Perluasan program yang dilakukan harus disertai upaya maksimal menjamin keamanan pangan yang dikonsumsi agar hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan.
22 Sep 2025 17:00 WIB · Artikel Opini
Harian Kompas, 18 September 2025, menurunkan berita berjudul ”Sasaran MBG Akan Diperluas”, yang membahas berbagai aspek program Makan Bergizi Gratis, termasuk keracunan makanan.
Di hari yang sama, Kompas.com juga menurunkan berita berjudul ”251 Siswa di Banggai Kepulauan Diduga Keracunan MBG, 78 Masih Dirawat Intensif”. Hal ini menunjukkan bahwa di satu sisi program MBG ini makin diperluas, di sisi lain yang terkena keracunan makanan juga bertambah dari hari ke hari dan sudah mencakup ribuan orang.
Kita sadari bersama bahwa program MBG memang merupakan kegiatan yang bermanfaat bagi rakyat. Disebutkan, setidaknya ada empat dampak positif, yaitu perbaikan gizi masyarakat, perbaikan status kesehatan, dampak pada ekonomi, serta juga dampak pada pendidikan. Karena itu, tentu program ini perlu terus dilakukan dan dikembangkan. Hanya saja, kenyataan bahwa kasus keracunan makanan terus bertambah jelas-jelas tidak bisa dipandang enteng dan harus di atasi segera.
Terdapat lima hal tentang pengendalian keracunan makanan pada MBG agar dapat membuat program prioritas Presiden ini memberi kesuksesan yang lebih baik di masa datang.
Hal pertama adalah prinsip dasar dalam memberi makanan yang harus dipegang teguh, yaitu keamanan pangan yang harus diutamakan lebih dahulu, diikuti dengan manfaat dari program makan itu. Tegasnya, makanan yang disajikan harus terjamin benar-benar keamanannya. Hal ini tidak dapat ditawar lagi walaupun merupakan program makanan massal untuk puluhan juta orang sekalipun.
Tentu saja keamanan pangan ini harus sejalan dengan mutu gizi yang dapat memberi dampak positif pada kesehatan dan gizi masyarakat.
Yang kedua adalah pemahaman konsep keamanan pangan atau food security dalam bentuk rantai pangan from farm to plate, atau dari sumber bahan pangan sampai selesai dimakan oleh yang mendapatkannya. Ini adalah hal yang amat penting dan perlu mendapat perhatian secara saksama. Sebab, disrupsi pada salah satu rantai alur kegiatan akan dapat memengaruhi keberhasilan dan manfaat makan siang bergizi gratis ini.
Semua proses, dari mulai penyediaan bahan pangan sampai ke konsumsinya di sekolah, harus dijaga ketat agar berjalan baik. Dalam penyediaan bahan pangan dari tanaman, misalnya, tentu jangan terkontaminasi insektisida atau bahan kontaminan lainnya.
Jika bahan pangan yang digunakan adalah hewan peliharaan, juga harus terjamin kesehatannya, jangan sampai ada yang sakit, lalu dipotong. Bahan pangan yang tercemar—walau kemudian dimasak—tentu akan mempunyai dampak bagi yang mengonsumsinya meski tergantung dari jenis dan seberapa besar pencemarannya, serta bagaimana pengolahan makanan selanjutnya.
Proses selanjutnya yang harus dijaga ketat adalah transportasi dan penyimpanan bahan pangan itu. Beberapa kali kita lihat di media, ada truk pengangkut bahan makanan yang terkena macet berkepanjangan, misalnya, yang akan berdampak pada mutu bahan pangan yang dibawa.
Setelah transportasi, maka penyimpanan bahan pangan di gudang juga perlu dapat perhatian. Tentu perlu dijaga tentang kelayakan ruangan penyimpanan bahan pangan ini, kelembaban gudang bahan mentah, juga ventilasinya, selain higiene dan kebersihannya.
Jika semuanya sudah terjaga baik, sampailah ke proses memasak makanan, yang antara lain dilakukan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yaitu unit pelaksana yang mengelola dapur untuk menyediakan makanan bergizi dalam program MBG.
Pengawasan pada SPPG ini menjadi amat penting walau perlu juga dipahami bahwa sesudah dari SPPG, maka setidaknya masih ada tiga proses alur lagi yang perlu dijalani dan diawasi. Yakni, bagaimana transportasi dari dapur pengolah ke lokasi makanan akan disantap, bagaimana penyimpanan makanan di tempat santapan, dan bagaimana mereka yang mendapat MBG mengonsumsi makanannya.
Dalam hal ini dapat ditekankan tentang perlu cuci tangan yang bersih sebelum makan, jaga kebersihan kotak makanan dan alat makan, selalu menjaga kebersihan ruangan tempat makan, serta bagaimana pembuangan limbah sisa makanannya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/06/bbfd6bde83be729e4412b96cb066357f-20250306_Opini_Refokus_Program_Makan_Bergizi_Gratis.jpg)
Sekali lagi, semua dan setiap alur dari from farm to plate ini harus diawasi dengan amat baik. Sebab, gangguan pada salah satu di antaranya dapat saja menyebabkan terjadinya keracunan makanan.
Hal ketiga yang perlu mendapat perhatian adalah kalau sudah terjadi keracunan makanan, harus segera dilakukan penyelidikan epidemiologik (PE) secara saksama dan rinci. Dengan cara ini, setiap kejadian dapat segera diketahui penyebabnya, baik penyebab dalam bentuk mikroorganisme, mungkin bakteri, jamur, virus, maupun bahan kimia, dan juga penyebab dalam prosesnya.
Kalau penyebab mikroorganisme sudah ditemukan, segera dilakukan analisis biologi dan kesehatan masyarakat untuk identifikasi bagaimana sampai terjadi. Sementara itu, jika penyebab dari proses kerja sudah ditemukan, perlu segera perbaikan menyeluruh dari proses itu.
Yang juga amat penting adalah komunikasi sosial, yakni jika penyebabnya sudah jelas, harus diinformasikan ke publik. Tentu beserta langkah penanggulangan dan pencegahannya agar di waktu mendatang tidak terjadi lagi.
Hal keempat, dengan makin diperluasnya program MBG, sepatutnya dilakukan pengumpulan data secara ilmiah untuk menilai keberhasilannya serta melihat kemungkinan dampak yang tidak diinginkan.
Setidaknya ada dua bentuk yang dapat dilakukan. Pertama adalah melakukan Survei Kepuasan secara berkala. Survei dilakukan pada setidaknya empat kelompok, yakni murid, orangtua murid, guru, serta petugas dan pelaksana penyedia makanan.
Bentuk kedua adalah melakukan pengumpulan data longitudinal dalam bentuk studi kohort sejak saat ini hingga beberapa tahun ke depan. Dalam studi ini, data dikumpulkan secara berulang dari kelompok individu yang sama atau kohort, dalam jangka waktu yang panjang, untuk mengamati perkembangan atau perubahan variabel penelitian.
Aspek studi kohort secara ilmiah ini perlu mencakup dampak kesehatan, gizi, pendidikan, dan ekonomi. Hanya dengan pendekatan ilmiah seperti inilah, maka penilaian keberhasilan dan juga dampak dapat dipertanggungjawabkan sesuai prinsip kebijakan publik berbasis bukti atau evidence-based public policy.
Hal kelima, kita perlu menyadari pula bahwa pemberian dan konsumsi makanan mungkin saja berpotensi menimbulkan keracunan makanan. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa diperkirakan sekitar 600 juta orang di dunia pernah mengalami gangguan kesehatan sesudah mengonsumsi makanan yang tercemar. Ini berarti hampir satu dari sepuluh orang di dunia.
WHO juga menyebutkan bahwa ada sekitar 420.000 kematian di dunia setiap tahunnya yang dihubungkan dengan keracunan makanan dalam berbagai bentuk, 125.000 di antara mereka adalah anak-anak. Data WHO ini tentu bukan berarti kita harus menganggap ”wajar saja” keracunan makanan yang terjadi. Jelas harus ada upaya intensif yang sistematis dan terintegrasi untuk dapat meminimalkan semaksimal mungkin korban keracunan makanan pada program MBG kita.
Sebagai penutup, perhatian penuh perlu terus diberikan pada pengorganisasian, pengelolaan, dan manajemen program di berbagai tingkatan, dari pusat ke daerah, dari penentu kebijakan sampai ke pelaksana program langsung di lapangan. Monitoring dan evaluasi juga harus dilakukan dengan sangat saksama, dengan kemungkinan penyesuaian dan perbaikan program dari waktu ke waktu kalau dibutuhkan, sesuai kenyataan yang ada di lapangan.
Juga perlu disadari bahwa program besar MBG ini perlu melibatkan secara aktif lintas sektor terkait, di pusat dan daerah. MBG harus dikerjakan bersama, baik kebijakan dan juga implementasinya. Kerja bersama bukan hanya akan lebih berhasil (efektif), melainkan juga akan mengefisienkan sumber daya.
MBG adalah program mulia yang berhubungan langsung dengan hajat hidup cukup banyak rakyat kita. Perluasan program yang dilakukan harus disertai upaya maksimal menjamin keamanan pangan yang dikonsumsi, agar hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan bersama.
Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University; Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
Penulis:
Tjandra Yoga AditamaEditor:
Johanes Waskita UtamaPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto