LIGA SPANYOL

Perkelahian Pemain, Puncak Keputusasaan Real Madrid

Suasana di internal Real memanas jelang laga penting melawan Barcelona. Nirtrofi selama dua musim beruntun memicu keputusasaan mendalam bagi para pemain.

08 Mei 2026 13:23 WIB · Olahraga

AFP

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Insiden perkelahian yang melibatkan Federico Valverde dan Aurelien Tchouameni merupakan puncak rasa kecewa dan putus asa pemain setelah melewati dua musim tanpa trofi. Petinggi klub disebut kecewa terhadap minimnya peran Pelatih Alvaro Arbeloa dalam meredam konflik antarpemain.

Prahara internal sudah pasti memengaruhi psikis serta persiapan Real jelang menghadapi Barcelona di Stadion Camp Nou, Senin (11/5/2026) dini hari WIB. Selain harus siap tempur dari segi taktis, mental para pemain mesti terjaga dalam membendung Barca yang berambisi mengunci gelar juara Liga Spanyol di hadapan pendukung sendiri serta Real, sang rival abadi.

Hasil imbang saja sudah cukup untuk memastikan Barca juara. Dapat dibayangkan betapa beratnya beban yang dipikul para pemain Real. Sudah harus mengimbangi Barca, mereka pun tengah dalam kondisi kehilangan kepercayaan diri akibat kembali mengakhiri musim tanpa trofi.

Di tengah persiapan menantang Barca, api menyala dalam sekam. Valverde dilaporkan harus mendapat perawatan insentif di rumah sakit setelah kepalanya terbentur meja akibat bertikai dengan Tchouameni. Sumber-sumber di internal Real menyebut, perkelahian bermula saat sesi latihan tim. Saat itu Valverde menekel Tchouameni secara keras. Perselisihan di lapangan berlanjut ke ruang ganti.

Quote

Rasa frustrasi saya melihat beberapa dari kita mencapai akhir musim dengan sisa kekuatan terakhir, memberikan yang terbaik, telah menguasai diri saya hingga berujung pada pertengkaran dengan rekan satu tim.

Arsip foto menampilkan gelandang Real Madrid, Federico Valverde, dalam pertandingan pertama babak 16 besar Liga Champions antara Real Madrid dan Manchester City di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, 11 Maret 2026. Valverde mendapat perawatan di rumah sakit setelah berkelahi dengan rekan setimnya, Aurelien Tchouameni, Kamis (7/5/2026).

Keesokan harinya, kedua gelandang itu masih belum berdamai. Mereka sekali lagi terlibat pertengkaran hingga terjadi gesekan fisik yang menyebabkan Valverde terjatuh. Setelah menjalani pemeriksaan, Valverde didiagnosis mengalami cedera kepala traumatis yang menyebabkannya harus beristirahat setidaknya selama 10 hingga 14 hari. Ini berarti Valverde akan melewatkan laga mahapenting melawan Barca.

”Kemarin saya mengalami insiden dengan seorang rekan satu tim setelah sebuah gerakan dalam latihan, di mana kelelahan akibat musim dan rasa frustrasi membuat semuanya menjadi berlebihan. Di ruang ganti, ini hal biasa. Hal-hal seperti ini bisa terjadi dan diselesaikan di antara kami sendiri tanpa terungkap. Hari ini kami bertengkar lagi. Saat bertengkar, kepala saya tanpa sengaja terbentur meja, menyebabkan luka kecil di dahi yang mengharuskan saya mengunjungi rumah sakit seperti biasa,” tulis Valverde melalui akun Instagram miliknya, dikutip Jumat (8/5/2026).

Valverde turut meminta maaf kepada pihak-pihak yang dirugikan atas insiden perkelahian itu. Dia pun tidak menyangkal, dua musim yang buruk bagi Real turut andil dalam peliknya suasana ruang ganti Real.

”Rasa frustrasi saya melihat beberapa dari kita mencapai akhir musim dengan sisa kekuatan terakhir, memberikan yang terbaik, telah menguasai diri saya hingga berujung pada pertengkaran dengan rekan satu tim,” katanya.

Gelandang Real Madrid, Aurelien Tchouameni, dan partnernya, Suzette Carter, menyaksikan pertandingan tenis ATP Madrid di Madrid, Spanyol, Jumat (1/5/2026).

Manajemen Real telah mengeluarkan pernyataan resmi menyangkut pertengkaran kedua pemain. Pihak klub mengumumkan akan memulai proses penegakan disiplin terhadap Valverde dan Tchouameni. Manajer Umum Real Madrid Jose Angel Sanchez disebut murka terhadap insiden yang terjadi hanya beberapa hari jelang el clasico.

”Klub akan memberikan informasi terbaru mengenai hasil dari kedua proses tersebut setelah prosedur internal terkait selesai,” tulis Real dalam pernyataan di laman resminya.

Regulasi internal Real menyebutkan, pemain yang melakukan pelanggaran berat akan dikenai hukuman meliputi skors hingga potong gaji selama 3 hingga 10 laga. Adapun pelanggaran dengan kategori sangat berat akan dikenai hukuman skors hingga potong gaji selama 11 hingga 20 laga.

Dalam situasi tertentu, hukumannya bisa lebih berat, yakni pemecatan.

Gejolak internal

Perseteruan Valverde dan Tchouameni memperpanjang gejolak internal Real musim ini. Bulan lalu, bek tengah Antonio Ruediger juga terlibat perselisihan dengan rekan setimnya saat sesi latihan.

Perselisihan itu dimulai oleh Ruediger yang pada akhirnya meminta maaf. Untuk memperbaiki suasana, Ruediger kemudian mengundang rekan-rekan setim beserta keluarga masing-masing untuk makan siang bersama.

Selain itu, ada pula perselisihan antara megabintang Kylian Mbappe dan salah seorang staf kepelatihan Real. Sebagaimana Valverde dan Tchouameni, insiden itu juga terjadi saat sesi latihan tim. Anggota staf kepelatihan itu bertugas sebagai hakim garis. Saat itu ia menyatakan Mbappe berada dalam posisi offside. Mbappe yang tidak setuju beradu argumen dengannya.

Penyerang Real Madrid, Kylian Mbappe, memegang bola saat pertandingan Liga Spanyol antara Real Betis dan Real Madrid di Stadion La Cartuja, Sevilla, Jumat (24/4/2026).

Tidak seperti Valverde dan Tchouameni yang berpotensi menghadapi konsekuensi pelanggaran disiplin, Ruediger dan Mbappe lolos. Tidak ada hukuman internal apa pun terhadap mereka.

Kultur internal Real yang berusaha membuat para pemain nyaman dan betah telah menjadi bumerang. Perlakuan impunitas seperti itu telah menumbuhkan keyakinan dalam diri para pemain bahwa mereka kemungkinan besar akan terhindar dari sanksi setelah menciptakan prahara.

Di sisi lain, perhatian petinggi Real tertuju kepada Alvaro Arbeloa yang dianggap pasif meredam gejolak di internal timnya. Pelatih yang masa depannya di Real kian tidak pasti itu dianggap membiarkan masalah hingga mencapai kulminasinya.

”Pelatih kepala tidak turun tangan, memberikan peringatan, atau mencoba menengahi perselisihan, bahkan ketika Valverde melakukan tekel keras terhadap Tchouameni, sehingga suasana tegang terus berlanjut sepanjang latihan taktik. Dia (Arbeloa) memang membantu Valverde setelah perkelahian fisik di dalam ruang ganti, menemaninya ke rumah sakit untuk mendapatkan jahitan pada luka di wajahnya. Namun, kurangnya kepemimpinan yang dirasakan ini tidak diterima dengan baik oleh jajaran direksi Real Madrid,” tulis Diario AS dalam laporannya.

Pelatih Real Madrid Alvaro Arbeloa menyaksikan pertandingan Liga Spanyol antara Espanyol dan Real Madrid di Stadion RCDE, Cornella de Llobregat, Barcelona, Spanyol, Minggu (3/5/2026).

Presiden Real Madrid Florentino Perez terpaksa turun tangan secara pribadi dalam menangani perselisihan antarpemain. Sikap pasif Arbeloa diyakini makin memberi tekanan padanya. Dalam situasi seperti ini, wajar jika muncul rumor bahwa Perez mencari pelatih dengan karakter kuat seperti Jose Mourinho yang saat ini masih terikat kontrak dengan Benfica.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar