Brighton bertemu lagi dengan Nottingham Forest di perempat final FA, dua bulan setelah dibungkam 0-7. Trauma Brighton dan kepercayaan diri Forest hanya fatamorgana.
28 Mar 2025 19:50 WIB · Olahraga
BRIGHTON, JUMAT — Brighton and Hove Albion dan Nottingham Forest membuktikan, sebesar apa pun kemenangan atau kekalahan, tren dari satu laga tidak otomatis berpengaruh ke laga lain. Brighton mendaki tanpa henti setelah kalah telak, saat Forest terpeleset seusai menang besar.
Hampir dua bulan setelah pembantaian 7-0 Forest atas Brighton, kedua tim akan bertemu lagi di Stadion Falmer, pada Minggu (30/3/2025) pukul 00.15 WIB. Selain berlangsung di kandang Brighton, duel kali ini juga berbeda karena mempertaruhkan hadiah lebih besar, yaitu tiket semifinal Piala FA.
Pelatih Kepala Brighton Fabian Hurzeler mungkin harus berterima kasih khusus kepada Forest. Berkat kekalahan itu, ”Si Burung Camar” seolah menjadi seekor phoenix yang bangkit dari abu. Brighton tidak terkalahkan dalam tujuh laga beruntun, enam di antaranya berhasil dimenangkan.
”Saya tidak mau membahas itu,” kata Hurzeler saat ditanya soal kekalahan terbesar Brighton dalam 67 tahun terakhir itu. ”Hal terpenting (setelah kalah), para pemain mengambil tanggung jawab lebih bersama-sama. Mereka menunjukkan intensitas dan percaya bisa menang atas siapa saja,” lanjutnya.
Chris Sutton, mantan penyerang beberapa klub Liga Inggris kelahiran Nottingham, pernah merasakan kepahitan seperti yang dialami Brighton. Menurut dia, keterpurukan sering kali jadi titik balik untuk merekatkan hubungan di dalam tim dan mengubah banyak hal yang kurang tepat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/16/9f1407a99b713cb5ae53f50b33358e43-wires_photo_11_.jpg)
Sutton merasakan perubahan nasib yang tidak terbayangkan. ”Saya masih ingat kalah 1-7 dari Blackburn pada 1992. Saya masih jadi bek Norwich. Setelah itu, kami minum bir di rumah pelatih. Posisi saya diubah jadi striker dan kami masih di puncak klasemen saat Natal,” tuturnya kepada BBC Sport.
Pelatih Kepala Forest Nuno Espirito Santo juga belajar sesuatu. Forest sempat terlena, lalu terjebak dalam tiga laga tanpa kemenangan berturut-turut di liga. Mereka kesulitan sepanjang Februari, sampai akhirnya bisa kembali ke jalur kemenangan pada bulan ini.
Santo pasti lebih mengerti, momentum dari satu laga sering kali berakhir sehabis peluit panjang. Adapun sepekan sebelum berpesta tujuh gol, Forest baru dijadikan lumbung gol oleh Bournemouth dalam kekalahan 0-5. Itu yang membuat catatan pertemuan tidak lagi relevan di perempat final nanti.
Hal yang bisa diambil dari laga sebelumnya hanya kemenangan filosofi Santo. Hurzeler selalu memaksa tim lawan bertahan rendah dengan menempatkan banyak pemain, sampai enam orang, di garis terakhir. Masalahnya, rahasia kesuksesan Forest musim ini adalah bertahan total dan menyerang balik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/08/14123c208eec2997e0410247d25e5886-Britain_Soccer_Premier_League.jpg)
Alih-alih bicara trauma atau percaya diri dari kisah masa lalu, motivasi kedua tim justru lebih menarik. Forest berkesempatan masuk semifinal untuk pertama kali sejak 1990-1991. Brighton bertekad kembali ke Stadion Wembley, seusai kalah dua kali di semifinal dalam enam musim terakhir.
”Kami berpeluang memecahkan rekor lain yang sudah bertahan lebih dari 30 tahun. Namun, saat ini kami hanya berpikir bagaimana cara bermain di laga nanti, bagaimana bersaing dengan tim yang sangat baik seperti Brighton. Semua harus tetap fokus dan menikmati momen ini,” ujar Santo.
Pertarungan nanti semakin menarik karena Brighton dan Forest sedang berada dalam momentum terbaik. Terbukti, Hurzeler dan Santo masuk dalam dua dari tiga nama yang terpilih sebagai kandidat manajer terbaik Liga Inggris pada Maret 2025.
Daftar nomine pemain terbaik bulan ini juga diramaikan nama-nama dari kedua tim tersebut. Brighton diwakili oleh bek tim nasional Belanda, Jan Paul van Hecke. Forest mengirim dua wakil sekaligus, penyerang Anthony Elanga dan Nikola Milenkovic.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/16/45c0c6f900f9a634bf0579dbe4121b17-wires_photo_12_.jpg)
Masalahnya, Forest datang dengan terpincang-pincang karena penyerang andalan Chris Wood dipastikan absen. Dia menggalami cedera pangkal paha saat membela timnas Selandia Baru. Adapun tidak ada tim yang dibobol lebih banyak oleh Wood dibandingkan ke gawang Brighton (12).
Wood, dalam duel terakhir, bahkan menciptakan hattrick. Santo harus segera mencari solusi di lini depan. ”Setiap kali jeda internasional, para pemain pasti kembali dengan kondisi berbeda-beda. Kami juga harus memeriksa kesiapan pemain lain yang baru pulang,” jelas Santo.
Di sisi lain, Hurzeler berharap para pemain bisa membawa atmosfer kompetitif dari negara masing-masing. Terutama untuk pemain yang bersaing di kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Amerika Selatan, yaitu Joao Pedro (Brasil), Pervis Estupinan (Ekuador), dan Diego Gomez (Paraguay).
Menurut Hurzeler, atmosfer persaingan di Amerika Selatan jauh lebih panas. ”Saya berharap mereka kembali dengan dorongan yang besar untuk membantu kami di sisa musim ini. Saya pikir, itu akan berpengaruh positif. Mereka begitu bersemangat ketika bicara soal timnas,” ucapnya. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar Alexey