Cori Gauff menjuarai tunggal putri Grand Slam Perancis Terbuka. Saat melawan Aryna Sabalenka di final, dia bangkit setelah kehilangan set pertama.
08 Jun 2025 13:23 WIB · Olahraga
Cori Gauff menjuarai turnamen Perancis Terbuka yang merupakan gelar kedua di ajang Grand Slam. Dia memeluk trofi Suzanne Lenglen dalam sesi foto di ruang ganti pemain setelah meragukan dirinya bisa menjuarai turnamen tenis di lapangan tanah liat itu.
Petenis Amerika Serikat, yang lebih dikenal dengan nama panggilan Coco, itu menjadi tunggal putri terbaik dalam persaingan yang berlangsung selama dua pekan di lapangan tanah liat Roland Garros, Paris, Perancis. Dia menjadi juara setelah mengalahkan Aryna Sabalenka dengan skor 6-7 (5), 6-2, 6-4 dalam final di Lapangan Philippe Chatrier, Sabtu (7/6/2025).
Petenis berusia 21 tahun itu menjadi petenis AS pertama yang menjuarai Perancis Terbuka sejak idolanya, Serena Williams, pada 2015. Kecuali saat Chris Evert dan Martina Navratilova, yang total mendapat sembilan gelar juara di Roland Garros antara 1974-1986, petenis-petenis AS sering kali kesulitan menjuarai Perancis Terbuka. Mereka kalah bersaing dengan petenis Eropa yang memang lebih terbiasa bermain di lapangan tanah liat.
Final Sabalenka melawan Coco menjadi pertemuan petenis ranking teratas dan kedua dunia yang juga merupakan juara Grand Slam. Sabalenka membawa tiga gelar Grand Slam dari turnamen lapangan keras (Australia Terbuka 2023 dan 2024 serta Amerika Serikat Terbuka 2024). Setelah menjadi juara di Flushing Meadows, New York, pada 2024, dia juga mencapai final Australia Terbuka 2025, tetapi kalah dari Madison Keys.
Coco baru menjuarai AS Terbuka 2023, tetapi mempunyai pengalaman tampil pada final Perancis Terbuka 2022. Dalam usia 18 tahun saat itu, Coco kesulitan mengimbangi Iga Swiatek yang akhirnya menjuarai Perancis Terbuka 2022-2024. Meski demikian, dia tetap mencatatkan prestasi sebagai finalis Grand Slam termuda dalam rentang hampir 18 tahun.
Saat menjalani final Perancis Terbuka 2022, yang merupakan final pertamanya di arena Grand Slam, Coco merasa sangat gugup. Berselang tiga tahun kemudian, ternyata rasa itu tetap ada. Dia meragukan diri sendiri, apakah akan bisa mengatasi tekanan final, terutama dalam hal tekanan mental.
”Saya bahkan menangis. Saya sangat gugup dan sulit bernapas. Tetapi, saya berpikir, jika tak bisa mengatasinya saat ini, bagaimana saya bisa mengatasi tekanan yang sama ke depannya?” ujar Coco.
Coco kemudian teringat pada kata-kata rapper di negaranya, Tyler the Creator. ”Dia mengatakan, ’Jika aku memberitahumu bahwa aku mempunyai keraguan dalam diriku, aku pasti berbohong’,” katanya.
Pada awal pekan ini, Coco juga bercerita bagaimana dia belajar mengatasi tekanan bermain pada final Grand Slam. Coco melihat banyak orang di sekitarnya harus berjuang mengatasi kesulitan lebih besar dibandingkan jika dia kalah di final.
Coco membawa pola pikir itu ke lapangan. Akan tetapi, mengatasi permainan Sabalenka yang bisa memukul keras dan akurat dengan konsisten bukan hal mudah. Petenis Belarus ini membawa kepercayaan diri tinggi karena bertahun-tahun belajar mengatasi sulitnya bermain di lapangan tanah liat. Salah satu hasilnya, Sabalenka menjuarai WTA 1000 Madrid, tiga pekan sebelum Perancis Terbuka, dengan mengalahkan Coco di final.
Sabalenka memulai laga final dengan penuh percaya diri. Pukulan-pukulannya melaju deras dari garis belakang memaksa Coco pontang-panting mengerahkan seluruh kemampuannya.
Coco yang selalu stabil penampilannya sejak putaran pertama mengalami double break hingga tertinggal 1-4 (0-40) sebelum menemukan kembali irama permain berkat servis pertamanya yang lebih konsisten dibandingkan laga-laga sebelumnya. Di sisi lain, Sabalenka justru kehilangan irama setelah berkali-kali melakukan unforced error pada poin-poin penting.
Meski memenangi set pertama melalui tie-break, penampilan Sabalenka terus menurun sejalan dengan embusan angin yang mendera lapangan utama Roland Garros. Dengan embusan angin yang lebih kencang, dia tak dapat lagi mengandalkan groundstroke keras. Petenis berusia 27 tahun itu pun tak mampu mengendalikan emosi dan tampak gusar berlebihan saat membuat unforced error.
Kondisi berangin itu lebih banyak mengganggu Sabalenka dibandingkan Coco yang dalam beberapa kesempatan mengurangi kekuatan servis pertama untuk menaikkan persentase keberhasilan. Beberapa kali Coco melakukan kick serve pada servis pertamanya, yang justru membuat Sabalenka sulit mengantisipasi rotasi bola.
Berbeda dengan final melawan Swiatek tiga tahun lalu, kali ini, Coco bisa mengubah rasa takutnya menjadi ketenangan. Dia tampil sangat dingin walaupun kehilangan set pertama dengan menyesakkan karena unggul lebih dulu 4-1 hingga 5-4 saat tie-break dalam durasi satu jam 20 menit.
”Setelah kehilangan set pertama, saya berkata pada diri sendiri harus mengerahkan semuanya. Kalaupun kalah, setidaknya saya sudah berjuang maksimal dan bisa pulang untuk bertemu pacar dan melakukan kegiatan bersama keluarga,” tuturnya.
Dengan melepas beban dari pikirannya, Coco merayakan kemenangan dengan memeluk semua anggota timnya di tribune, termasuk ibunya, Candy, yang terlihat tegang sepanjang pertandingan. Adapun ayahnya, Corey, tetap pada kebiasaannya, yaitu baru bergabung di tribune tim setelah Coco menyelesaikan pertandingan.
Gelar juara yang diraih Coco tak hanya menarik perhatian petenis dan mantan petenis. Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Ibu Negara Michelle Obama pun turut memberi ucapan selamat.
Melalui media sosial, Michelle Obama menulis bahwa kemenangan Coco sangat menginspirasi. ”Coco memperlihatkan determinasi, kekuatan, dan keanggunan bermain selama dua pekan,” kata Michelle.
”Kamu membuat kami semua bangga,” tulis Barack Obama, beberapa menit setelah istrinya mengucapkan selamat.
Keluarga Presiden ke-44 AS itu bertemu Coco pada AS Terbuka 2023. Coco bertemu Obama setelah meraih gelar juara dan mengatakan bahwa momen itu tak akan terlupakan dalam hidupnya.
Navratilova, juara Perancis Terbuka 1982 dan 1984, memuji perjuangan Coco untuk bangkit. Juara tunggal putra 14 kali, Rafael Nadal; Carlos Alcaraz; hingga pebasket AS, LeBron James; juga meramaikan media sosial melalui penghargaan mereka untuk Coco, Sabalenka, dan pertandingan final itu. (AFP/AP/REUTERS)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti