Ketika Kawasan Bergejolak, Presiden Lee Berharap pada China

Isu peningkatan hubungan ekonomi dan politik menjadi perhatian utama Korea Selatan, khususnya terkait Korea Utara.

05 Jan 2026 16:27 WIB · Internasional

AFP/KIM MIN-HEE,ANDREW CABALLERO-REYNOLD

Oleh Elsa Emiria Leba

BEIJING, SENIN — Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung berkunjung ke China demi meningkatkan hubungan politik dan ekonomi. Lawatan ini terjadi sementara kawasan Asia Timur bergejolak karena isu Taiwan dan Korea Utara.

Lee menjadi pemimpin Korsel pertama yang mengunjungi Beijing dalam enam tahun terakhir. Dia tiba di China, Minggu (4/1/2026), untuk kunjungan selama 4-7 Januari 2026 bersama delegasi berisi pemimpin bisnis dan teknologi atas undangan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan puncak Lee-Xi berlangsung pada Senin (5/1/2026), yang merupakan tatap muka kedua mereka dalam dua bulan terakhir.

Di samping itu, Lee berharap dapat memanfaatkan pengaruh China atas Korut. Ia ingin Beijing mendukung upayanya untuk memperbaiki hubungan dengan Pyongyang.

”China adalah mitra kerja sama yang sangat penting dalam upaya menuju perdamaian dan penyatuan di Semenanjung Korea,” kata Lee saat bertemu dengan warga Korea di Beijing, menurut kantor berita Yonhap, Minggu.

Lee menambahkan, dia berharap kunjungan itu bisa berdampak positif pada hubungan bilateral kedua negara. Kunjungan ini ”akan menjadi titik awal baru untuk mengisi kesenjangan dalam hubungan Korea-China, mengembalikannya pada keadaan normal, dan meningkatkannya ke tingkat yang baru”.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung (kanan) dan istrinya iIbu Negara Kim Hea Kyung (kiri) menaiki pesawat untuk berangkat ke China di Pangkalan Udara Seoul di Seongnam, Korsel, Minggu (4/1/2026). Presiden Lee pergi ke China dengan harapan meningkatkan hubungan ekonomi dengan mitra dagang terbesar Seoul itu.

Sebelum berangkat, Korsel sudah berhati-hati untuk menarik hati China. Lee tidak berpartisipasi ketika Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memicu murka China karena membahas Taiwan. Pekan lalu, Lee dalam wawancara dengan CCTV menyampaikan penghormatan terhadap prinsip Satu China.

Seoul juga tidak mengecam ketika Beijing melakukan latihan militer besar-besaran di sekitar Taiwan, beberapa hari lalu. Latihan itu menampilkan rudal, jet tempur, kapal angkatan laut, dan kapal penjaga pantai sehingga menuai kecaman internasional.

Kekhawatiran Lee terhadap Korut bukan tanpa dasar. Beberapa jam sebelum Lee terbang ke Beijing, militer Korsel mengatakan, Korut telah menembakkan rudal balistik ke Laut Jepang. Aksi ini menjadi uji coba pertama Pyongyang pada tahun ini.

Upaya Korsel berbalas. Bagi para pengamat, kesediaan Xi untuk bertemu Lee dalam waktu singkat menunjukkan minat besar China untuk meningkatkan kerja sama, apalagi saat hubungan Beijing dan Tokyo sedang merosot ke titik terendah.

Profesor di Universitas Studi Asing Hankuk, Seoul, Kang Jun-young, mengatakan, Beijing sekarang berupaya menarik Korsel menjauh dari pengaruh Washington. ”China memandang Korsel sebagai mata rantai terlemah ketika kerja sama trilateral antara Korsel, Amerika Serikat, dan Jepang semakin kuat,” katanya.

Selama beberapa dekade, Korsel memang menjadi semacam penyeimbang antara China dan AS. Beijing merupakan mitra dagang terbesar Seoul, sedangkan Washington merupakan penjamin keamanan Seoul.

Gejolak kawasan

Kunjungan Lee terjadi ketika China dan Jepang tengah berseru. Pada November 2025, PM Takaichi menyebutkan, Tokyo dapat mengambil tindakan militer jika Beijing menyerang Taiwan. Bagi China, Tokyo telah melanggar prinsip Satu China dan empat kesepakatan politik kedua negara, termasuk komunike bersama tahun 1972.

Menjelang kedatangan Lee, Minggu, Korut juga terus meluncurkan rudal. Seoul dan Tokyo mendeteksi peluncuran dua rudal balistik dari dekat Pyongyang.

Media Pemerintah Korut, KCNA, Senin, melaporkan, Pemimpin Korut Kim Jong Un mengawasi peluncuran rudal hipersonik ”mutakhir” guna mempersiapkan kekuatan nuklir untuk pencegahan perang.

Menurut KCNA, rudal-rudal, yang terlihat seperti Hwasong-11, mengenai sasaran berjarak sekitar 1.000 kilometer di atas laut di sebelah timur Korut. Korut sudah pernah menembakkan rudal hipersonik pada Oktober 2025. Kepemilikan senjata hipersonik akan memberi Pyongyang kemampuan untuk menembus perisai pertahanan rudal AS dan Korsel.

Menurut Kim, ”krisis geopolitik” membuat uji coba tersebut semakin mendesak, sebuah sinyal jelas terhadap serangan AS di Venezuela, pekan lalu. Pyongyang sudah mengecam serangan AS tersebut.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi sebuah pabrik yang terlibat dalam pembuatan senjata berpemandu taktis di lokasi yang dirahasiakan di Korea Utara dalam sebuah foto bertanggal Sabtu (3/1/2026) yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) melalui KNS pada Minggu (4/1/2026).

Para pengamat melihat ada dua makna tersirat dalam peluncuran tersebut. Hong Min, analis Institut Unifikasi Nasional Korea di Seoul, mengatakan, uji coba itu merupakan respons terhadap serangan AS di Venezuela. Pyongyang berusaha mengirim pesan bahwa Korut memiliki alat pencegah perang dan kemampuan nuklir. Tidak seperti Venezuela.

”Laporan media pemerintah pada hari Minggu menunjukkan bahwa Kim telah mengunjungi fasilitas pembuatan senjata berpemandu taktis. Hal ini menunjukkan kemampuan untuk meluncurkan serangan yang lebih tepat daripada peluncur roket ganda yang ada dari berbagai platform, termasuk udara dan darat,” tutur Hong.

Sementara itu, pengamat lain melihat peluncuran itu juga berkaitan dengan kunjungan Lee ke China. ”Peluncuran rudal merupakan pesan kepada China untuk mencegah hubungan yang lebih dekat dengan Korsel dan untuk melawan sikap China tentang denuklirisasi,” ujar Lim Eul-chul, profesor di Institut Studi Asia Timur di Seoul.

Banyak ahli memperkirakan operasi militer AS di Venezuela akan memacu Kim untuk memperluas kemampuan senjata nuklirnya. Bagi Kim, senjata nuklir adalah penjamin kelangsungan pemerintahan dan kedaulatan negara dalam menghadapi permusuhan AS.

Kerja sama ekonomi

Selain isu kawasan, Lee juga menyerukan peningkatan hubungan bilateral di bidang ekonomi yang saling menguntungkan. Ia membawa delegasi berisi lebih dari 200 pemimpin di bidang teknologi, hiburan, dan gim, termasuk dari Samsung, SK Group, beserta Hyundai.

Sebelum bertemu Xi, Senin, Lee bertemu dengan para pebisnis dari kedua negara. Dia menyatakan, Korsel dan China perlu memacu kerja sama di bidang akal imitasi (AI), kecantikan, dan produk budaya.

Kerja sama di sektor-sektor tersebut dapat menjadi mendorong perdagangan bilateral. Perdagangan bilateral tahunan kedua negara stagnan di angka sekitar 300 miliar dollar AS, menurut Yonhap.

”Kedua negara telah saling membantu untuk tumbuh melalui rantai pasokan industri yang saling terhubung dan memimpin ekonomi global. Sudah saatnya untuk menentukan jalan baru karena lingkungan perdagangan global berubah dengan cepat, teknologi berkembang pesat, dan rantai pasokan yang semakin sulit diprediksi,” kata Lee.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung (tengah) berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping sambil berpose untuk foto bersama dengan para pemimpin dari Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pada hari terakhir konferensi tingkat tinggi APEC 2025 di Gyeongju, Korea Selatan, Sabtu (1/11/2025).

Para pejabat Korea berharap kunjungan Lee dapat melonggarkan larangan tidak resmi China terhadap impor budaya pop Korsel. Larangan ini telah berlaku selama hampir satu dekade.

”Posisi resmi China adalah bahwa tidak ada yang namanya larangan terhadap konten Korea, tetapi dari perspektif kami, situasinya tampak agak berbeda,” ujar Penasihat Utama Presiden Korsel Wi Sung-lac.

Setelah bertemu Xi, Lee akan  melakukan perjalanan ke pusat keuangan Shanghai, rumah bagi komunitas bisnis Korsel. Di kota itu, ia akan menghadiri pertemuan puncak perusahaan rintisan dan mengunjungi bekas markas besar pemerintah Korea di pengasingan selama pemerintahan Jepang.

Xi dan Lee terakhir bertemu di sela-sela KTT APEC 2025 di Gyeongju, Korsel, November 2025. Pertemuan itu merupakan bagian dari upaya Seoul untuk memperbaiki hubungan bilateral setelah bertahun-tahun berjalan dengan ketegangan. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti