Ketika Pesawat dan Helikopter Jadi Ujung Tombak Operasi Tanggap Darurat di Sumatera

Alutsista tidak hanya mendistribusikan logistik dan personel, tapi juga membuka akses, menjangkau wilayah terisolasi, termasuk evakuasi medis dalam waktu singkat.

02 Des 2025 17:46 WIB · Politik & Hukum

Istimewa

Oleh Norbertus Arya Dwiangga Martiar

Sementara transportasi darat masih terputus, akses udara menjadi tulang punggung untuk menjangkau dengan segera wilayah-wilayah terdampak banjir di Sumatera. Hari-hari ini, pesawat angkut, helikopter, dan kapal menjadi ujung tombak penyaluran bantuan bagi para korban. 

Belum genap sebulan setelah tiba di Indonesia pada awal November 2025, pesawat Airbus A400M Atlas TNI Angkatan Udara dengan nomor ekor A-4001 sudah menjalankan operasi tanggap darurat. Pesawat baru mengangkut bantuan ke tiga provinsi yang terdampak banjir dan longsor, yakni di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Beragam bantuan, seperti makanan siap saji, mi instan, tenda darurat, genset, bahan pokok, perahu karet, dan perangkat komunikasi, dengan mudah diangkut ke dalam lambung pesawat dengan kapasitas angkut hingga 37 ton itu.

Airbus A400M tidak sendirian. TNI AU juga menurunkan beberapa pesawat angkut C-130 Hercules dari Skuadron 31 Pangkalan TNI AUHalim Perdanakusuma, Jakarta, untuk mengangkut bantuan. Sebagaimana namanya mengikuti pahlawan dalam mitologi Yunani, Hercules, pesawat tersebut dapat difungsikan untuk multiperan, termasuk untuk misi kemanusiaan dan operasi tanggap darurat.

Indonesia belum lama ini mengoperasikan lima pesawat angkut Hercules teranyar, yakni C-130J Super Hercules. Meski kapasitas angkutnya sedikit lebih kecil di bawah Airbus A400M, Hercules adalah pesawat tangguh yang selalu diterjunkan di berbagai operasi kemanusiaan atau atau tanggap darurat. Mulai dari bencana gempa dan tsunami Aceh (2004); Erupsi Gunung Merapi (2010); gempa dan tsunami di Palu-Donggala (2018); banjir bandang di Sentani, Papua (2019); hingga banjir besar di Kalimantan Selatan (2021).

Aktivitas petugas dalam pengiriman bantuan logistik untuk korban bencana banjir di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu (29/11/2025). Pengiriman bantuan logistik untuk korban bencana banjir di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh tersebut sudah berlangsung dua hari dengan menggunakan empat pesawat angkut berat TNI AU. Armada tersebut terdiri dari satu Hercules C-130, dua Super Hercules C-130J dan Airbus A400M. 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
29-11-2025

Dalam misi tanggap darurat bencana banjir dan longsor di Sumatera, pesawat angkut tersebut akan membawa berbagai bantuan ke bandara terdekat dengan lokasi bencana di tiga provinsi terdampak. Dari bandara-bandara tersebut, bantuan akan diangkut dengan helikopter ke lokasi-lokasi terdampak banjir dan longsor yang tersebar di berbagai wilayah.

Harian Kompas mencatat, hingga Senin (1/12/2025), sejumlah daerah di Sumatera Barat masih harus dijangkau lewat jalur udara. Untuk Solok, misalnya, logistik seberat 360 kilogram dibawa helikopter Badan SAR Nasional (Basarnas). Di Maligi, Kabupaten Pasaman Barat, bantuan seberat 1,34 ton dibawa helikopter TNI AU. Untuk Agam, bantuan pangan dan nonpangan seberat 2,3 ton diterjunkan menggunakan helikopter TNI AU ke Tiku dan Sungai Puar, Agam.

Oleh karena itu, berbagai jenis helikopter dari sejumlah instansi menjadi ujung tombak penyaluran bantuan ke masyarakat yang hingga saat ini belum bisa dijangkau melalui akses darat. TNI Angkatan Darat telah mengerahkan dua helikopter, yakni satu unit Mi-17 dan satu unit Bell 412.

Helikopter Mi-17 merupakan helikopter angkut medium asal Rusia. Sebagai helikopter serbaguna, Mi-17 dapat digunakan mulai dari angkut personel, logistik, evakuasi, dan misi penanggulangan bencana dengan muatan kargo sampai 4.000 kilogram. Sementara helikopter Bell 412 merupakan helikopter serbaguna dengan muatan yang lebih kecil dan di Sumatera difungsikan untuk evakuasi korban, pengangkutan personel, distribusi logistik, dan dukungan medis.

Warga berjalan kaki menembus jalan yang putus akibat bencana banjir dan longsor di Jalan Tarutung-Sibolga, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut, Minggu (30/11/2025). Sepekan pasca bencana, Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga masih terputus.

Dari matra laut, TNI Angkatan Laut mengerahkan tiga helikopter AS-565 MBe Panther dari unsur Skuadron Udara 100. Meski dirancang untuk operasi laut, helikopter buatan Perancis ini dikenal stabil dan cocok untuk operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) dan didukung dengan sistem navigasi yang mendukung operasi malam dan cuaca buruk. Di daerah bencana, seperti Sumatera, helikopter ini akan sangat membantu untuk evakuasi korban dari daerah terisolasi, pengangkutan personel, dan dukungan medis.

Dari matra udara, selain pesawat angkut, TNI AU juga mengerahkan helikopter H-225M Caracal. Meski memiliki peran untuk operasi militer taktis, helikopter besutan Perancis tersebut juga dirancang untuk operasi SAR dan operasi tanggap darurat di daerah sulit. Dengan kapasitas penumpang 28-30 orang, H-225M Caracal dapat digunakan untuk distribusi logistik berat.

TNI AU juga menerbangkan pesawat angkut CN-295 untuk menerjunkan 90 helibox berisi bantuan darurat bagi warga terdampak banjir di Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Mengutip keterangan resmi TNI AU akun X TNI AU, Selasa (2/12/2025), langkah itu ditempuh untuk menjangkau sejumlah wilayah yang masih terisolasi setelah akses darat terputus akibat kerusakan infrastruktur. 

Adapun helibox adalah kemasan khusus yang dirancang menyerupai bilah baling-baling. Saat dijatuhkan dari pesawat, kotak tersebut akan berputar sehingga kecepatan jatuh melambat dan risiko benturan saat mendarat dapat diminimalkan. 

Bantuan untuk tiga provinsi yang terkena bencana - Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dikirimkan dari Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (28/11/2025).

”Pengiriman bantuan dilakukan dari Lanud Soewondo menuju Drop Zone (DZ) Batuarimo, dengan memprioritaskan suplai pangan untuk masyarakat yang masih kesulitan memperoleh kebutuhan pokok. Bantuan tersebut meliputi bahan makanan serta perlengkapan darurat lain yang diperlukan segera oleh warga di wilayah terdampak,” kata Kadispenau Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana.

Kerahkah KRI

Selain udara, operasi tanggap darurat juga dilancarkan melalui jalur laut. TNI Angkatan Laut menyiapkan empat kapal KRI, yaitu KRI dr Soeharso-990, KRI Semarang-594, KRI Teluk Banten-516, dan KRI Gilimanuk-531, untuk mendukung logistik, pergeseran pasukan, dan evakuasi korban. KRI Soeharso-990 merupakan kapal rumah sakit yang dapat ditugaskan untuk operasi bantuan medis dan kemanusiaan, evakuasi korban bencana, serta dukungan logistik.

Demikian pula KRI Semarang-594 merupakan kapal bantu yang berfungsi sebagai rumah sakit terapung ringan. Baik KRI Soeharso-990 maupun KRI Semarang-594 memiliki helipad yang mendukung pendaratan helikopter ringan dan medium, seperti Bell 412 dan Panther.

Sementara KRI Teluk Banten-516 dan KRI Gilimanuk-531 merupakan kapal bertipe landing ship tank (LST) atau kapal angkut logistik. Dalam operasi tanggap darurat, kapal tersebut bisa difungsikan untuk mendukung distribusi logistik, perlengkapan darurat, hingga personel. Selain kapal besar, TNI juga mengerahkan perahu karet/LCR untuk menjangkau korban di daerah tergenang air.

Tampak KRI Soeharso 990 di Pelabuhan Sorong. Tiga anggota TNI yang menjadi korban serangan kelompok kriminal bersenjata di Kabupaten Maybrat, Papua Barat, menjalani operasi di KRI Soeharso pada Kamis (20/1/2022).

Selain TNI, Polri juga menurunkan kekuatan udara dan air dalam operasi tanggap darurat di Sumatera berupa 3 pesawat angkut logistik, 5 helikopter, dan 9 kapal patroli Polair. Helikopter terdiri dari AW169/P-3303, Dauphin AS365 N3/P-3103, NBO-105/P-1112, Bell 429/P-3203, dan Bell 412EP/P-3002. Sementara pesawat udara terdiri dari CN295/P-4501, Fokker 27 MK50/P-4401, dan Boeing 737-800NG/P-7301.

Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies, Khairul Fahmi, berpandangan, operasi tanggap darurat yang dijalankan TNI di wilayah bencana di Sumatera menunjukkan TNI tengah menjalankan salah satu mandat strategisnya, yakni operasi militer selain perang (OMSP). Operasi macam ini selalu dijalankan TNI di berbagai kondisi krisis, terutama ketika terjadi bencana.

”Penggunaan alutsista, seperti pesawat, helikopter, dan kapal, juga unsur darat, memperlihatkan keunggulan TNI dalam mobilitas cepat. Ketika akses darat terputus, medan ekstrem sehingga menyulitkan penyaluran bantuan, kemampuan TNI Angkatan Udara sebagai rapid response force menjadi faktor yang menentukan,” kata Khairul.

Menurut Khairul, alutsista militer tidak hanya mendistribusikan logistik dan personel, tapi membuka akses dan menjangkau wilayah terisolasi, termasuk melakukan evakuasi medis dalam waktu singkat. Jika melihat operasi yang dilakukan TNI saat ini, alutsista yang diturunkan beragam jenis ataupun usia, termasuk pesawat angkut terbaru, yakni Airbus A400M.

Sebagai negara yang wilayahnya rawan bencana, militer di Indonesia memang didesain tidak hanya sebagai alat perang, tapi juga untuk mengatasi situasi nyata Indonesia. Ketika terjadi bencana dan bantuan bisa dimobilisasi dengan cepat dengan dukungan alutsista, hal itu sama dengan menjalankan separuh keberhasilan meski tentu masih ada kekurangan. Sementara, tren global juga menunjukkan bahwa terjadi pergeseran militer suatu negara untuk peran selain perang atau misi nonperang.

”Dalam konteks ini relevansi pengembangan kekuatan TNI menjadi sangat jelas, yakni bukan hanya menambah dominasi militer, melainkan memastikan negara hadir secara tepat waktu di saat masyarakat membutuhkan. Itu juga bukan hanya tentang alutsista, melainkan terutama sumber daya manusianya,” kata Khairul.


Kerabat Kerja

Penulis:

Norbertus Arya Dwiangga Martiar
 | 

Editor:

Anita Yossihara
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari