Dari 12 wakil Indonesia dalam Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis, ada tiga wakil yang merupakan wajah baru. Mereka antusias, tetapi harus mengontrol antusiasme.
23 Agt 2025 12:10 WIB · Olahraga
Bertanding dalam turnamen besar biasanya memunculkan motivasi sekaligus tekanan lebih besar dari diri sendiri. Pebulu tangkis Indonesia yang akan menjalani debut dalam Kejuaraan Dunia menyikapinya dengan membawa pola pikir sama seperti menghadapi kejuaraan lain.
Dari 12 wakil Indonesia yang akan tampil di Paris, Perancis, pada 25-31 Agustus 2025, ada tiga wakil yang akan merasakan atmosfer Kejuaraan Dunia untuk pertama kali. Mereka adalah Alwi Farhan, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, dan Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani.
Dalam struktur kejuaraan BWF, Kejuaraan Dunia berada pada level tertinggi bersama ajang beregu, seperti Piala Thomas dan Uber, Piala Sudirman, dan Piala Suhandinata untuk kategori yunior. Pesertanya adalah mereka yang menerima undangan dari BWF berdasarkan daftar ranking dunia pada tanggal tertentu. Ranking tersebut dijadikan patokan untuk menentukan kuota setiap negara, termasuk atlet-atlet yang berhak tampil.
Jafar/Felisha dan Sabar/Reza termasuk dalam daftar undangan BWF fase pertama berdasarkan daftar ranking per 29 April 2025 yang dijadikan patokan. Dalam daftar tersebut, Jafar/Felisha dengan ranking ke-20 dunia (saat ini ke-11) berstatus sebagai ganda campuran nomor satu Indonesia, sementara Sabar/Reza (ranking kedelapan) adalah ganda putra kedua di bawah Fajar alfian/Muhammad Rian Ardianto di peringkat keempat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/08/2a362168ac3f4cac44e6c7b4167e500d-20250607TOK50.jpg)
Pasti kami sangat senang bisa mendapat undangan dari BWF karena tampil di Kejuaraan Dunia menjadi salah satu mimpi kami. Semoga kami bisa tampil baik di sana.
Alwi mendapat tiket dari BWF dengan jalan lain. Dia berstatus sebagai pemain cadangan nomor delapan, tetapi akhirnya lolos pada menit-menit akhir setelah Viktor Axelsen mengundurkan diri. Juara dunia 2017 dan 2022 itu masih dalam masa pemulihan setelah operasi tulang belakang.
Selain Jafar/Felisha, Indonesia akan diwakili Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari di ganda campuran. Skuat ganda putra diperkuat juga Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana, sementara Alwi akan membela Merah Putih bersama Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie.
Leo/Bagas pernah merasakan persaingan Kejuaraan Dunia bersama pasangan sebelumnya. Leo bermain bersama Daniel Marthin pada 2022, sementara Bagas bersama Muhammad Shohibul Fikri pada 2022 dan 2023.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/22/46857d34-d8e0-4765-8cd5-3f81b52516e0_png.png)
Pengalaman itu berbeda dengan Sabar/Reza yang baru kali ini masuk dalam daftar peserta Kejuaraan Dunia. Mereka mendapatkan kesempatan itu berkat prestasi yang meningkat pada enam bulan kedua 2024, yaitu ketika dua kali lolos ke semifinal dan tiga kali ke final dari sembilan turnamen. Salah satu semifnal dicapai pada kejuaraan Final BWF, kejuaraan yang hanya diikut delapan wakil terbaik dari setiap nomor berdasarkan prestasi pada tahun tersebut.
Pada 2025, performa Sabar/Reza naik-turun, tetapi semifinal All England menjadi modal berharga dan turut menambah poin ranking untuk penentuan peserta yang lolos ke Paris 2025. Selain itu, final Indonesia Terbuka menjadi tambahan bekal untuk tampil di Kejuaran Dunia pertama pada usia 29 dan 27 tahun.
”Pasti kami sangat senang bisa mendapat undangan dari BWF karena tampil di Kejuaraan Dunia menjadi salah satu mimpi kami. Semoga kami bisa tampil baik di sana,” kata Sabar yang berstatus sebagai pemain independen.
Jafar/Felisha mendapat kesempatan bermain di Kejuaraan Dunia pada usia muda, yaitu 22 dan 19 tahun. Kedua atlet yang digabungkan sejak Agustus 2024 itu menorehkan prestasi secara bertahap, mulai dari level international challenge dan Super 100 pada tahun tersebut. Tahun ini, mereka mendapat gelar pertama BWF World Tour dengan menjuarai Taiwan Terbuka Super 300.
Pada level lebih tinggi, yang kualitas pesertanya bisa disetarakan dengan Kejuaraan Dunia, Jafar/Felisha mendapat hasil terbaik ketika mencapai semifinal China Terbuka Super 1000, 22-27 Juli 2025. Mereka menyingkirkan dua pasangan peringkat sepuluh besar dunia dan bermain tiga gim melawan ganda peringkat kedua dunia, Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin, di semifinal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/05/deef7ef7ba4f8830be7889227afa3e00-20250605TOK8.jpg)
Seperti semua atlet yang lolos ke Kejuaraan Dunia, termasuk mereka yang berkali-kali pernah tampil, Jafar/Felisha pun antusias. Namun, mereka berusaha mengontrol antusiasme tersebut karena keduanya mempunyai karakter ambisius yang bisa menjadi bumerang saat bermain. Jika tak dikontrol, sifat tersebut bisa merusak permainan di lapangan.
Belajar dari turnamen-turnamen level tinggi, mereka kerap saling mengingatkan tentang bagaimana harus fokus pada momen yang tengah dialami, momen here and now jika meminjam istilah dalam psikologi.
Apalagi, seperti dikatakan Felisha seusai mengikuti China Terbuka, mereka tetap harus memoles diri untuk bisa konsisten bersaing dengan pasangan papan atas, terutama pemain-pemain China dan Thailand.
Dalam masa persiapan di pelatnas Cipayung, faktor konsistensi berusaha diwujudkan dengan kualitas latihan yang tak turun pada setiap sesi, sejak menit pertama hingga terakhir. ”Setiap latihan, seberat apa pun kondisinya, dicoba untuk konsisten. Jadi, kalau kami bisa latihan berat dengan konsisten, diharapkan pada pertandingan pun bisa seperti itu,” tutur Felisha.
Alwi mempunyai momen yang akan dibawanya untuk tampil di Paris 2025. Pertandingan melawan Nguyen Hai Dang (Vietnam), pada babak pertama, berselang tiga tahun setelah dia debut dalam Kejuaraan Dunia Yunior 2022 di Spanyol dan dua tahun setelah menjadi juara dunia yunior di Amerika Serikat.
”Dalam Kejuaraan Dunia, semua peserta pasti ingin juara. Semua pasti punya semangat yang sama, juga tekanan yang sama. Saya akan belajar dari Kejuaraan Dunia Yunior 2022,” kata Alwi.
Saat ajang itu digelar di Santander, Spanyol, setelah dua tahun tak diselenggarakan karena pandemi Covid-19, Alwi menjadi unggulan kedua tunggal putra dan mendapat bye di babak pertama. Namun, Alwi langsung kalah pada pertandingan pertamanya yang terjadi di babak kedua.
Momen lain yang dijadikan pelajaran oleh Alwi adalah saat menjuarai Makau Terbuka Super 300, 29 Juli-3 Agustus, yang merupakan gelar pertama BWF World Tour. Atlet berusia 20 tahun itu menjelaskan, gelar juara Makau Terbuka menjadi modal semangat, tetapi dia harus tetap mengontrol emosi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/22/f10ed090b13f2d64fa3dafa5f9ba4008-Alwi6_R32_ChinaOpen2025_PBSI_20250722.jpg)
Meskipun Kejuaraan Dunia adalah turnamen bulu tangkis individu terbesar, Alwi tak ingin silau dengan status tersebut. Sikapnya tak akan berbeda seperti ketika dia menjalani turnamen lain agar bisa mengurangi tekanan dan ambisi yang muncul dari diri sendiri.
Sabar/Reza juga memiliki pola pikir yang sama. Latihan ekstra dalam faktor fisik dan teknis dijalani selama sekitar dua pekan, tetapi mereka memandang Kejuaraan Dunia sama seperti turnamen BWF World Tour lainnya.
”Kemungkinan lawan yang akan dihadapi sama seperti di turnamen lain. Jadi, pola pikir kami saat menghadapi Kejuaraan Dunia pun sama. Kami mau menikmati, tidak mau terbebani dengan status Kejuaraan Dunia. Fokus kami adalah menjalani pertandingan pertama dulu dengan baik,” kata Sabar.
Selain perjalanan menuju semifinal All England dan final Indonesia Terbuka Super 1000 sebagai modal, Sabar/Reza mendapat masukan dari Hendra Setiawan yang menjadi pelatih mereka pada tahun ini. Hendra, tiga kali juara dunia bersama Mohammad Ahsan, mengatakan, bermain tanpa beban menjadi faktor kunci untuk bisa bertahan hingga fase-fase akhir dalam Kejuaraan Dunia.
”Selain itu, Koh Hendra bilang, mereka yang menang biasanya adalah yang lebih berani saat bermain di lapangan,” kata Sabar.
Persiapan teknis dan nonteknis dari pengalaman bertanding dalam BWF World Tour telah dijalani Alwi, Jafar/Felisha, dan Sabar/Reza untuk debut di Kejuaraan Dunia. Kini, semuanya tergantung pada kemampuan mereka untuk mempraktikkan dalam pertandingan.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nur Adji