Kesempatan Terakhir Aryna Sabalenka

Aryna Sabalenka belum menjuarai turnamen Grand Slam pada 2025. Amerika Serikat Terbuka menjadi kesempatan terakhir Sabalenka setelah kalah pada dua final.

05 Sep 2025 15:39 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

NEW YORK, KAMIS — Aryna Sabalenka bertahan di puncak peringkat dunia tenis tunggal putri selama 46 pekan sejak 21 Oktober 2024, tetapi prestasinya pada 2025 tak lengkap karena belum menjuarai Grand Slam. Dia mempunyai kesempatan terakhir melalui final turnamen Amerika Serikat Terbuka.

Sabalenka akan tampil pada laga puncak di Flushing Meadows untuk ketiga kali beruntun, meneruskan hasil final pada 2023 dan saat juara pada tahun berikutnya. Dua tahun lalu, dia kalah dari Cori Gauff dan menang atas Jessica Pegula dalam final 2024.

Pada final 2025 yang akan berlangsung di Stadion Arthur Ashe, Flushing Meadows, New York, Sabtu (6/9/2025), lawan yang akan dihadapinya adalah Amanda Anisimova. Sabalenka mendapat tiket final lebih dulu dengan mengalahkan Pegula, 4-6, 6-3, 6-4.

Dalam semifinal kedua, yang berakhir Jumat dini hari waktu setempat atau Jumat siang waktu Indonesia, Anisimova mengalahkan Naomi Osaka, 6-7 (4), 7-6 (3), 6-3. Pertandingan hampir tiga jam tersebut diwarnai total 24 break point karena kedua petenis kesulitan mempertahankan servis masing-masing.

Osaka, yang tampil pada semifinal pertama Grand Slam sebagai ibu dan setelah menjuarai Australia Terbuka 2021, semakin kesulitan ketika servisnya melemah pada set ketiga. Ini dimanfaatkan Anisimova untuk memberi tekanan, melalui pukulan yang membuat bola jatuh di dekat baseline. Osaka pun sering mati langkah sebelum bisa membangun permainan melalui reli.

Ekspresi petenis Belarus, Aryna Sabalenka, setelah mendapat poin pada pertandingan semifinal AS Terbuka melawan petenis AS, Jessica Pegula, Jumat (5/9/2025), di Flushing Meadows, New York, AS.

Anisimova, harapan publik tuan rumah setelah kekalahan petenis AS lainnya, Pegula, akan menjalani final Grand Slam untuk kedua kali beruntun. Dia terlalu gugup saat melawan Iga Swiatek di final Wimbledon hingga kalah 0-6, 0-6, tetapi itu akan menjadi pengalaman berharga untuk melawan Sabalenka. Apalagi, penonton di Arthur Ashe akan berada di belakangnya.

”Sebagai petenis AS, menjalani final di sini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Ini adalah mimpi lama saya dan saya akan berusaha siap menjalani final nanti,” kata Anisimova yang merupakan keturunan Rusia.

Petenis peringkat kesembilan dunia itu meraih beberapa pencapaian terbaik pada 2025 sebagai bekal menjalani final pertama di AS Terbuka. Dia meraih gelar pertama dari level WTA 1000, yaitu di Doha, Qatar, pada Februari. Anisimova juga mencapai posisi tertinggi dalam ranking dunia yang pernah ditempatinya, yaitu peringkat ketujuh, pada Juli.

Faktor pendukung lainnya adalah kemenangan pada pertemuan terakhir dengan Sabalenka, di semifinal Wimbledon, kurang dari dua bulan lalu. Anisimova pun menjadi satu-satunya petenis yang menggagalkan Sabalenka dalam mencapai final di semua Grand Slam pada 2025.

Dengan semangat mewujudkan mimpi menjuarai Grand Slam di negara sendiri, Anisimova akan menghadapi Sabalenka yang tak ingin melewatkan 2025 tanpa gelar juara Grand Slam. Padahal, petenis Belarus ini memiliki performa paling konsisten dalam persaingan tunggal putri, sejak 2024.

Quote

Jika saya bisa mendapat trofi, itu akan sangat berarti. Mungkin, saya akan menjadi orang paling bahagia di dunia.

Selebrasi petenis AS, Amanda Anisimova, setelah mengalahkan petenis Jepang, Naomi Osaka, pada babak semifinal AS Terbuka, Jumat (5/9/2025), di Flushing Meadows, New York, AS.

Dalam final Grand Slam di lapangan keras, Sabalenka tiga kali menang dari empat pertandingan, yaitu di Australia Terbuka 2023 dan 2024 serta AS Terbuka 2024. Hanya di AS Terbuka, Sabalenka kalah, yaitu dari Cori Gauff.

Dengan persentase kemenangan tertinggi pada tahun ini (sebelum AS Terbuka), yaitu 83,3 persen, Sabalenka mencapai final dalam dua dari tiga Grand Slam sebelumnya. Namun, dia kalah dalam laga tiga set dari Madison Keys di Australia Terbuka dan Coco, panggilan Cori Gauff, di Perancis Terbuka.

”Jika saya bisa mendapat trofi, itu akan sangat berarti. Mungkin, saya akan menjadi orang paling bahagia di dunia,” kata Sabalenka.

Tak hanya melalui tiga tahun beruntun dengan gelar Grand Slam, kemenangan di final akan mengantarkan Sabalenka sebagai juara tunggal putri AS Terbuka secara beruntun setelah Serena Williams pada 2012-2014. Setelah itu, juara selalu berganti setiap tahun dan hanya Osaka yang bisa dua kali juara, pada 2018 dan 2020.

”Saya harap, saya bisa mengubah daftar itu (mempertahankan gelar AS Terbuka),” katanya.

APTOPIX US Open Tennis

Sementara Osaka menyatakan bahwa dia tak terlalu kecewa dengan hasil yang didapat selama dua pekan di Flushing Meadows. Apalagi, semifinal melawan Anisimova menjadi yang pertama setelah dia menjadi seorang ibu.

Osaka menepi dari turnamen pada September 2022 hingga Desember 2023 karena hamil dan melahirkan anak pertamanya pada Juli 2023. Dalam tujuh Grand Slam sepanjang 2024 dan sebelum AS Terbuka 2025, hasil terbaiknya adalah saat mencapai babak ketiga di Australia Terbuka dan Wimbledon 2025.

Di AS Terbuka, performa yang solid membuatnya mengalahkan Coco pada babak keempat, lalu Karolina Muchova di perempat final. Coco meraih gelar Grand Slam kedua dalam kariernya di Perancis Terbuka 2025, sementara Muchova adalah petenis yang mengalahkannya di babak kedua AS Terbuka 2024.

”Saya tak terlalu sedih, rasanya memang aneh karena merasa seperti itu. Saya sudah melakukan yang terbaik di sini dan ini menjadi inspirasi untuk kembali berlatih dan berusaha lebih baik. Saya tak bisa marah pada diri sendiri dengan hasil ini,” tutur Osaka.

Target Djokovic

Menjelang semifinal tunggal putra melawan Carlos Alcaraz, pada Jumat siang waktu setempat, Novak Djokovic membawa target meruntuhkan dominasi Alcaraz dan Jannik Sinner. Dua petenis berusia 22 tahun dan 24 tahun itu adalah juara enam Grand Slam terakhir. Keduanya juga tampil dalam final Perancis Terbuka dan Wimbledon tahun ini.

Petenis Serbia, Novak Djokovic, memberikan komentar seusai pertandingan perempat final AS Terbuka melawan petenis AS, Taylor Fritz, di Flushing Meadows, New York, AS, Rabu (3/9/2025).

Final Alcaraz-Sinner edisi ketiga di arena Grand Slam pada 2025 dimungkinkan terjadi karena Sinner juga menjadi bagian dari semifinalis. Petenis nomor satu dunia ini diunggulkan atas lawan yang akan dihadapinya, Felix Auger-Aliassime.

”Kita tahu ada dua petenis terbaik di dunia dan mungkin semua orang berharap mereka bersaing di final. Saya akan mencoba merusak harapan orang lain,” kata Djokovic.

Perjalanan Djokovic di Grand Slam pada 2025 sebenarnya tak terlalu buruk dengan selalu lolos ke semifinal di semua turnamen pada usia 38 tahun. Namun, Sinner menghentikan langkahnya di Perancis Terbuka dan Wimbledon. Adapun di Australia Terbuka, Djokovic mengundurkan diri saat melawan Alexander Zverev karena cedera.

Pertemuan Djokovic dengan Alcaraz akan terjadi untuk yang kesembilan kali dan yang pertama di AS Terbuka setelah pernah bersaing dalam tiga Grand Slam lain. Djokovic menang dalam dua pertemuan terakhir, di final Olimpiade Paris 2024 dan perempat final Australia Terbuka 2025, tetapi kondisinya tak terlalu bugar. Saat melawan Taylor Fritz di perempat final, dia mengalami rasa sakit di pundak dan kaki kanan. (AFP/AP)

FAKTA FINAL TUNGGAL PUTRI AS TERBUKA 2025

-       Final ketiga beruntun Aryna Sabalenka di Flushing Meadows

-       Final Grand Slam ketiga Sabalenka pada 2025 setelah Australia dan Perancis Terbuka

-       Final keenam Sabalenka di turnamen lapangan keras dari tujuh final Grand Slam

-       Sabalenka selalu tampil di final Grand Slam lapangan keras sejak 2022

-       Final kedua beruntun Anisimova di Grand Slam setelah Wimbledon

-       Anisimova adalah tunggal putri AS ketiga yang tampil di final Grand Slam 2025 setelah Madison Keys (juara Australia Terbuka) dan Cori Gauff (juara Perancis Terbuka)

-       Anisimova adalah petenis AS ketiga yang dihadapi Sabalenka dalam final AS Terbuka setelah Coco (2023) dan Jessica Pegula (2024)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar