Kepala Badan Bantuan untuk Gaza Bentukan AS Pilih Mundur

Pemimpin lembaga bantuan yang dibekingi Israel-AS mundur karena rasa kemanusiaannya terusik. Di sisi lain, warga sipil di Gaza terus dihujani serangan Israel.

26 Mei 2025 19:00 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

GAZA, SENIN — Jake Wood, Direktur Eksekutif Gaza Humanitarian Foundation (GHF), yang dibentuk Israel dan Amerika Serikat, memutuskan mundur dari lembaga itu, Minggu (25/5/2025) waktu setempat. Hal ini tak terduga karena keputusan itu diambil Wood hanya sehari sebelum GHF direncanakan mulai beroperasi pada Senin.

Wood menyebut, alasan pengunduran dirinya ialah dia tidak bisa mengabaikan prinsip-prinsip kemanusiaan, independensi, dan kemerdekaan saat melaksanakan kerja kemanusiaannya.

Sebelumnya, badan bantuan kemanusiaan PBB sudah menyatakan menolak untuk bergabung dengan GHF karena menilai organisasi itu tidak akan independen dan sarat muatan kepentingan politik AS dan Israel.

Tidak ada penjelasan detail Wood soal pengunduran dirinya. Akan tetapi, dilansir dari laman CNN, Wood menginginkan Israel untuk mengizinkan lebih banyak bantuan mengalir ke Gaza karena situasi kemanusiaan yang sudah sangat mengkhawatirkan. Ia juga berpendapat, lembaga yang dipimpinnya itu tidak akan bisa bekerja sendirian.

Palestinians transport their belongings as they flee the northern Gaza Strip toward the south, along the coastal al-Rashid road on May 25, 2025. Rescuers in Gaza said eight people were killed and dozens more wounded in Israeli air strikes across the Palestinian territory on May 25. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

Dewan pengawas lembaga itu mengaku kecewa dengan mundurnya Wood. Akan tetapi, hal itu tidak memengaruhi rencana mereka untuk mendistribusikan bantuan.

”Truk-truk kami telah memuat barang dan siap berangkat,” kata dewan pengawas yayasan dalam pernyataannya. Mereka mengklaim bahwa lembaga itu mampu menjangkau seluruh populasi di Gaza dalam beberapa pekan mendatang.

Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan, mereka tetap mendukung rencana GHF untuk segera mendistribusikan bantuan ke Gaza. Pemerintah Israel belum berkomentar mengenai hal ini.

GHF atau Yayasan Kemanusiaan Gaza yang berdiri pada bulan Februari 2025 dikritik oleh PBB dan sejumlah lembaga kemanusiaan karena rencana penyaluran bantuannya memicu perpindahan paksa warga Palestina. Hal itu juga mendorong terjadinya kekerasan pada warga sipil yang sudah begitu lama didera penderitaan.

Dalam pernyatan pada 19 Mei lalu, sebanyak 11 organisasi kemanusiaan yang beroperasi di wilayah Gaza mengatakan, pembentukan GHF hanyalah kedok untuk mengusir warga Gaza dari wilayah tempat tinggalnya.

Truk berbaris di sisi Mesir dari penyeberangan perbatasan Rafah antara Mesir dan Jalur Gaza setelah Israel memblokir masuknya truk bantuan ke Gaza, Minggu, 2 Maret 2025.

”Inisiatif (GHF) ini bukanlah upaya kemanusiaan yang sesungguhnya. Ini adalah kedok, upaya yang sangat cacat dan berbahaya untuk mengubah citra pengiriman bantuan di Gaza. Pada saat yang sama, militer dan pemerintah Israel terus melakukan blokade, mengebom warga sipil, dan memblokir bantuan kemanusiaan dunia internasional yang bisa menyelamatkan jiwa manusia. Bantuan tidak perlu diubah citranya. Bantuan harus diizinkan masuk,” demikian pernyataan mereka.

Dalam pernyataannya, ke-11 organisasi itu menyatakan, ketergantungan distribusi bantuan GHF pada lampu hijau dari militer Israel, khususnya di titik masuk yang dikontrol militer serta di titik kumpul yang sangat terbatas, akan mengecualikan para penyandang disabilitas, warga sipil yang terluka atau bahkan tidak dapat bergerak untuk mendapatkan bantuan.

Selain itu, rencana GHF untuk mengirimkan bantuan hanya pada 1,2 juta warga sipil Gaza selama fase pertama itu bersamaan dengan keinginan Israel untuk merelokasi warga Gaza. Hal itu dinilai oleh organisasi-organisasi itu sebagai pengakuan secara terbuka untuk mengubah komposisi penduduk di Gaza.

Seorang anak laki-laki Palestina menunggu porsi makanan panas yang dibagikan oleh dapur amal di kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah pada 5 Mei 2025. Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza yang terkepung telah memburuk secara signifikan sejak Israel memblokir semua bantuan memasuki wilayah tersebut pada 2 Maret, beberapa hari sebelum melanjutkan kampanye militernya setelah runtuhnya gencatan senjata.

”Mari kita perjelas: hambatan terbesar untuk akses kemanusiaan di Gaza bukanlah inefisiensi atau korupsi, melainkan pembatasan bantuan yang disengaja oleh Pemerintah Israel. Pengepungan militer di Gaza adalah bentuk hukuman kolektif. Pembatasan bantuan digunakan sebagai senjata perang,” kata mereka dalam pernyataannya.

Mereka juga menyatakan, bantuan yang disebarkan hanya menjadi kedok atas kekerasan yang terus terjadi. Hal itu bahkan menjadi strategi militer untuk mengendalikan dan mengusir warga Gaza dari tanah mereka.

Bahkan, dalam pernyataannya, organisasi-organisasi kemanusian ini menyebutkan, tindakan tersebut menjadi bagian dari cetak biru untuk pembersihan etnis.

Serangan Israel ke bangunan sekolah

Desakan dunia internasional agar militer Israel menghentikan serangan ke wilayah Gaza tidak digubris. Setiap hari, korban jiwa terus berjatuhan. Pada Senin (26/5/2025), dini hari waktu setempat, militer Israel menyerang sebuah bangunan sekolah di kawasan Daraj, Gaza.

Serangan itu menewaskan 52 orang. Sebanyak 36 orang tewas seketika, termasuk anak-anak, ketika gedung sekolah yang sudah beralih fungsi menjadi tempat pengungsian warga Palestina itu dihujani oleh artileri berat Israel.

Fahmy Awad, Kepala Layanan Darurat Kementerian Kesehatan Gaza, mengatakan, tembakan artileri berat menghujani gedung sekolah itu ketika para penghuninya tengah terlelap tidur dan membakar mereka. Seorang ayah dan lima anaknya turut menjadi korban dalam kejadian itu.

Sanak saudara mengerubungi tubuh beberapa korban tewas akibat serangan Israel ke sebuah gedung sekolah di Dajaa, Jalur Gaza, Senin (26/5/2025). Militer Israel menyerang sebuah gedung sekolah yang dijadikan tempat mengungsi warga Palestina, Senin dini hari, saat mereka sedang tidur.

Rekaman yang beredar memperlihatkan bangunan sekolah terbakar akibat serangan tersebut. Regu penyelamat dibantu warga mencari korban selamat sekaligus mencoba memadamkan api yang berkobar di lokasi kejadian.

Militer Israel mengklaim serangan itu menargetkan pusat komando dan kendali kelompok perlawanan yang ada di dalam sekolah. Gedung sekolah itu diklaim militer Israel telah digunakan oleh Hamas dan Jihad Islam. Seperti yang seringkali dilakukan, Israel kembali menyalahkan kematian warga sipil pada Hamas karena beroperasi di daerah permukiman.

Serangan terpisah dilakukan militer Israel terhadap sebuah rumah di kawasan Jabaliya, Gaza utara, dan menewaskan 16 orang dari sebuah keluarga. Korban tewas termasuk lima perempuan dan dua anak-anak. (AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto