Warga suatu kota berbeda persepsi dengan turis yang datang sesaat dan dibutakan oleh imajinasinya sendiri. Disebut Sindrom Paris, dampak gejala ini tak main-main.
05 Jun 2026 13:00 WIB · Kolom
Setiap pagi, jutaan warga kota bergerak. Bangun, bersiap, sarapan, mengantar anak sekolah, bekerja, belanja, sesekali nongkrong, pulang. Mengarungi jam demi jam dengan kesibukan yang itu-itu saja. Besoknya, berulang lagi. Tidak ada yang salah dengan ritme itu, sampai kita menyadari bahwa kota yang kita tinggali perlahan berubah monoton, sekadar rute pos demi pos lintasan, bukan ruang hidup.
Michel de Certeau, dalam The Practice of Everyday Life (1984), membedakan dua cara bergerak di kota, yaitu strategi dan taktik. Strategi adalah cara pandang dari atas, kita bisa melihat ini dari cara perencana kota, pemerintah, dan korporasi membaca dan mengatur ruang. Hal tersebut berbeda dengan taktik, yaitu cara warga biasa menggunakan ruang itu secara improvisatif, spontan, dan kadang-kadang subversif.
De Certeau menulis bahwa berjalan kaki sebenarnya tindakan taktis. Dengan berjalan kaki, tubuh dipaksa mendapatkan pengalaman saat berinteraksi dengan kota. Warga yang berjalan menelusuri gang, memilih melintasi pasar, mampir di kedai penganan kecil, adalah mereka yang sedang bernegosiasi dengan kota secara hidup dan personal.
Namun, apa yang terjadi ketika berjalan kaki pun sudah menjadi sekadar alat untuk sampai di tujuan berikutnya?
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/27/dbf39f5703238f3abdda6d4514e6905d-20260327ron07.jpg)
Makin jarang orang memanfaatkan trotoar sebagai ruang untuk melamun, melihat, merasakan. Makin sering, bahkan mungkin kita sendiri melakukannya, menjadikan trotoar semata koridor menuju parkiran, pintu mal, stasiun. Ruang yang nyaris tidak pernah lagi diperhatikan, terlebih jika ada gawai di tangan.
Tidak heran jika banyak kaum urban seluruh geraknya ditentukan oleh daftar keperluan. Relasi dengan kota, dengan tempatnya, dengan orang-orangnya, kian luruh dan menipis. Bahkan, untuk bisa mengunjungi teman dan handai tolan pun terkadang harus dibungkus oleh suatu acara atau kegiatan tertentu. Pengguna kendaraan bermotor pribadi makin kuat merasakan budaya ini.
Tanpa tujuan atau keperluan, setiap orang bisa terpuruk berjam-jam di sudut tempat tinggalnya tenggelam dalam gawai. Atau, di kafe dengan kesibukan serupa sendirian.
Ironinya, kota yang warganya lalui dengan penuh tekanan dan tanpa keintiman itu bisa tampil megah di mata orang luar. Paris adalah contoh paling tepat. Di benak wisatawan asing, Paris itu kota cinta, Sungai Seine diidentikkan dengan rasa melankolis nan indah. Citra itu dibangun oleh film, iklan, media sosial, yang bisa jadi jauh dari kenyataan. Akibatnya, siapa yang tidak ingin merasakan romantisme bersama pujaan hati berlatar Menara Eiffel bak aktor dan aktris di serial Emily in Paris? Di Indonesia, perjalanan dinas pejabat negeri pun sampai viral dibumbui gosip roman picisan itu. Seru!
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/07/13/a35f448b-6633-4509-b658-b25579ac6067.jpg)
Namun, Reuters dan BBC pernah memberitakan tentang pengalaman sekelompok turis Jepang yang traumatis seusai berwisata ke Paris. Mereka dilaporkan tidak siap menerima saat mendapat pengalaman tidak mengenakkan serta situasi jalanannya yang tak seindah harapan. Ada turis terjerat modus penipuan, kena copet, bertemu pedagang jalanan yang sering memaksa turis membeli dagangannya.
Ketidaksesuaian antara Paris dalam imajinasi dan Paris dalam kehidupan nyata melahirkan istilah Paris Syndrome yang dicatat secara klinis di jurnal psikiatris Nervure pada tahun 2024. Meskipun demikian, laporan Biology Insights juga mengulas bahwa Sindrom Paris sering pula disajikan secara hiperbolis oleh media massa.
Di luar polemik Sindrom Paris, imajinasi kota yang berbeda dari fakta tersebut terbukti tidak hanya dialami para turis, tetapi juga warga lokal. Masih di Paris, warga setempat—terutama mereka dari kelas menengah ke bawah yang tinggal di pinggiran—misalnya, menghadapi tekanan karena kebijakan pengelola kota dinilai tidak berpihak kepada mereka. Biaya sewa tempat tinggal dan tempat usaha yang tinggi sampai akses ke pusat kota yang terbatas mendera mereka.
Semakin kuat seseorang merasa bagian dari suatu tempat, semakin besar kemungkinan ia bertindak untuk melindunginya.
Kota-kota lain, termasuk Jakarta, tidak jauh berbeda nasibnya. Pusat Jakarta di poros Sudirman-Thamrin yang terus dipoles, misalnya, menarik orang untuk selalu datang ke sana. Bus wisata keliling kawasan itu selalu diminati. Jembatan penyeberangan estetis sampai trotoar dengan hiasan tematis selalu menjadi tujuan wisata.
Di sisi lain, di jalan-jalan di belakang barisan gedung tinggi, di perkampungan dan kawasan lain tak jauh dari inti Jakarta itu, masih dibelit persoalan keseharian yang jauh dari estetika. Ada banjir menyergap kala hujan deras datang, kemacetan, ketidakpastian hunian.
Lalu, bagaimana kota bisa berharap bertahan menghadapi berbagai tantangan, termasuk krisis iklim, jika relasi antara warga dan kotanya sudah sedemikian renggang?
Kita bisa merasakannya sendiri sebagai sesama warga kota, ada gejala yang cukup aneh. Di masa sekarang, warga seolah berlomba menjadi lebih hijau secara individual, membawa tumbler, tak lagi pakai tas plastik sekali pakai saat belanja, naik angkutan umum, menyukai atau menerima apa pun tren ramah lingkungan yang datang padanya. Walakin, perubahan sistemik tidak kunjung terasa.
Melihat kembali dari sisi relasi warga dan kota yang terlihat intens tetapi longgar, dapat dipahami bahwa di atas fondasi rapuh itu kota belum menjadi rumah dan kepedulian terhadapnya pun sekadar performatif.
Sebuah studi tentang perilaku pro-lingkungan warga Beijing di China menemukan bahwa dimensi ikatan sosial adalah prediktor paling kuat untuk mendorong perilaku pro-lingkungan, bahkan untuk perilaku yang membutuhkan usaha tinggi. Penelitian serupa yang diterbitkan di Frontiers in Psychology (2025) mengonfirmasi bahwa keterikatan pada tempat tinggal secara signifikan memengaruhi perilaku pro-lingkungan melalui mekanisme psikologis berupa identitas tempat dan ikatan sosial. Semakin kuat seseorang merasa bagian dari suatu tempat, semakin besar kemungkinan ia bertindak untuk melindunginya.
Ketiadaan ikatan yang terjadi secara massal menunjukkan adanya masalah struktural, tak lagi soal individual. Para peneliti isu perkotaan pun berkesimpulan ini ekses dari kota yang direncanakan semata berbasis helicopter view, dari atas saja, kacamata para perencana yang tidak membumi. Kota masih dilihat dari keberhasilan produktivitas ekonomi dan narasi kota inklusif dangkal yang dihitung dari serapan wisatawan atau investor.
De Certeau percaya bahwa warga biasa, lewat praktik sehari-hari mereka, terus-menerus menciptakan kota alternatif di dalam kota resmi. Hal ini karena telah menjadi kebutuhan alami tiap individu urban untuk berelasi dengan sesamanya, dengan kotanya. Munculnya komunitas-komunitas berbasis hobi, keprihatinan atas isu tertentu, dan alasan lain adalah bagian dari taktik warga bernegosiasi dengan kotanya. Gerakan kecil yang tersebar dan tak terhubung tersebut dapat menjadi kekuatan besar untuk berubah jika dapat dipetakan serta diorkestrasi dengan tepat.
Pada momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati tiap 5 Juni, mungkin itulah pertanyaan yang perlu diajukan kepada para perencana dan pengambil kebijakan kota. Tentang bagaimana kita mengurangi emisi, jelas wajib diperjuangkan. Namun, ada hal mendasar yang wajib dipenuhi agar tersedia ”bahan bakar” abadi untuk mewujudkan kota berkelanjutan, yaitu bagaimana kita mengembalikan kota sebagai tempat layak dicintai oleh semua warga yang tinggal menetap ataupun sekadar mampir.
Kenapa itu penting? Karena kota yang cantik dari luar tetapi memendam masalah tak terselesaikan hanya akan menjadi lintasan semata, tak berjiwa, yang ujung-ujungnya sulit memiliki cukup warga yang rela berjuang untuknya.
Penulis:
Neli TrianaEditor:
Gesit AriyantoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar