Barcelona menahbiskan diri sebagai penguasa Spanyol dalam dua musim beruntun. Hanya saja, kejayaan itu terasa kurang tanpa sosok penyerang murni tangguh.
11 Mei 2026 13:35 WIB · Olahraga
AFP/LLUIS GENE
Anomali mengiringi perjalanan Barcelona meraih kesuksesan memenangi gelar Liga Spanyol ke-29 dalam sejarah klub itu. Tampil dominan di liga sebagai tim terproduktif, Barca bisa dikatakan tidak memiliki penyerang murni yang tangguh. Kekosongan di posisi tersebut perlu dipikirkan agar tetap bisa melanjutkan kejayaan musim depan.
Tidak ada tim yang mampu menandingi produktivitas Barca dengan koleksi 91 gol hingga pekan ke-35. Rival abadi Barca, Real Madrid, berada jauh di bawah Barca dengan 70 gol meskipun sudah diperkuat Kylian Mbappe yang merupakan salah satu penyerang terbaik di kolong langit.
Barca saat ini memang masih memiliki Robert Lewandowski sebagai penyerang utama. Namun, pemain asal Polandia itu sudah melewati masa keemasannya seiring bertambahnya usia. Performa Lewandowski—yang saat ini berusia 37 tahun—terus menurun. Kontraknya pun akan habis pada akhir musim ini tanpa ada tanda-tanda akan diperpanjang.
Selain Lewandowski, pos penyerang murni biasanya diserahkan kepada Ferran Torres. Namun, Torres yang lebih nyaman bermain sebagai penyerang sayap kiri belum bisa mempertahankan konsistensi.
Kabar yang beredar menyebutkan Barca siap melepas Lewandowski serta Torres. Penyerang Atletico Madrid, Julian Alvarez, masuk radar sebagai kandidat favorit Barca. Akan tetapi, Pelatih Barca Hansi Flick masih enggan berkomentar banyak terkait kemungkinan timnya mencari penyerang baru pengganti Lewandowski dan Torres.
”Haruskah kami mendatangkan penyerang baru musim depan? Ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya. Kami memiliki beberapa ide yang jelas, tetapi ini bukan saatnya (mengumumkan),” kata Flick dikutip dari Mundo Deportivo pada Senin (11/5/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/11/b22a15a493424f140ee4e99d3714eeb2-Spain_La_Liga_Soccer.jpeg)
Tanpa sosok penyerang murni tangguh, keberhasilan ”Blaugrana” mempertahankan gelar juara liga terasa kurang lengkap. Trofi memang akan menjadi milik Barca, tetapi itu tidak diimbangi dengan penghargaan pencetak gol terbanyak atau El Pichichi yang musim ini kemungkinan besar akan jatuh kepada Mbappe yang telah mencetak 24 gol dari 28 penampilan.
Musim ini, Barca bahkan tidak menempatkan wakil pada peringkat tiga besar pencetak gol terbanyak liga. Lamine Yamal menjadi pemain Barca dengan koleksi gol terbanyak, yakni 16 gol dari 28 penampilan. Jumlah gol itu pun hanya menempatkan Yamal di posisi keempat.
Vedat Muriqi (Real Mallorca) menempel Mbappe di peringkat kedua dengan koleksi 21 gol. Di peringkat ketiga, ada Ante Budimir (Osasuna) yang telah membukukan 17 gol.
Untuk menyiasati kelemahan di posisi penyerang murni, Barca mengandalkan permainan kolektif. Sebaran gol Barca merata alias tidak terpusat pada satu pemain. Selain Yamal, gol-gol Barca juga disumbangkan Torres (15 gol), Lewandowski (13 gol), dan Raphinha (11 gol).
Barisan bek Barca, seperti Ronald Araujo (3 gol), Pau Cubarsi (1 gol), dan Eric Garcia (1 gol), juga cukup bisa diandalkan untuk membantu mencetak gol di saat tim menemui kebuntuan.
”Kami harus mengelolanya (para pemain untuk mencetak gol) dengan sebaik mungkin. Kami memiliki skuad yang bagus, termasuk yang ada di bangku cadangan, dan kami harus bermain sebagai tim,” ucap Flick, awal tahun ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/09/ed1d3cd5e8cdcff3deb6fc492399490c-Spain_La_Liga_Soccer_137446563.jpg)
Kebutuhan Barca terhadap sosok penyerang murni seharusnya bisa dipenuhi dari akademi, La Masia. Akademi Barca tersebut memang terkenal menghasilkan pesepak bola berbakat. Namun, mereka cenderung tidak menghasilkan penyerang yang hebat.
Sudah lama sejak terakhir kalinya Barca bisa memiliki penyerang murni tangguh. Dengan adanya sosok target man di dalam tim, kebuntuan mencetak gol bisa diminimalkan.
Sebagai klub yang mempromosikan sebanyak mungkin pemain akademi ke tim utama, Barca tentu bisa mencari pemain yang dibutuhkan dari La Masia, tidak terkecuali posisi penyerang. Akan tetapi, beberapa tahun belakangan, Barca cenderung menyerahkan posisi ujung tombak tim kepada pemain yang bukan lulusan La Masia.
Terkadang, penyerang nomor 9 yang biasa ada di tim lain di sini berubah menjadi ”false nine”.
Lewandowski dan Torres yang menjadi andalan di lini depan musim ini merupakan pemain hasil binaan klub lain. Di masa lalu, Barca memiliki predator dalam diri Samuel Eto’o, Luis Suarez, dan David Villa. Akan tetapi, mereka semua juga bukan pemain binaan Barca.
Ada pula Bojan Krkic yang diprediksi sebagai penyerang tajam produk La Masia. Krkic mencetak 41 gol selama empat musim memperkuat Barca. Namun, kebanyakan golnya tercipta saat ia ditugaskan sebagai penyerang sayap.
Penyerang tengah lulusan La Masia terbaru ialah Marc Guiu. Namun, ketatnya persaingan di lini depan Barca memaksa Guiu mencari menit bermain yang lebih banyak dengan menyeberang ke Liga Inggris. Bakat Guiu menarik minat Chelsea untuk merekrutnya. Sayangnya Guiu kembali kalah bersaing dengan Nicolas Jackson, Liam Delap, dan Joao Pedro hingga harus dipinjamkan ke Sunderland.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/11/e72d9472e54a7f6ec76d834eb085829c-APTOPIX_Spain_La_Liga_Soccer.jpeg)
Secara rata-rata, peningkatan jumlah pemain akademi yang dipromosikan ke tim utama Barca adalah berposisi sebagai bek atau gelandang. Jarang ada pemain muda berposisi penyerang yang dipromosikan. Setidaknya, ada beberapa penyebab La Masia belum sanggup memasok penyerang murni tangguh untuk Barca.
”Di Barcelona, kami mencari profil (penyerang) yang juga bisa membangun serangan, bisa datang dan menerima bola. Terkadang, penyerang nomor 9 yang biasa ada di tim lain di sini berubah menjadi false nine,” ucap Jordi Roura yang pernah menjabat Direktur La Masia pada 2014 hingga 2021 dalam wawancara bersama The Athletic.
Dari penjelasan Roura dapat dipahami bahwa cara bermain Barca menuntut kolektivitas tim. Seorang penyerang pantang hanya menunggu kesempatan di depan tanpa turut berkontribusi pada aspek membangun serangan atau bertahan. Cara bermain yang sangat dinamis itu mengakar kuat pada diri Fermin Lopez yang tidak kenal lelah terus naik dan turun dalam setiap fase membangun serangan.
Roura mengakui penekanan yang terlalu kuat pada kualitas tertentu dapat menyebabkan kualitas lainnya dari seorang pemain terabaikan. Penyerang yang punya kemampuan penyelesaian akhir yang mumpuni sekalipun rentan gagal di La Masia akibat cara bermain kolektif yang mereka tanamkan ke pemain sejak dini.
Melihat kecenderungan itu, sulit rasanya berharap La Masia dapat memberikan jawaban terhadap kebutuhan Barca akan penyerang murni musim depan. Merekrut penyerang hasil binaan klub lain sepertinya masih akan menjadi cara Barca dalam mencari pengganti Lewandowski atau Ferran Torres. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar