Mereka Lemas Keracunan Paket MBG di Samping Balai Kota Kupang

Total 186 siswa yang diduga keracunan paket Makan Bergizi Gratis. Ombudsman mendorong evaluasi terhadap dapur penyedia makanan itu.

22 Jul 2025 16:21 WIB · Kesehatan

Oleh Fransiskus Pati Herin

Mardiansel Letuna (12) terbaring lemas di ruang gawat darurat Rumah Sakit Umum Mamami, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Selasa (22/7/2025) siang. Murid SMP Negeri 8 Kota Kupang itu meringis sambil meraba perutnya yang nyeri seakan terus tertikam benda tumpul dari dalam.

Sejak Senin (21/7/2025) malam, tak terhitung berapa kali ia harus buang air besar. Sebelum terus-terusan buang air besar, ia mual sejak Senin sore setelah pulang sekolah. Pada Senin siang, Mardiansel dan murid lain mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah. Ada nasi, sayur, daging sapi, dan buah.

Ayahnya, Nitanel Letuna (48), berdiri di samping sambil mengelus kepala anaknya agar bisa menahan kesakitan. ”Bapa, beta punya perut masih sakit,” ujar siswa kelas VII itu sambil menengadah ke wajah letih ayahnya yang semalaman tidak tidur.

Nitanel yang sehari-hari bekerja serabutan terpaksa menemani anaknya. Semalam di rumah dan pagi tadi dijemput guru untuk opname. ”Kalau seperti ini, lain kali jangan makan. Namanya makan bergizi, tetapi kenapa begini (keracunan)?” ujarnya.

Keracunan MBG

Wajah cemas dan nada kecewa terekam di ruang gawat darurat itu. Tak hanya Mardiansel, puluhan anak juga terbaring tak berdaya sambil didampingi orangtua. Mereka merupakan murid SMP Negeri 8 Kota Kupang.

Total 186 siswa di sekolah itu yang keracunan sehingga dirawat di sejumlah rumah sakit berbeda. Ini merupakan keracunan makanan dalam progam MBG terbanyak di NTT sejak resmi digulirkan pada Januari 2025. 

Wali Kota Kupang Christian Widodo menyayangkan kejadian tersebut. Ia memastikan anak-anak yang menjadi korban mendapat perawatan secara maksimal sehingga cepat pulih. Ia mengunjungi semua rumah sakit tempat anak-anak dirawat.

Menurut Christian, ada indikasi keracunan massal itu berlangsung pada lokasi yang sama. Untuk membuktikannya, proses medis kini sedang berlangsung. ”Yang penting saat ini adalah memastikan penanganan darurat berjalan dengan baik,” ucapnya.

Keracunan MBG

Christian pun mendorong dilakukan evaluasi terhadap dapur penyedia makanan yang berada di bawah tanggung jawab Badan Gizi Nasional. Ia pun berharap agar kejadian seperti itu jangan sampai terulang kembali pada waktu mendatang.

Elvino Chrisananta Manafe, Direktur RSU Mamami, mengatakan, pasien mengalami gangguan pencernaan yang salah satunya disebabkan makanan yang dikonsumsi. Kendati terjadi dalam lokus tertentu dan massal, ia belum bisa memastikan penyebabnya adalah MBG.

Menurut dia, kondisi pasien berangsur pulih. Beberapa di antaranya masih diinfus dan lainnya sudah diperbolehkan pulang. Ia memastikan proses penanganan berjalan maksimal. Selain Mamami, korban keracunan paket MBG dirawat di RSUD SK Lerik dan RSU Siloam.

Florencio Mario Vieira dari tim pemantauan MBG belum merespons pertanyaan Kompas seputar keracunan MBG di SMPN 8 Kota Kupang. Pertanyaan yang dikirim melalui Whatsapp dibaca Mario. Dalam sejumlah kesempatan, Kompas menjumpai Mario terlibat memantau program MBG di Kota Kupang.

Keracunan MBG

Sementara itu, Kepala Perwakilan Ombudsman Provinsi NTT Darius Beda Daton mengatakan, pihaknya melihat langsung penanganan korban keracunan di rumah sakit.  ”Pertolongan pertama pada anak-anak yang mengalami keracunan telah dilakukan pihak rumah sakit dengan baik,” katanya.

Ia mendorong dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait sampel makanan program MBG untuk memastikan penyebab keracunan. Juga dilakukan evaluasi terhadap penyedia makanan dan tempat pengelolaan makanan program MBG di seluruh NTT.

Keracunan paket MBG secara massal ini baru pertama kali terjadi di NTT. Ironisnya, program yang diklaim meningkatkan gizi anak malah jadi racun dalam tubuh. Dan, kali ini, sekolah yang muridnya menjadi korban berada tepat di sisi Balai Kota Kupang. Bagaimana dengan sekolah lain yang jauh dari pusat kekuasaan?


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Pati Herin
 | 

Editor:

Harry Susilo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati