Setelah Bashar al-Assad terguling, Iran kehilangan perangkat menjaga pengaruh. Akankah Teheran memacu program nuklir?
23 Des 2024 15:42 WIB · Internasional
Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei membantah Bashar al-Assad, Hamas, dan Hizbullah sebagai kaki tangan Iran. ”Beberapa pihak terus-menerus mengatakan bahwa Republik Islam telah kehilangan pasukan proksinya di kawasan. Ini adalah pernyataan yang salah lagi. Republik Islam tidak memiliki pasukan proksi,” kata Khamenei, Minggu (22/12/2024), di Teheran.
Apa pun pernyataan Khamenei, faktanya ada perubahan kondisi lapangan. Komandan Garda Revolusi Iran Jenderal Hossein Salami menyatakan bahwa mereka tidak bisa menutup mata atas realitas di Suriah. Kenyataan itu adalah tumbangnya rezim al-Assad.
Karena itu, diperlukan perubahan strategi. ”Kita harus hidup dengan realitas di Suriah. Kita melihatnya dan bertindak berdasarkan realitas itu,” kata Salami, Kamis (19/12/2024).
Dia mengatakan, Iran tidak bisa menyelesaikan banyak masalah regional dan global menggunakan taktik yang sama. ”Front Perlawanan tidak akan bersikap pasif dalam menghadapi rencana atau skema apa pun yang berupaya mengganggu perlawanan dan melemahkan kekuatan dan otoritas negara-negara di kawasan itu,” demikian pernyataan Garda Revolusi Iran (IRGC).
Adalah pengetahuan umum, khususnya bagi analis Barat, bahwa Suriah salah satu titik krusial dalam Poros Perlawanan. Poros itu dibangun Teheran untuk membendung pengaruh Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan.
Suriah juga menjadi titik sentral dalam transfer sistem persenjataan bagi anggota Poros Perlawanan. Anggota poros antara lain Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, Houthi di Yaman, dan sejumlah kelompok milisi di Irak.
Ali Akbar Velayati, penasihat utama Khamenei, pernah menyebut Assad dan Suriah sebagai cincin emas rantai perlawanan di kawasan tersebut. ”Tanpa Pemerintah Suriah, rantai ini akan putus dan perlawanan terhadap Israel dan para pendukungnya akan melemah,” katanya waktu itu (Kompas.id, 10 Desember 2024).
Sekarang Iran akan dipaksa untuk mundur dan melihat ke dalam.
Diplomat senior Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat Barbara Leaf menyebut, tumbangnya Assad akan sepenuhnya mengakhiri peran Iran.
”Jika saya menilai berdasarkan hari ini, Iran tidak akan memiliki peran apa pun, dan memang seharusnya tidak,” kata Leaf, Asisten Menteri Luar Negeri Urusan Timur Dekat pada Kementerian Luar Negeri AS.
Marwan Kabalan, Direktur Analis Kebijakan Arab Center for Research and Policy Studies yang berbasis di Doha, Qatar, mengatakan, kejatuhan Assad membuat Iran kehilangan pilar utama ”Bulan Sabit Syiah”-nya. Iran kehilangan alat tawar utama yang menjadikan Suriah sangat penting dalam peta perlawanan Palestina menghadapi Israel.
”Sekarang Iran akan dipaksa untuk mundur dan melihat ke dalam atau mungkin memilih untuk mempercepat upayanya untuk membangun senjata nuklir,” katanya, di laman Al Jazeera.
Dengan kondisi ini, Iran semakin kekurangan peluang mengimbangi kekuatan Israel yang didukung AS dan negara Barat. Iran juga kekurangan pengaruh regionalnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/02/90e5cd97-41bf-4de5-b182-311c18f27a90_jpg.jpg)
Selama setahun terakhir, bersamaan dengan penghancuran wilayah Gaza oleh Israel, proksi-proksi Iran dihajar Israel bersama AS dan sekutunya. Hamas, musuh dan penentang utama pencaplokan Palestina oleh Israel, terpukul keras setelah dua kepala biro politiknya, Ismail Haniyeh dan Yahya Sinwar, dibunuh Israel.
Demi memburu para tokoh perlawanan Palestina, Israel dan sekutunya mengabaikan kematian puluhan ribu warga sipil Gaza. Kritik pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Fransiskus, tidak dapat menghentikan pembantaian itu.
Hizbullah di Lebanon juga mengalami hal yang sama. Sanksi Barat terhadap kelompok itu mengurangi dukungan warga pada sepak terjang Hizbullah.
Seperti Hamas, Hizbullah juga secara beruntun kehilangan para petingginya. Semua dibunuh Israel dengan sokongan Barat.
Iran kini hanya memiliki jangkar di Irak dan Yaman. Akan tetapi, kekuatan kelompok perlawanan di Yaman dan Irak tidak sehebat Hamas, Hizbullah, ataupun pemerintahan Assad.
Suriah, seperti telah ditulis di atas, menjadi poros yang bisa membantu Iran memengaruhi banyak kelompok dan pemerintahan. Suriah merupakan hub, titik koneksi yang paling dapat diandalkan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/bb1445ad-8b96-40bc-8920-5db74b3e2882_jpg.jpg)
Sementara Khamenei mengatakan, setiap kelompok perlawanan dari Yaman sampai Palestina punya pandangan masing-masing. Dengan pandangan dan keyakinan itu, mereka bisa bertindak.
”Yaman berperang karena imannya; Hizbullah berperang karena imannya memberdayakannya untuk bertindak; Hamas dan Jihad (Islam) berperang karena keyakinan mereka memaksa mereka untuk melakukannya. Mereka tidak bertindak atas nama kami,” kata Khamenei.
Khamenei menegaskan kembali posisi Iran, termasuk keputusan mereka untuk bertindak independen. ”Jika suatu hari kita memutuskan untuk mengambil tindakan, kita tidak memerlukan pasukan proksi,” katanya.
Setelah anggota poros perlawanan berguguran, opsi apa yang akan dipilih Iran? Majalah The Economist menulis, menghidupkan kembali Hizbullah akan jauh lebih sulit tanpa pemerintahan Suriah yang dekat dengan Teheran.
Kehilangan satu per satu sekutunya dan sebagian besar lingkup pengaruhnya, Teheran mungkin berupaya memanfaatkan pembukaan yang diprakarsai oleh China.
Selain itu, sejumlah kelompok perlawanan yang dekat dengan Teheran juga dinilai tidak dalam kondisi menguntungkan Iran. Bahkan, sebagian malah dipandang sebagai beban pada Iran.
Setidaknya, semakin banyak warga Iran mempertanyakan beban keuangan yang harus ditanggung Teheran untuk membiayai kelompok-kelompok itu. Padahal, kondisi dalam negeri Iran tidak baik-baik saja. Iran butuh uang untuk pembangunan di dalam negeri.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/05/08/7fc7ac88-35f8-4810-b06f-25c3f7e80b19_jpg.jpg)
Karena itu, redaksi The Economist menduga, Iran berpotensi beralih ke strategi penggentaran konvensional. Wujudnya berupa membuat senjata nuklir.
Selama hari-hari terakhir Assad berkuasa, Iran meluncurkan satelit militer. Beberapa orang yang keras di Iran berpendapat bahwa Iran harus melewati ambang batas nuklir dan menguji bom.
Iran memiliki semua komponen utama—material fisil, keahlian teknis, sistem pengiriman, dan fasilitas—untuk senjata nuklir. Hanya saja, Iran belum memutuskan apakah akan benar-benar mempersenjatai rudal-rudal mereka dengan hulu ledak nuklir. Perdebatan sengit soal ini masih terus terjadi.
Iran telah memiliki lebih dari 10.000 mesin sentrifugal yang beroperasi Natanz dan Fordow. Sebagian mesin dioperasikan di bawah tanah.
Mesin-mesin itu membuat Iran kini memiliki 182,3 kilogram uranium yang tingkat pengayaannya telah mencapai 60 persen. Jumlahnya meningkat 17,6 kilogram dibandingkan laporan IAEA pada Agustus 2024.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/04/13/20210413-ADI-Nuklir-Iran-mumed_1618324084.png)
Dengan jumlah itu, Iran diyakini hanya selangkah lagi memiliki uranium dengan tingkat pengayaan hingga 90 persen. Pada tingkat itu, uranium bisa dimanfaatkan untuk persenjataan nuklir (Kompas.id, 29 November 2024).
Namun, Ali Bilgic, profesor hubungan internasional dan politik Timur Tengah Universitas Loughborough, Leichestershire, Inggris, mengatakan, Iran memiliki opsi lain untuk menghindari perang nuklir di kawasan. Caranya: mendekat ke China.
”Kehilangan satu per satu sekutunya dan sebagian besar lingkup pengaruhnya, Teheran mungkin berupaya memanfaatkan pembukaan yang diprakarsai oleh China, dengan berusaha untuk membina hubungan yang lebih bersahabat dengan negara-negara Arab,” katanya.
Bilgic mengatakan, pilihan ini bisa mengurangi ketegangan regional dan potensi konflik persenjataan yang lebih besar, terutama karena dialog tersebut bisa mengikis persepsi negara-negara Arab terhadap Iran. Selain membutuhkan sikap proaktif China, yang dianggap sebagai pesaing berat AS, hal ini juga memerlukan perubahan signifikan dalam kebijakan luar negeri Iran.
Hal ini akan menjadi tugas besar bagi Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan kabinetnya, khususnya untuk meyakinkan Khamenei. (AFP)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Nur Adji