PIALA DUNIA 2026

Kesegaran ”Maplepressing” dalam Poin Bersejarah Kanada

Kanada meraih poin pertama dalam sejarah keikutsertaan di Piala Dunia. Meski belum bisa menang, mereka mulai menunjukkan potensi sebagai tim kuda hitam turnamen.

13 Jun 2026 06:48 WIB · Olahraga

AP Photo/Stephanie Scarbrough

Oleh Kelvin Hianusa

TORONTO, JUMAT — Tuan rumah Kanada memang belum mampu menang pada laga pembuka. Namun, mereka patut bangga dengan penampilan ofensif nan intens versus Bosnia-Herzegovina. Sistem ”Maplepress” ala Pelatih Jesse Marsch berhasil dijalankan. Itu akan menjadi modal besar mereka.

Kanada selalu kalah dalam dua kali keikutsertaan di Piala Dunia. Catatan buruk itu akhirnya dipatahkan di edisi 2026.

Mereka meraih poin pertama setelah bangkit dari ketertinggalan dan menahan imbang Bosnia, 1-1, dalam laga perdana Grup B di Stadion Toronto, Kanada, Sabtu (13/6/2026) WIB.

Canada's Cyle Larin (9) celebrates with teammates after scoring his sides first goal of the game in the second half of the World Cup Group B soccer match between Canada and Bosnia, Friday, June 12, 2026, in Toronto. (AP Photo/Sam Balkansky)

Poin bersejarah itu dipersembahkan penyerang pengganti, Cyle Larin, yang masuk pada menit ke-76. Pemain asal klub Inggris, Southampton, tersebut mencetak gol penyeimbang hanya dua menit setelah masuk ke lapangan.

”Saya mencetak gol ketika Kanada membutuhkan dan selalu begitu,” kata Larin.

Larin yang sudah mencatat 91 penampilan untuk Kanada bahkan hampir menjadi pahlawan kemenangan di pengujung laga.

Namun, tembakannya di kotak penalti masih bisa diblok oleh pemain bertahan lawan. Tim tuan rumah pun harus puas dengan satu poin walaupun sangat layak untuk menang.

Pemain Kanada Ismael Kone (8) dihalangi pemain Bosnia Herzegovina Benjamin Tahirovic (6) dalam laga Grup B Piala Dunia di Stadion Toronto pada 12 Juni 2026 di Toronto, Ontario.

Untuk tim yang minim pemain kelas dunia, penampilan Kanada sangat nikmat disaksikan. Mereka bisa intens menyerang sepanjang laga walaupun hanya memiliki satu nama besar, yaitu penyerang Juventus, Jonathan David. Bek Bayern Muenchen, Alphonso Davies, tidak bisa tampil karena cedera.  

”Si Merah”, julukan Kanada, mendominasi permainan. Mereka unggul penguasaan bola 61,2 persen dan juga jumlah tembakan 13-8.

Hanya satu yang kurang dari mereka, yakni penyelesaian akhir. Duet striker mereka, David dan Tani Oluwaseyi, berkali-kali mendapatkan peluang, tetapi gagal dikonversi.

Bosnia berjibaku di kotak penalti sendiri. Tim tamu diselamatkan aksi-aksi heroik dari para bek dan kiper, salah satunya bek veteran Sead Kolasinac yang mampu menyapu bola di garis gawang.

Mistar gawang juga sempat menjadi alasan mereka bisa bertahan tanpa kemasukan hingga 15 menit terakhir.

Canada's Cyle Larin (9) celebrates with teammates after scoring his sides first goal of the game in the second half of the World Cup Group B soccer match between Canada and Bosnia, Friday, June 12, 2026, in Toronto. (AP Photo/Jared Freed)

”Kami merasa sudah menguasai permainan. Kami menekan mereka, lalu pemain pengganti kami datang untuk mengubah permainan. Saya mengatakan kepada para pemain, kami menguasai ini dan sudah saatnya untuk terus menyerang habis-habisan,” ujar Marsch.

Untuk konteks, Bosnia merupakan tim yang sangat kolektif. Mereka bisa melukai lawan dengan berbagai cara.

Itu yang membuat mereka menyingkirkan Italia dalam final kualifikasi dan berada di Piala Dunia. Di laga melawan Kanada, mereka melukai lawan dengan bola mati yang dieksekusi penyerang Jovo Lukic.

TORONTO, ONTARIO - JUNE 12: Kerim Alajbegovic #19 of Bosnia and Herzegovina controls the ball under pressure from Alistair Johnston #2 and Jonathan Osorio #21 of Canada during the FIFA World Cup 2026 Group B match between Canada and Bosnia and Herzegovina at Toronto Stadium on June 12, 2026 in Toronto, Ontario.   Michael Steele/Getty Images/AFP (Photo by MICHAEL STEELE / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Meskipun begitu, dengan formasi kedua tim yang sama-sama menggunakan 4-4-2, Kanada selalu lebih berbahaya. Itu bisa terjadi karena tim asuhan Marsch lebih berinisiatif menguasai permainan. Mereka akan merebut bola secepat mungkin, lalu langsung mengeksekusi serangan kilat.

”Sidik jari” Marsch benar-benar terasa di kubu Kanada. Seperti diketahui, Marsch merupakan salah satu pelatih ternama di Eropa.

Pria asal Amerika Serikat itu pernah menukangi klub Austria, RB Salzburg; klub Jerman, RB Leipzig; hingga klub Inggris, Leeds United.

Dari sekian banyak pengalaman, ada satu yang tidak pernah berubah, yaitu filosofinya yang sangat agresif. Marsch selalu menginginkan timnya berinisiatif untuk menekan lawan dengan agresif saat tanpa penguasaan bola. Dengan itu, timnya bisa mendapatkan peluang hanya dari kesalahan lawan.

Di Jerman, sistem bertempo tinggi itu dikenal dengan gegenpressing. Marsch membawa sistem itu ke level tim nasional setelah ditunjuk sebagai pelatih Kanada pada Mei 2024. Di negara yang terkenal dengan sirup maple itu, sistemnya dijuluki dengan sebutan maplepressing.

Gaya main itu menuntut kerja keras dari semua pemain, tidak ada istilah ”anak emas”. ”Anda bisa melihat betapa intensnya dia dan betapa terlibatnya semua pemain. Tim ini muda dan memiliki energi. Jesse memberikan mereka energi itu,” kata Wayne Rooney, mantan pemain Liga Inggris yang sekarang menjadi pelatih, kepada BBC.

Maplepressing ala Marsch pun memberikan harapan besar bagi Kanada untuk melangkah jauh di turnamen kali ini. Mereka akan ditantang wakil Asia, Qatar, pada laga selanjutnya. Jika bisa lebih efisien di kotak penalti lawan, mereka semestinya bisa melewati ujian selanjutnya tanpa kesulitan berarti. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar