Pertemuan Trump-Netanyahu Penuh Ancaman untuk Iran dan Hamas

Duo ”bestie” ketemu lagi untuk keenam kalinya. Kali ini, Trump sebar ancaman kepada Iran dan Hamas sekaligus memuji Netanyahu yang memberinya penghargaan khusus.

30 Des 2025 11:00 WIB · Internasional

Getty Images via AFP

Oleh Luki Aulia

PALM BEACH, SENIN — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali bertemu. Pertemuan kali ini merupakan pertemuan mereka keenam sejak Trump menjabat lagi 11 bulan lalu.

Sebagaimana pertemuan-pertemuan terdahulu, isu kawasan Timur Tengah dan perkara dukungan AS untuk Israel menjadi topik utama. Dalam pertemuan kali ini, ”bumbu” utama yang meramu pembicaraan mereka adalah ancaman untuk Iran dan Hamas, seteru Israel di kawasan.

Trump sesumbar akan menghancurkan setiap upaya Iran membangun kembali program nuklir atau persenjataan rudal balistiknya. Hamas juga diancam akan ”menanggung akibatnya” jika tidak segera melucuti persenjataannya di Gaza. Masalahnya, Hamas tetap tidak mau menyerahkan senjata mereka.

Dalam konferensi pers Trump-Netanyahu di kediaman Trump Mar-a-Lago, Florida, AS, Senin (29/12/2025), Trump dan Netanyahu saling memuji. Bagi Trump, Israel sudah memenuhi komitmen gencatan senjata Gaza dan kini ”bolanya” ada pada Hamas.

Sementara itu, Netanyahu menilai pertemuan keduanya produktif. Bahkan, pada kesempatan itu Israel menganugerahkan Trump penghargaan sipil tertinggi. Ini untuk pertama kalinya penghargaan itu diberikan kepada warga negara non-Israel.

PALM BEACH, FLORIDA - DECEMBER 29: U.S. President Donald Trump (R) hosts Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu at his Mar-a-Lago club on December 29, 2025 in Palm Beach, Florida. The two leaders are scheduled to hold a bilateral meeting to discuss regional security in the Middle East as well as the U.S.-Israel partnership.   Joe Raedle/Getty Images/AFP (Photo by JOE RAEDLE / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Menyambut baik penghargaan itu, Trump yang menyebut dirinya sebagai ”presiden perdamaian” itu ingin melanjutkan gencatan senjata tahap berikutnya. Ambisinya adalah menghasilkan pemerintahan teknokrat Palestina dan pengerahan pasukan stabilisasi internasional.

Fase pertama gencatan senjata dimulai pada Oktober 2025. Hampir semua dari 251 sandera sudah dibebaskan, hidup atau mati. Tersisa satu sandera tewas masih berada di Gaza. Jenazah warga Israel bernama Ran Gvili itu belum dikembalikan oleh Hamas.

Orangtua Gvili sudah bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Utusan AS Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner. Netanyahu sudah memberi sinyal ia tidak terburu-buru untuk melanjutkan tahapan berikutnya selama jenazah masih berada di Gaza.

Rumit

Selain perkara sandera dan perlucutan senjata, jalan untuk menerapkan rencana perdamaian Trump rumit. Jika berhasil, tahapan kedua gencatan senjata akan dimulai dengan pembangunan kembali Gaza yang didemiliterisasi di bawah pengawasan internasional.

Kelompok pengawas yang disebut dengan Dewan Perdamaian itu nantinya akan dipimpin oleh Trump. Seiring itu, Otoritas Palestina akan membentuk komite ”teknokratis, apolitis” untuk menjalankan operasional pemerintahan di Gaza di bawah pengawasan Dewan Perdamaian.

Rencana selanjutnya adalah menyerukan normalisasi hubungan antara Israel dan dunia Arab serta kemungkinan jalan menuju kemerdekaan Palestina. Yang masih menjadi tantangan adalah bagaimana membangun kembali Gaza yang hancur akibat perang, melucuti senjata Hamas, dan menciptakan Pasukan Stabilisasi Internasional.

Tentara Israel berjaga di pintu masuk terowongan di Rafah, Jalur Gaza, Senin (812/2025).

Selain dua tantangan utama yang telah mempersulit peralihan ke tahap kedua, Israel dilaporkan butuh banyak waktu untuk menyeleksi dan menyetujui anggota komite teknokrat Palestina. Sejumlah nama telah disodorkan oleh para mediator.

Terkait pasukan stabilisasi internasional, seorang diplomat Barat mengatakan, ada perbedaan yang besar antara pemahaman AS dan Israel tentang mandat pasukan tersebut. Negara-negara besar lainnya di kawasan itu dan pemerintah Eropa juga memiliki pemahaman yang berbeda.

AS dan Israel menginginkan pasukan tersebut punya peran komando dalam tugas-tugas keamanan, termasuk melucuti senjata Hamas dan kelompok bersenjata lainnya. Namun, negara-negara yang dibujuk untuk menyumbangkan pasukan justru merasa khawatir mandat tersebut akan menjadikan pasukan stabilisasi internasional itu menjadi ”pasukan pendudukan”.

Sementara itu, Hamas sudah siap membahas ”pembekuan atau penyimpanan” persenjataan. Namun, mereka bersikeras, mereka punya hak untuk melakukan perlawanan bersenjata selama Israel menduduki wilayah Palestina. Rencana yang mungkin akan dilakukan adalah menawarkan insentif uang tunai sebagai imbalan atas senjata. Seperti usulan Witkoff tentang program pembelian kembali senjata.

Beda pendapat di Tepi Barat

Terkait isu Iran, komentar Trump mengenai negeri itu tampaknya atas permintaan Netanyahu. Selama beberapa bulan terakhir Israel sering mengutarakan kekhawatirannya pada Iran yang sedang membangun kembali kemampuan rudal balistik mereka. Trump berkomentar, Iran ”mungkin berperilaku buruk” dan sedang mempertimbangkan situs nuklir baru untuk menggantikan situs yang menjadi sasaran serangan AS serta memulihkan kekuatan rudalnya.

Seorang jamaah muslim Palestina melintasi pos pemeriksaan tentara Israel di Qalandia di Tepi Barat, 7 Maret 2025. AFP/Jaafar Ashtiyeh

Meski mengancam, Trump mengaku masih percaya Iran tetap tertarik pada kesepakatan dengan AS tentang program nuklir dan rudal Teheran. Iran membantah mereka sedang mengembangkan senjata nuklir. Namun, jika mereka diserang lagi, mereka akan membela diri dan konsekuensinya akan lebih berat bagi Israel.

Meski sepakat pada banyak hal, Trump mengaku ia dan Netanyahu tidak sepenuhnya sepakat tentang masalah Tepi Barat yang diduduki Israel. Namun, tidak disebutkan apa perbedaan pendapat antara Trump dan Netanyahu. Israel berada di bawah tekanan internasional untuk mengekang serangan para pemukim terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Sebagai rumah bagi 2,7 juta warga Palestina, Tepi Barat sudah lama menjadi pusat rencana untuk negara Palestina di masa depan bersama Israel.

Perserikatan Bangsa-Bangsa, Palestina, dan sebagian besar negara menganggap permukiman Israel itu ilegal menurut hukum internasional. Namun, ini dibantah Israel. Alasannya, ada ikatan alkitabiah Israel dengan tanah tersebut dan kekhawatiran keamanan. Ada sekitar setengah juta pemukim Israel yang tinggal di Tepi Barat. Pengadilan tertinggi PBB tahun lalu sudah menyatakan pendudukan Israel atas wilayah Palestina dan permukiman di sana ilegal dan harus dibongkar.

Selain Iran dan Hamas, Trump-Netanyahu juga membahas isu ketegangan regional lainnya, termasuk Turki, Suriah, dan gerakan Hezbollah di Lebanon. Netanyahu mengatakan, Israel sangat ingin memastikan perbatasan yang damai dengan Suriah dan Trump yakin Israel akan akur dengan Presiden Ahmed al-Sharaa. Hanya saja, Israel mencurigai Al-Sharaa yang pernah menjadi anggota Al Qaeda bahkan sampai mengebom gedung-gedung pemerintah di Damaskus, Juli lalu.

Penghargaan untuk Trump

Netanyahu memberi tahu Trump bahwa Kementerian Pendidikan Israel menganugerahi Penghargaan Israel kepada Trump. Penganugerahan penghargaan itu dinilai melanggar konvensi lama yang menyebutkan bahwa penghargaan itu hanya diberikan kepada warga negara atau penduduk Israel. Kategorinya pun khusus, yakni kategori ”kontribusi khusus kepada bangsa Yahudi”.

Satu-satunya warga non-Israel lain yang sudah menerima penghargaan versi ini adalah konduktor India, Zubin Mehta, pada 1991. Pelanggaran pada konvensi lama ini dianggap tidak masalah bagi Netanyahu karena, menurut Netanyahu, Trump juga sudah melanggar begitu banyak konvensi yang mengejutkan banyak orang. Jadi, Netanyahu mengatakan, Israel juga memutuskan untuk melanggar konvensi atau menciptakan konvensi baru.

”Mereka menghargai apa yang telah Anda lakukan untuk membantu Israel dan membantu perjuangan bersama kita melawan teroris dan semua yang ingin menghancurkan peradaban kita. Jadi, sekali lagi, itu adalah ungkapan terima kasih dan penghargaan,” kata Netanyahu kepada Trump.

Trump senang menerima penghargaan itu dan akan ke Israel untuk upacara penganugerahan yang biasanya diadakan pada malam Hari Kemerdekaan Israel. Sebelum penghargaan dari Israel ini, Trump baru-baru ini juga menerima penghargaan Hadiah Perdamaian FIFA.

Sebagai bentuk dukungan lain bagi Netanyahu, Trump kembali meminta Presiden Israel Isaac Herzog untuk memberikan pengampunan kepada Netanyahu yang sedang menjalani persidangan kasus korupsi. Netanyahu menjadi satu-satunya PM yang masih menjabat yang diadili.

Pengunjuk rasa Israel menyuarakan aspirasi mereka melalui poster dan topeng menyerupai PM Benjamin Netantahu saat berlangsung demonstrasi antipemerintah di luar Bandara Ben Gurion dekat Tel Aviv, Israel, Minggu (13/9/2020). Mereka menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas beberapa dakwaan korupsi dan penanganannya terhadap krisis virus corona, saat dia bersiap untuk melakukan perjalanan ke AS. Uni Emirat Arab dan Bahrain akan menandatangani perjanjian untuk mengakui Israel, pada 15 September. Sementara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan menandatangani perjanjian Abraham (rujukan pada tradisi umum Islam, Yahudi, dan Kristen) pada sebuah seremoni Gedung Putih. AFP/Jack Guez13-09-2020Israeli protesters gather during an anti-government demonstration outside the Ben Gurion Airport near Tel Aviv on September 13, 2020, demanding the resignation of Prime Minister Benjamin Netanyahu over several corruption indictments and his handling of the coronavirus crisis, as he prepares to travel to the US. - The UAE and Bahrain will sign agreements to recognise Israel on September 15.US President Donald Trump and Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu are to sign the Abraham accords -- a reference to the common traditions of Islam, Judaism and Christianity -- at a White House ceremony. (Photo by JACK GUEZ / AFP)

Netanyahu didakwa dengan penipuan, pelanggaran kepercayaan, dan menerima suap dalam tiga kasus terpisah yang menuduhnya bertukar bantuan dengan pendukung politik yang kaya. Sebelumnya, Trump sudah menulis surat kepada Herzog untuk mendesak pengampunan dan mengadvokasi hal itu saat berpidato di parlemen Israel pada Oktober lalu.

”Dia (Netanyahu) adalah perdana menteri masa perang yang merupakan pahlawan. Bagaimana mungkin Anda tidak memberikan pengampunan?” kata Trump.

Kantor kepresidenan Israel menyebutkan, Herzog dan Trump belum berbicara sejak permintaan pengampunan diajukan. Namun, Herzog sudah berbicara dengan perwakilan Trump untuk membahas surat Trump. ”Selama percakapan itu sudah dijelaskan mengenai tahap prosesnya dan setiap keputusan mengenai masalah ini akan dibuat sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan,” sebut Kantor Presiden Israel. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan