telepon dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi.