Orangtua khawatir anak mereka jadi korban keracunan. Ombudsman minta pengelola membuka akses informasi dapur MBG.
28 Jul 2025 10:23 WIB · Kesehatan
KUPANG, KOMPAS — Keracunan akibat konsumsi paket Makan Bergizi Gratis atau MBG terus meluas di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur. Khawatir anak menderita akibat keracunan makanan, sejumlah orangtua melarang anak mereka mengonsumsi MBG.
”Saya larang anak saya makan MBG. MBG ini membahayakan keselamatan anak saya. Lebih baik mencegah dengan tidak boleh makan MBG,” kata Frido (40), salah satu orangtua murid di Kota Kupang, Senin (28/7/2025).
Sebelum akhirnya melarang anak makan MBG, Frido sempat menyarankan anaknya agar mencium terlebih dahulu setiap makanan dalam paket MBG yang dibagi di sekolah. Ia bahkan membekali anaknya dengan lauk dan sayuran dari rumah.
Kekhawatiran itu menyusul belum terungkapnya penyebab keracunan massal siswa SMPN 8 Kota Kupang pekan lalu. Sebanyak 186 siswa di sekolah itu dirawat. Mereka mual, lemas, buang air besar terus-menerus, dan dehidrasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/22/9973e74bea50e8667992996841a2f1ba-1001135060.jpg)
Kini datang laporan bahwa keracunan terjadi di SDN Tenau di Kota Kupang dan SMAN 1 Taebenu di Kabupaten Kupang. Juga di SMAN 1 di Kota Tambolaka, SMKN 2 di Kota Tambolaka, dan SMK Don Bosco di Kabupaten Sumba Barat Daya. Ratusan anak menderita keracunan makanan.
Dalam catatan Kompas, persoalan dalam MBG sudah berulang kali terjadi di NTT. Di Kabupaten Sumba Timur, Pulau Sumba, daging ayam yang dibagikan kepada siswa terlihat mentah karena masih ada darahnya. Ada juga helaian rambut yang ditemukan dalam kotak makanan.
Kepala SD Inpres 3 Waingapu Hamuli Ngguna Manggil, di Kabupaten Sumba Timur, lewat sambungan telepon, Selasa (25/2/2025), mengatakan, daging mentah yang masih ada darahnya itu ditemukan dalam dua kotak makan. ”Pas mau makan, siswa lihat (daging mentah) itu sehingga tidak mau makan,” katanya.
Temuan lain adalah di dalam kontak makan terdapat helaian rambut sehingga anak-anak merasa jijik. Ada juga menu yang, menurut pihak sekolah, tidak bergizi. Pada hari pertama, siswa dikasih nasi dan mi (Kompas, 26/2/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/22/32f123ef736c8740d314ac5a5264764f-1001135535.jpg)
Hingga saat ini, hasil pemeriksaan sampel MBG belum diumumkan kepada publik. ”Masih pemeriksaan untuk menguji kumannya. Beberapa sampel yang lain sudah selesai,” kata Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Kupang Yoseph Nahak, Senin pagi.
Menurut Yoseph, setelah pemeriksaan kuman selesai, hasil pemeriksaan secara keseluruhan akan diumumkan kepada publik. Ia menargetkan dalam pekan ini hasilnya sudah bisa diketahui. BPOM akan berkoordinasi dengan pemerintah kota untuk mengumumkan.
Menurut Yoseph, pihaknya menangkap pertanyaan publik yang meragukan keamanan MBG. Banyak orangtua melarang anak mereka mengonsumsi MBG demi mencegah terjadinya keracunan pada anak mereka. ”Kami memahami (kekhawatiran) itu,” ucapnya.
Kepala Perwakilan Ombudsman Provinsi NTT Darius Beda Daton mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan MBG di NTT. Ia pun berharap peristiwa keracunan massal di NTT menjadi pelajaran berharga agar kejadian serupa tidak berulang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/25/78e927b99c2a6db105abe5d1c3ee9eba-1000541059.jpg)
”Memitigasi dengan menyusun standar prosedur pengecekan higienitas dan kelayakan menu MBG sebelum dibagikan ke siswa penerima manfaat,” katanya.
Ia juga meminta koordinator program MBG di NTT dapat bersinergi dengan pemangku kepentingan dalam pengawasan seperti dinas kesehatan dan BPOM. Perlu sinergi dalam memonitor proses pengolahan dan distribusi makanan. Dengan demikian, publik pun yakin.
”Juga penting keterbukaan informasi terkait dapur pengolahan MBG. Bagaimana publik mengakses dapur, memastikan pengolahan makanan benar-benar sehat dan aman,” kata Darius.
Sementara itu, hingga Senin ini perwakilan Badan Gizi Nasional di NTT belum memberikan pernyataan terkait keracunan massal di Kota Kupang pekan lalu. Florencio Mario Vieira dari tim monitoring MBG belum merespons pertanyaan Kompas yang sudah ia baca melalui pesan Whatsapp.
Penulis:
Fransiskus Pati HerinEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto