Kengerian yang Tak Terkatakan di Hiroshima dan Nagasaki

Peringatan 80 tahun ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang.

06 Agt 2025 07:01 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Sebuah foto yang diperoleh Arsip Nasional Amerika Serikat tertanggal 6 Agustus 1945 memperlihatkan asap membubung setinggi 20.000 kaki di atas kota Hiroshima, Jepang. Asap itu berasal dari bom atom yang dijatuhkan pilot Kolonel Paul W Tibbets. Asap pertama setinggi 10.000 kaki telah menyebar di atas kota Hiroshima.

Bom atom ini memorak-porandakan kota yang padat penduduk di Jepang. Hari itu, lebih dari 140.000 penduduk Hiroshima tewas. Tiga hari kemudian, pada 9 Agustus 1945, bom atom kembali dijatuhkan di atas kota Nagasaki. Seperti halnya di Hiroshima, Nagasaki juga porak-poranda dan menewaskan 74.000 penduduknya. Dua kejadian ini menjadi pukulan telak kepada kekaisaran Jepang yang akhirnya menyerah pada 15 Agustus 1945 dan mengakhiri Perang Dunia II. 

Foto kombinasi dari dua foto yang menunjukkan pemandangan kota Hiroshima sebelum (liri) dan setelah (kanan) bom atom pertama dijatuhkan oleh pesawat B-29 Angkatan Udara AS di kota pada 6 Agustus 1945. Pengeboman nuklir AS di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 menewaskan sekitar 140.000 orang. I

Sebuah bangunan yang dulunya adalah Balai Promosi Industri Prefektur Hiroshima karya arsitek Ceko Jan Letzl yang selesai dibangun pada tahun 1915 menjadi tanda kejadian ini. Bangunan yang semula dikelilingi permukiman dan perkantoran yang padat masih berdiri kokoh meski hanya menyisakan tembok. 

Kini, bangunan ini menjadi saksi penting kehancuran akibat bom atom dan menjadi simbol perdamaian dunia dan terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO ditahun 1996.

Berkas foto Angkatan Udara AS ini menunjukkan pengebom B-29 ”Enola Gay” dengan pilot Kolonel Paul W Tibbets mendarat di landasan pacu di Tinian di Kepulauan Mariana, 6 Agustus 1945, setelah menjatuhkan bom atom di Hiroshima, Jepang.
Foto yang diperoleh dari Angkatan Udara AS tertanggal 10 Agustus 1945 ini menunjukkan awak pembom B-29 "Enola Gay" termasuk pilot Paul W. Tibbets (tengah).
Dalam foto file 6 Agustus 1945 ini, asap membumbung  20.000 kaki di atas Hiroshima, Jepang, setelah bom atom dijatuhkan dalam perang. Hiroshima menjadi sasaran karena merupakan pusat militer utama Jepang yang dipenuhi dengan pangkalan militer dan fasilitas amunisi.
Foto Arsip Nasional AS yang diambil pada 6 Agustus 1945 menunjukkan asap mengepul setinggi 20.000 kaki di atas Hiroshima sementara asap dari ledakan bom atom pertama telah menyebar lebih dari 10.000 kaki.

Jepang hari-hari ini akan mengenang kembali peristiwa pahit 80 tahun lalu. sebanyak 214.000 penduduknya harus kehilangan nyawa hanya dalam waktu 4 hari pada pengeboman di dua tempat yang berbeda. 

Bom pertama dijatuhkan di Hiroshima oleh pesawat B2 Amerika Serikat yang bernama Enola Gay oleh pilot Kol Paul W Tibbets. Enola Gay adalah nama ibu sang pilot. Bom yang dijatuhkan meledak di udara, 600 meter dari permukaan tanah dengan kekuatan setara 15.000 ton trinitrotoluena  (TNT). 

Kota Hiroshima hancur lebur dan puluhan ribu orang meninggal seketika, sementara yang lain meninggal karena cedera atau penyakit dalam beberapa minggu, bulan, dan tahun berikutnya. Serangan ini adalah kali pertama atom digunakan dalam perang. 

Dalam foto 8 September 1945 ini, dua orang berjalan di daerah yang dulunya adalah kota Hiroshima yang kemudian hancur karena bom atom AS.

Saat ledakan terdengar, muncul bola api raksasa di atas kota. Suhu di dekat ledakan diperkirakan mencapai 7.000 derajat celsius, yang membakar semua yang ada dalam radius sekitar 3 kilometer.

”Saya ingat tubuh anak-anak kecil yang hangus tergeletak di sekitar area hiposentrum seperti batu hitam,” kata Koichi Wada, seorang saksi mata yang berusia 18 tahun saat serangan Nagasaki, ketika mengenang pengeboman Hiroshima.

Pusaran panas yang dihasilkan juga memicu ribuan kebakaran yang menghanguskan sebagian besar kota yang bangunannya terbuat dari kayu. Badai api menghabiskan semua oksigen yang tersedia hingga menyebabkan lebih banyak kematian akibat sesak napas. Diperkirakan korban jiwa akibat kebakaran dan luka bakar menyumbang lebih dari separuh kematian langsung di Hiroshima.

Foto arsip tahun 1945 ini menunjukkan kehancuran kota setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima, Jepang.
Dalam foto 7 September 1945 ini, seorang pria tak dikenal berdiri di samping perapian berubin di mana sebuah rumah pernah berdiri di Hiroshima, Jepang barat. Pengeboman 6 Agustus 1945 adalah serangan nuklir pertama di dunia. Karena pengeboman itu, tercatat hingga 31 Desember 1945 diperkirakan 140.000 orang tewas. Itu adalah 40% dari populasi Hiroshima yang berjumlah 350.000 sebelum serangan itu.
Dalam foto 6 Agustus 1945 yang dirilis oleh tentara As, awan jamur bergelombang terlihat sekitar satu jam bom nuklir diledakkan di atas Hiroshima, Jepang.
Foto 5 September 1945, kerangka Gereja Katolik, dan bangunan yang tidak dikenal, adalah semua yang tersisa di area pusat ledakan setelah bom atom Hiroshima, Jepang.
Foto 1 September 1945, sisa-sisa Gedung Promosi Industri Prefektur setelah pemboman Hiroshima. Gedung ini kemudian dilestarikan sebagai monumen.

Ledakan itu menghasilkan gelombang kejut dahsyat yang mengempaskan orang-orang ke udara. Yang lainnya terimpit hingga tewas di dalam gedung yang runtuh, terluka, atau tewas tertimpa puing-puing yang beterbangan.

Penyakit radiasi dilaporkan dialami oleh banyak warga yang selamat dari ledakan dan badai api. Gejala akut meliputi muntah-muntah, sakit kepala, mual, diare, pendarahan dan rambut rontok dirasakan pada waktu kejadian. Adapun penyakit radiasi berakibat fatal bagi banyak orang dalam beberapa minggu atau bulan.

Para penyintas, yang dikenal sebagai hibakusha, juga mengalami efek jangka panjang, termasuk meningkatnya risiko kanker tiroid dan leukemia. Baik Hiroshima maupun Nagasaki mengalami peningkatan angka kanker. Dari 50.000 korban radiasi dari kedua kota yang diteliti oleh Yayasan Penelitian Efek Radiasi Jepang-AS, sekitar 100 meninggal karena leukemia dan 850 orang menderita kanker akibat radiasi.

Para penyintas telah menjadi suara-suara paling lantang dan kuat yang menentang senjata nuklir, termasuk saat bertemu dengan para pemimpin dunia. Tahun lalu, kelompok antinuklir Jepang, Nihon Hidankyo, gerakan akar rumput hibakusha, memenangi Hadiah Nobel Perdamaian.

Pada tahun 2019, Paus Fransiskus bertemu dengan beberapa hibakusha di Hiroshima dan Nagasaki, mengecam ”kengerian yang tak terkatakan” dan menyerukan penghapusan senjata nuklir.

Pada 27 Mei 2016, Presiden Amerika Serikat Barack Obama memeluk Shigeaki Mori, seorang penyintas bom atom dan pencipta peringatan untuk tawanan perang Perang Dunia II Amerika yang terbunuh di Hiroshima, dalam upacara di Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima di Hiroshima, Jepang. Presiden Barack Obama mengambil risiko kritik di dalam negeri ketika dia memutuskan untuk mengunjungi peringatan bagi 140.000 orang yang tewas dalam pemboman atom di kota Hiroshima Jepang saat Perang Dunia II.

Pada tahun 2016, Barack Obama menjadi presiden AS yang pertama kali mengunjungi Hiroshima. Ia tidak menyampaikan permintaan maaf atas serangan itu, tetapi merangkul para penyintas dan menyerukan dunia yang bebas dari senjata nuklir.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan