Sebanyak 157 siswa SD, SMP, SMA, dan SMK di Kabupaten Banggai Kepulauan mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
18 Sep 2025 20:09 WIB · Kesehatan
JAKARTA, KOMPAS – Kejadian keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis kembali dilaporkan. Kejadian luar biasa keracunan baru-baru ini dilaporkan di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Setidaknya 157 siswa terdampak.
Terkait hal itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, dihubungi di Jakarta, Kamis (18/9/2025), mengatakan, adanya pergantian pemasok bahan baku diduga menjadi penyebab terjadinya keracunan tersebut. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Banggai Kepulauan sudah beroperasi selama delapan bulan dan belum ada laporan masalah sebelumnya.
”Menurut info sementara, terjadi pergantian supplier ikan cakalang yang kemudian menimbulkan alergi pada sebagian penerima manfaat. BGN sudah minta agar dilakukan pergantian supplier bertahap,” ucapnya.
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan, setidaknya 157 siswa dari tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan sekolah menengah kejuruan di wilayah Kota Salakan, Kabupaten Banggai Kepulauan, keracunan setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis, Rabu (17/9/2025).
Menurut info sementara, terjadi pergantian supplier ikan cakalang yang kemudian menimbulkan alergi pada sebagian penerima manfaat.
Dari jumlah itu, sebanyak 77 siswa mendapatkan perawatan serius dan 80 lainnya mendapatkan layanan rawat jalan. Jumlah tersebut diperkirakan masih bisa bertambah karena masih ada siswa yang datang ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan.
Penyebab keracunan diduga berasal dari menu lauk ikan cakalang yang tidak layak konsumsi. Sampel makanan sudah diambil dan tengah diuji oleh Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Sulawesi Tengah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/08/324cbb77-c2a0-4283-8644-bd836ca8dd23_png.png)
Selain di Kabupaten Banggai Kepulauan, pada hari yang sama, kejadian luar biasa keracunan makanan juga dilaporkan di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Setidaknya 194 siswa dilaporkan mengalami keracunan seusai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Adapun menu yang disajikan kali itu ialah nasi putih, ayam woku, tempe orek, lalapan sayur, dan buah stroberi. Seusai mengonsumsinya, sejumlah siswa menunjukkan gejala keracunan, seperti mual, muntah, dan pusing (Kompas.id, 18/9/2025).
Kejadian keracunan makanan dalam program MBG bukan pertama kali. Sebelumnya, sejumlah kasus telah dilaporkan. Dalam laporan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), sebanyak 1.530 anak tercatat menjadi korban keracunan dalam program MBG terhitung sejak awal pelaksanaan program tersebut sampai 24 Juli 2025.
Sementara dalam laporan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) pada 4 September 2025, tercatat sudah ada 4.041 orang yang menjadi korban keracunan program MBG selama delapan bulan pelaksanaannya.
Terkait hal itu, sejumlah kelompok masyarakat sipil pun mendesak agar pemerintah menghentikan sementara program MBG. Hal ini diperlukan untuk evaluasi total pelaksanaan program tersebut. Dengan evaluasi yang menyeluruh, diharapkan kejadian keracunan makanan tidak terulang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/b1530b59-a6ea-4a0a-825e-62a9b113c4e1_jpg.jpg)
Pendiri sekaligus CEO CISDI Diah Satyani Saminarsih sebelumnya mengatakan, jeda dalam pelaksanaan program MBG bukan berarti menghentikan program tersebut. Jeda ini sebagai langkah untuk melakukan evaluasi dan perbaikan secara komprehensif.
Selain keracunan makanan, sejumlah persoalan lain juga harus menjadi perhatian serius, seperti masalah kualitas gizi pada menu MBG, insentif yang kurang memadai kepada pekerja, dan pihak rekanan yang menyiapkan menu MBG.
”Melakukan jeda program secara kolektif serta memastikan penyusunan peraturan yang melibatkan berbagai pihak menjadi langkah mitigasi agar tujuan untuk memperbaiki gizi penerima manfaat bisa tercapai,” kata Diah (Kompas.id, 13/8/2025).
Menanggapi hal itu, Dadan menuturkan, kejadian keracunan makanan bergizi gratis selama ini tidak berulang pada satu SPPG. ”Target BGN zero accident dan kita akan lakukan pembinaan terus menerus,” ucapnya.
Penulis:
Deonisia ArlintaEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul