Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
1. Bagaimana kronologi serangan KKB di Yahukimo yang menyasar guru dan tenaga kesehatan?
2. Apa tindakan aparat keamanan setelah serangan tersebut?
3. Bagaimana upaya pemerintah dan aparat meningkatkan keamanan di Papua?
4. Mengapa serangan KKB yang menyasar guru dan nakes terus berulang?
Bagaimana kronologi serangan KKB di Yahukimo yang menyasar guru dan tenaga kesehatan?
Kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua kembali menebar teror kepada masyarakat. Dalam kasus terbaru, sejumlah anggota KKB menyerang warga yang bekerja sebagai guru dan tenaga kesehatan (nakes) di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Jumat (21/3/2025).
Komplotan yang juga disebut sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM) itu pun membakar rumah dan sekolah. Akibat serangan itu, satu orang korban bernama Rosalina Rerek Sogen meninggal. Rosalina yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan guru di sekolah dasar setempat.
Sementara itu, terdapat tujuh korban lain yang terluka, terdiri dari tiga orang terluka berat dan empat lainnya mengalami luka ringan. Berdasarkan informasi yang diterima Kompas, lima dari tujuh korban luka itu berasal dari NTT. Satu korban lain berasal dari Sorong, Papua Barat Daya, sedangkan satu orang berasal dari Yahukimo.
Enam dari tujuh korban itu merupakan guru, yaitu Doinisiar Taroci More, Paskalia Peni Tere Liman, Fidelis De Lena, Kosmas Paga, Vantiana Kambu, dan Penus Lepi. Adapun satu korban lain, yakni Irawati Nebobohan, bekerja sebagai nakes.
Apa tindakan aparat keamanan setelah serangan tersebut?
Setelah serangan itu terjadi, aparat gabungan TNI-Polri telah mengevakuasi jenazah Rosalina Rerek Sogen dan para korban luka ke Rumah Sakit Marthen Indey, Jayapura, Papua. Proses evakuasi dilakukan pada Minggu (23/3/2025) sore.
Selain mengevakuasi korban, aparat keamanan juga mengejar para anggota KKB yang menyerang warga serta membakar rumah dan sekolah. Aparat juga menyalurkan bantuan kepada warga lain terdampak serangan tersebut.
Tindakan KKB yang membakar rumah dan sekolah serta menyerang warga itu dinilai sebagai bentuk teror kepada masyarakat. ”KKB berusaha menciptakan ketakutan dan menghambat pembangunan, terutama di sektor pendidikan,” kata Kepala Operasi Damai Cartenz Brigadir Jenderal (Pol) Faizal Ramadhani.
Sesudah terjadinya serangan itu, puluhan guru dan tenaga kesehatan di beberapa distrik pedalaman Yahukimo, seperti Hereapini, Kosarek, Ubalihi, Nisikni, Walma, dan Kabianggama, meminta untuk diungsikan. Mereka kemudian dievakuasi ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
”Sejak Sabtu (22/3/2025), sebanyak 58 guru dan nakes, empat anak-anak dan satu warga sipil telah diungsikan menggunakan pesawat Adventist Aviation melalui Bandara Wamena,” ucap Candra.
Bagaimana upaya pemerintah dan aparat meningkatkan keamanan di Papua?
Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai menyatakan, para korban serangan KKB di Yahukimo itu akan ditangani dengan baik. Pigai pun mengaku telah berkoordinasi dengan otoritas di Papua Pegunungan serta NTT karena sebagian besar korban berasal dari NTT.
”Saya sudah berkomunikasi langsung dengan Gubernur NTT Melki Laka Lena serta otoritas di daerah Papua Pegunungan untuk memastikan penanganan para korban pascakejadian, termasuk yang korban luka agar tertangani dengan maksimal,” kata Pigai melalui siaran pers, Minggu (23/3/2025).
Pigai juga menyebut, pemerintah bakal berupaya lebih keras lagi untuk melindungi masyarakat sipil, terutama warga yang tinggal di daerah-daerah rawan kekerasan seperti Yahukimo. Sejumlah upaya juga akan dilakukan agar peristiwa serupa tidak terulang.
Panglima Komando Operasi (Pangkoops) Habema Mayor Jenderal Lucky Avianto menyatakan, aparat keamanan siap menjaga keamanan di wilayah tersebut. Lucky menyebut, Satgas Habema hadir di Papua sebagai bagian dari upaya negara untuk memastikan setiap warga negara, termasuk tenaga pendidik dan nakes, dapat hidup dan bekerja dengan aman.
”Kami telah mengerahkan personel untuk mengevakuasi jenazah korban, serta mengamankan lokasi agar situasi tetap terkendali,” kata Lucky.
Selain mengejar para pelaku penyerangan di Yahukimo, aparat pun meningkatkan patroli di daerah-daerah rawan untuk mencegah teror KKB terulang. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada. Jika melihat hal-hal yang mencurigakan, warga diharapkan segera melapor kepada aparat.
Mengapa serangan KKB yang menyasar guru dan nakes terus berulang?
Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, menyatakan, pembakaran dan serangan di Yahukimo memang dilakukan oleh kelompoknya. Menurut Sebby, operasi itu dilakukan oleh kelompok di bawah Elkius Kobak, pimpinan TPNPB-OPM wilayah Yahukimo.
Sebby berdalih, para guru dan nakes yang diserang itu merupakan agen intelijen militer Indonesia. Alasan semacam ini sering digunakan oleh KKB saat menyerang guru, nakes, atau warga sipil pendatang di pedalaman Papua.
Beberapa tahun terakhir, teror kepada tenaga pendidik dan nakes terus berulang di Papua. Pada Oktober 2023, misalnya, KKB menyerang lima nakes di Puskesmas Distrik Amuma, Yahukimo, yang sedang mengalami bencana kelaparan. Para nakes itu mengalami kekerasan fisik.
Pada April 2021, KKB menyerang seorang guru SD di Kampung Julukoma, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Guru bernama Oktovianus Rayo itu tewas akibat terkena dua tembakan. Sehari sesudah peristiwa itu, KKB menembak mati Yonatan Renden yang juga guru di Distrik Beoga.
Pada Mei 2020, dua nakes menjadi korban penembakan KKB di Distrik Wandai, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Satu korban tewas dan satu lainnya luka berat. Dua nakes itu ditembak saat hendak mengantar obat-obatan untuk menangani penyebaran Covid-19.
Pada September 2021, aparat mengevakuasi dua perawat korban serangan KKB di dasar jurang Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan. Satu orang perawat meninggal, sedangkan satu lainnya terluka berat.
Selain menyerang guru dan nakes, KKB juga beberapa kali membakar puskesmas dan sekolah. Berdasarkan catatan Kompas, sejak tahun 2020, setidaknya ada 21 sekolah, mulai dari SD, SMP, hingga SMA, yang dibakar.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
1. Bagaimana kronologi serangan KKB di Yahukimo yang menyasar guru dan tenaga kesehatan?
2. Apa tindakan aparat keamanan setelah serangan tersebut?
3. Bagaimana upaya pemerintah dan aparat meningkatkan keamanan di Papua?
4. Mengapa serangan KKB yang menyasar guru dan nakes terus berulang?
Bagaimana kronologi serangan KKB di Yahukimo yang menyasar guru dan tenaga kesehatan?
Kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua kembali menebar teror kepada masyarakat. Dalam kasus terbaru, sejumlah anggota KKB menyerang warga yang bekerja sebagai guru dan tenaga kesehatan (nakes) di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Jumat (21/3/2025).
Komplotan yang juga disebut sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM) itu pun membakar rumah dan sekolah. Akibat serangan itu, satu orang korban bernama Rosalina Rerek Sogen meninggal. Rosalina yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan guru di sekolah dasar setempat.
Sementara itu, terdapat tujuh korban lain yang terluka, terdiri dari tiga orang terluka berat dan empat lainnya mengalami luka ringan. Berdasarkan informasi yang diterima Kompas, lima dari tujuh korban luka itu berasal dari NTT. Satu korban lain berasal dari Sorong, Papua Barat Daya, sedangkan satu orang berasal dari Yahukimo.
Enam dari tujuh korban itu merupakan guru, yaitu Doinisiar Taroci More, Paskalia Peni Tere Liman, Fidelis De Lena, Kosmas Paga, Vantiana Kambu, dan Penus Lepi. Adapun satu korban lain, yakni Irawati Nebobohan, bekerja sebagai nakes.
Apa tindakan aparat keamanan setelah serangan tersebut?
Setelah serangan itu terjadi, aparat gabungan TNI-Polri telah mengevakuasi jenazah Rosalina Rerek Sogen dan para korban luka ke Rumah Sakit Marthen Indey, Jayapura, Papua. Proses evakuasi dilakukan pada Minggu (23/3/2025) sore.
Selain mengevakuasi korban, aparat keamanan juga mengejar para anggota KKB yang menyerang warga serta membakar rumah dan sekolah. Aparat juga menyalurkan bantuan kepada warga lain terdampak serangan tersebut.
Tindakan KKB yang membakar rumah dan sekolah serta menyerang warga itu dinilai sebagai bentuk teror kepada masyarakat. ”KKB berusaha menciptakan ketakutan dan menghambat pembangunan, terutama di sektor pendidikan,” kata Kepala Operasi Damai Cartenz Brigadir Jenderal (Pol) Faizal Ramadhani.
Sesudah terjadinya serangan itu, puluhan guru dan tenaga kesehatan di beberapa distrik pedalaman Yahukimo, seperti Hereapini, Kosarek, Ubalihi, Nisikni, Walma, dan Kabianggama, meminta untuk diungsikan. Mereka kemudian dievakuasi ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
”Sejak Sabtu (22/3/2025), sebanyak 58 guru dan nakes, empat anak-anak dan satu warga sipil telah diungsikan menggunakan pesawat Adventist Aviation melalui Bandara Wamena,” ucap Candra.
Bagaimana upaya pemerintah dan aparat meningkatkan keamanan di Papua?
Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai menyatakan, para korban serangan KKB di Yahukimo itu akan ditangani dengan baik. Pigai pun mengaku telah berkoordinasi dengan otoritas di Papua Pegunungan serta NTT karena sebagian besar korban berasal dari NTT.
”Saya sudah berkomunikasi langsung dengan Gubernur NTT Melki Laka Lena serta otoritas di daerah Papua Pegunungan untuk memastikan penanganan para korban pascakejadian, termasuk yang korban luka agar tertangani dengan maksimal,” kata Pigai melalui siaran pers, Minggu (23/3/2025).
Pigai juga menyebut, pemerintah bakal berupaya lebih keras lagi untuk melindungi masyarakat sipil, terutama warga yang tinggal di daerah-daerah rawan kekerasan seperti Yahukimo. Sejumlah upaya juga akan dilakukan agar peristiwa serupa tidak terulang.
Panglima Komando Operasi (Pangkoops) Habema Mayor Jenderal Lucky Avianto menyatakan, aparat keamanan siap menjaga keamanan di wilayah tersebut. Lucky menyebut, Satgas Habema hadir di Papua sebagai bagian dari upaya negara untuk memastikan setiap warga negara, termasuk tenaga pendidik dan nakes, dapat hidup dan bekerja dengan aman.
”Kami telah mengerahkan personel untuk mengevakuasi jenazah korban, serta mengamankan lokasi agar situasi tetap terkendali,” kata Lucky.
Selain mengejar para pelaku penyerangan di Yahukimo, aparat pun meningkatkan patroli di daerah-daerah rawan untuk mencegah teror KKB terulang. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada. Jika melihat hal-hal yang mencurigakan, warga diharapkan segera melapor kepada aparat.
Mengapa serangan KKB yang menyasar guru dan nakes terus berulang?
Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, menyatakan, pembakaran dan serangan di Yahukimo memang dilakukan oleh kelompoknya. Menurut Sebby, operasi itu dilakukan oleh kelompok di bawah Elkius Kobak, pimpinan TPNPB-OPM wilayah Yahukimo.
Sebby berdalih, para guru dan nakes yang diserang itu merupakan agen intelijen militer Indonesia. Alasan semacam ini sering digunakan oleh KKB saat menyerang guru, nakes, atau warga sipil pendatang di pedalaman Papua.
Beberapa tahun terakhir, teror kepada tenaga pendidik dan nakes terus berulang di Papua. Pada Oktober 2023, misalnya, KKB menyerang lima nakes di Puskesmas Distrik Amuma, Yahukimo, yang sedang mengalami bencana kelaparan. Para nakes itu mengalami kekerasan fisik.
Pada April 2021, KKB menyerang seorang guru SD di Kampung Julukoma, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Guru bernama Oktovianus Rayo itu tewas akibat terkena dua tembakan. Sehari sesudah peristiwa itu, KKB menembak mati Yonatan Renden yang juga guru di Distrik Beoga.
Pada Mei 2020, dua nakes menjadi korban penembakan KKB di Distrik Wandai, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Satu korban tewas dan satu lainnya luka berat. Dua nakes itu ditembak saat hendak mengantar obat-obatan untuk menangani penyebaran Covid-19.
Pada September 2021, aparat mengevakuasi dua perawat korban serangan KKB di dasar jurang Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan. Satu orang perawat meninggal, sedangkan satu lainnya terluka berat.
Selain menyerang guru dan nakes, KKB juga beberapa kali membakar puskesmas dan sekolah. Berdasarkan catatan Kompas, sejak tahun 2020, setidaknya ada 21 sekolah, mulai dari SD, SMP, hingga SMA, yang dibakar.