Kisah Perempuan Fotografer di Gaza

Fotografer Fatima Shbair menceritakan kisah di balik foto-fotonya yang diambil selama dua tahun konflik di Gaza.

14 Okt 2025 07:00 WIB · Klinik Foto

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Kepakatan gencatan senjata yang disetujui dua pihak yang berperang, Israel dan Hamas, membawa harapan dan kehidupan baru penduduk Palestina di Gaza. Selama dua tahun perang, lebih dari 67.000 warga Palestina tewas karena serangan Israel. Serangan Israel tersebut merupakan balasan atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang  menewaskan 1.200 penduduk Israel dan menyandera 251 orang lainnya.

Pewarta foto Associated Press (AP) Fatima Shbair yang sejak kecil terbiasa melihat konflik dan kekerasan di Gaza, menceritakan kisah di balik beberapa foto yang pernah dia abadikan selama dua tahun perang. Pada April 2024, Shbair dan keluarganya meninggalkan Gaza, dan berkantor di Dubai, Uni Emirat Arab (UAE).

Sejumlah foto dari hampir dua tahun perang ini mempunyai makna yang sangat dalam bagi Sbhair. Satu-persatu Sbahir menceritakan kembali proses yang pernah ia rasakan saat menjalani hari-hari perang di Gaza. 

Api dan asap meningkat setelah serangan udara Israel di Kota Gaza pada 8 Oktober 2023.

8 Oktober 2023: Serangan Pertama

Tanggal 7 Oktober, Shbair seharusnya menerima kunci kamar baru, kamar yang  dibuat di lantai atas rumah keluarga. Pagi itu, saat tidur, ia mendengar sesuatu, tadinya dipikir suara hujan. Ternyata itu roket, diluncurkan dari setiap sisi Gaza. Roket-roket dari Hamas itu terbang ke Israel.

Malam harinya, Sbhair dan beberapa wartawan menunggu di atap gedung kantor AP untuk menunggu serangan balasan Israel kepada Hamas. Di atap gedung itu mereka bisa melihat pemandangan Kota Gaza. Di gedung tinggi ini berkantor juga sejumlah kantor berita. 

Akhirnya serangan balasan Israel datang pada 8 Oktober 2023 sekitar pukul 3 atau 4 pagi. Serangan udara bertubi-tubi, ledakan karena hantaman rudal terjadi di  banyak tempat secara bersamaan. Ini berlangsung sepanjang malam. 

Ia berlari ke setiap sisi gedung, mengambil gambar. Itulah awal balasan Israel untuk membebaskan para sandera dan melenyapkan Hamas, yang anggota dan pejuangnya tinggal dan beroperasi di antara penduduk Gaza. “Banyak rekan jurnalis saya juga berada di atap itu. Sebagian besar telah tewas,” kenangnya.

Warga Palestina mengevakuasi orang-orang yang terluka dari sebuah bangunan yang hancur dalam pemboman Israel di Khan Younis, Jalur Gaza, pada 19 Oktober 2023.

19 Oktober 2023: Terjebak di Bawah Reruntuhan

Serangan terjadi semalaman, dan petugas penyelamat baru bisa keluar pagi harinya. Orang-orang terjebak di bawah reruntuhan selama berjam-jam. Shbair merangkak di atas reruntuhan untuk mengambil foto ini.

Perang baru berlangsung kurang dari dua minggu, dan setiap hari warga Gaza harus berlari, berlari, dan berlari. Semuanya terjadi begitu cepat.

“Saya telah memindahkan orangtua dan saudara-saudara ke selatan. Setiap hari saya beraktivitas di rumah sakit di Khan Younis. Dari sana, kami bisa mengikuti petugas penyelamat yang bergegas ke lokasi serangan udara Israel. Itu menjadi rutinitas yang menindas dan tiada hentinya,” cerita Shbair.

Setiap hari, ia terbangun dan mendapati darah berceceran. Sarapan di kamar mayat, di samping mayat-mayat. Terus-menerus bergerak ke gedung-gedung yang rata dengan tanah akibat serangan udara. Di setiap gedung, petugas penyelamat membawa jenazah dan korban luka.

Setelah memotret seharian penuh, beberapa jam ia tidur di mobil. Tetapi itu bukan tidur sungguhan. Shbair memarkir mobil di luar kamar mayat. Ia jarang bertemu atau berbicara dengan keluarganya. Kemudian, Shbair pindah dan tinggal di rumah sakit di Rafah, lebih jauh ke selatan, kota tempat keluarganya berada.

Tiap mendengar suara sambaran petir, Shbair melihat apakah asap berasal dari arah tempat tinggal keluarganya. Kalaupun itu terjadi, ia tak akan menelepon keluarganya. Lebih baik menunggu di rumah sakit untuk melihat apakah mereka datang membawa korban. Mungkin mereka akan dibawa dalam keadaan terluka. Mungkin mereka akan berada di kamar mayat. 

Shbair harus bekerja di tengah kecemasan akan nasib keluarganya. “Panggilan telepon berarti kabar buruk. Aku benci panggilan telepon saat perang,” ujarnya.

Seorang gadis Palestina bereaksi saat mayat seorang anak dibawa dari reruntuhan sebuah bangunan setelah serangan udara di Khan Younis, Jalur Gaza, pada 21 Oktober 2023.

21 Oktober 2023: Korban Anak-anak

Serangan udara menghantam sebuah rumah di Khan Younis, tepat di luar sekolah PBB. Sekolah itu penuh dengan orang-orang yang terusir dari rumah mereka.

Baru setelah kembali ke tenda kantor AP, Shbair melihat foto gadis ini. Terutama raut wajahnya saat petugas penyelamat membawa seorang anak yang tewas keluar dari reruntuhan.

Saat itu masih awal perang dan gadis itu masih bereaksi dengan kaget. Melihat nasib gadis itu, Shbair teingat dirinya sendiri. ”Waktu kecil, ketika seseorang di keluargaku meninggal, aku takut berada di ruangan yang sama dengannya untuk mengucapkan selamat tinggal. Jadi, apa yang dipikirkan gadis ini? Dia tampak begitu ketakutan,” katanya.

Namun seiring berjalannya waktu, hal itu menjadi normal. Di lokasi setiap serangan, ada banyak anak-anak. Mereka tiba di sana sebelum para jurnalis datang. Mereka akan memberi tahu, "Masih ada seseorang yang terjebak di dalam. Seseorang terjepit di antara dua lantai."

Seorang anak bercerita kepadanya bahwa ia melihat sebuah kaki mencuat dari reruntuhan. Anak-anak, menggambarkan hal-hal yang bahkan sulit dibayangkan oleh pikiran.

Kemudian, di salah satu hari terakhir Shbair di Gaza, ia berada di kamar mayat rumah sakit. Hari itu kacau balau, mayat-mayat berserakan di lantai, bau darah di mana-mana. Seorang anak, mungkin berusia sekitar 5 tahun, mengumpulkan potongan-potongan tubuh salah satu korban, memasukkannya ke dalam kantong untuk dikuburkan oleh keluarganya. Orang-orang dewasa di sekitarnya tampak tenang, seolah-olah hal ini biasa saja.

Sebauh pertanyaan muncul, apa yang akan diingat oleh anak itu?

Warga Palestina membawa Mohammed al-Nazzal di atas tandu setelah ditemukan terluka usai serangan udara di Khan Younis, Jalur Gaza, pada21 Oktober 2023.

21 Oktober 2023: Menghubungkan Keluarga

Setelah serangan yang sama, Shbair naik ke mobil yang rusak dan mengambil foto ini. Seminggu kemudian, saya mendapat pesan di Instagram: “Tolong balas, ini mendesak.”

Dina Ali al-Nazzal, dari Denmark, adalah ibu dari anak laki-laki yang ditandu. Menurut Dina Ali, lebih dari satu dekade yang lalu suaminya meninggalkannya dan membawa kedua anak, Mohammed, yang saat itu berusia 3 tahun, dan Layal, yang berusia 2 tahun ke Gaza. Ia belum pernah bertemu mereka lagi sejak itu. Ia sangat ketakutan ketika mendengar rumah mereka diserang.

Lalu Dina Ali melihat foto karya Shbair tentang Mohammed, yang sekarang berusia 14 tahun.

"Lensa Anda menyelamatkan jantung seorang ibu dari serangan jantung," tulis Dina Ali pada Shbair. Ia berhasil menghubungi rumah sakit dan mengetahui bahwa Layal juga selamat. 

Shbair menjadi fotografer berkat neneknya. Sang nenek memotret sejak kecil dan punya banyak kamera tua di rumah. Ia penasaran dengan kamera-kamera ini, seperti barang antik. Setelah lulus kuliah, ia menghabiskan satu tahun belajar fotografi. Shbair punya begitu banyak buku dan majalah, serta satu juta foto di komputer. Ia pun mulai memotret kehidupan sehari-hari di jalanan, di pantai.

Ia melihat kehidupan yang indah di Gaza, sesuatu yang seharusnya dilihat orang-orang di luar sana. Ia merasa menemukan cerita untuk diceritakan, bisa mengekspresikan diri. Semua dilakukannya karena ia menyukai fotografi.

”Namun, ketika ibu ini menghubungi saya, saya menyadari bahwa pekerjaan saya penting. Pekerjaan itu dapat memengaruhi kehidupan seseorang, bahkan yang jauh sekalipun. Kita harus berada di sini, di lapangan, melihat. Kita membuat perbedaan, meskipun itu kecil,” kisah Shbair tentang fotonya yang berhasil menyatukan keluarga.

Petugas medis dan dokter mencoba menyelamatkan nyawa Maya Tarek al-Banna, namanya tertulis di perutnya dengan spidol, setelah ditemukan terluka usai pemboman Israel, di sebuah rumah sakit di Rafah, Jalur Gaza selatan, Kamis, 14 Desember 2023.

14 Desember 2023: Kematian yang Berbeda

Serangan udara terjadi di pasar. Para dokter melakukan triase (pemilahan pasien berdasar tingkat kegawatan) bergegas melewati korban luka untuk memutuskan siapa yang menjadi prioritas.

Shbair lihat gadis ini sudah tak begerak lagi. Tak ada apa-apa di matanya. Tetapi dia masih bernapas. Ia pun membeku, memikirkan adik perempuan, yang seusia gadis itu. Terlihat tangan para dokter memegangnya, membersihkan darah dari mulutnya. Mereka memegangnya seolah-olah ia sudah menjadi mayat, memeriksa kepalanya, menyentuh matanya. Namanya, Maya, tertulis di perutnya dengan spidol. ”Kenapa kalian tidak melakukan sesuatu?” katanya kepada mereka.

Dokter itu menatap dan menggelengkan kepalanya. Dia datang dan bilang ini hal tersulit, setiap hari. Dokter kemudian mendesak Shbair untuk masuk ke dalam dan mengambil lebih banyak foto. Tetapi ia tidak bisa fokus. Ia hanya ingin menjauh. Akhirnya, Maya berhenti bernapas. Shbair pun berlari kembali ke tenda kantor. Dan muntah.

Gadis ini seharusnya punya masa depan. Saat Shbair mengarsipkan foto ini, ia melihat foto-fotonya di media sosial keluarganya, seorang gadis kecil yang tertawa bahagia. Saat itu, Shbair tahu dia sudah meninggal. Dia telah dibawa oleh petugas medis dari lokasi serangan, dan keluarganya akan membutuhkan waktu untuk menemukannya.

”Aku tak pernah menangis. Rasanya air mataku membeku di dalam mataku. Aku selalu merasa harus tetap kuat, sampai-sampai aku kehilangan kemampuan untuk menangis,” kenangnya.

Warga Palestina menguburkan mayat yang dikumpulkan dari seberang Gaza di kuburan massal di Rafah, Jalur Gaza selatan, pada 30 Januari 2024.

30 Januari 2024: Kuburan Massal

Dalam semua konflik masa lalu di Gaza, tidak pernah memiliki kuburan massal. Ini adalah jenazah yang dikumpulkan Israel dari seluruh Gaza, terutama dari utara. Mereka mencari jenazah para sandera atau warga Palestina yang mereka identifikasi sebagai militan. 

Kemudian mereka mengirim jenazah-jenazah itu, ditumpuk di dalam truk, dikembalikan ke Gaza, puluhan atau bahkan 100 orang sekaligus, tanpa dokumen identitas. Baunya tak terbayangkan atau begitulah kata fotografer lain. 

Waktu kecil, Shbair pernah jatuh dan hidungnya terbentur. Sejak itu, indra penciumannya kurang tajam. Sekarang, itu membantu. Ia bisa mendekat, hampir masuk ke dalam kuburan itu sendiri. Di latar belakang, terlihat kerabat yang berharap menemukan orang terkasih, mungkin melihat pakaian yang mereka kenal. Tetapi bagaimana mungkin mereka bisa?

Setiap jasad sama saja, anonim. Namun, masing-masing memiliki kehidupan. Dan mereka tak pernah membayangkan ini akan menjadi akhir mereka. Terkubur tanpa nama, jauh dari rumah, di antara barisan orang-orang asing.

Seorang anak Palestina yang terluka dibawa ke rumah sakit Al-Najjar di Rafah, Jalur Gaza selatan, pada 24 Februari 2024.

24 Februari 2024: Kekacauan di Rumah Sakit

Saat itu ayah Shbair sedang sekarat. Ia berada di sampingnya di Rumah Sakit Al-Najjar di Rafah. Beliau sudah lama sakit, dan rumah sakit tidak memiliki kemampuan untuk merawatnya. Dokter mengatakan beliau tidak punya banyak waktu lagi. Beliau tidak sadarkan diri, tetapi ia ingin menghabiskan setiap momen bersamanya. Rumah sakit itu sunyi. 

Seketika, suasana menjadi kacau. Korban luka akibat serangan udara berdatangan. Dokter, perawat, dan petugas medis berdesakan, mendorong tempat tidur ayahnya. Al-Najjar memiliki ruang gawat darurat kecil, dengan sedikit tempat tidur, sehingga korban luka tergeletak di lantai. Seorang pria yang rahangnya hancur dan kehilangan hampir separuh wajahnya, terlihat masih berjalan, berusaha bertahan hidup.

Shbair mulai memotret. Sepanjang waktu, ia terus menatap ayahnya. Baginya, ayah adalah pahlawan. Mendorongnya dalam fotografi. Menjadi jurnalis perempuan di Gaza itu sulit. Namun, sepanjang karier, kata-kata ayahnya selalu terngiang di kepala: "Kamu adalah putriku."

Saat itu, ia berjuang. Ia ingin berada di samping ayahnya. Sungguh menyakitkan melihatnya seperti ini, jauh dari rumah mereka di Kota Gaza, dengan kekacauan di mana-mana. Tetapi ia juga merasa beliau akan bangga. Shbair bersama ayahnya di saat-saat terakhirnya, dan melakukan hal yang dicintai. ”Saya putrinya, dan saya kuat,” kata Shbair mengingat pesan ayahnya

Shbair pun memotret seorang anak terluka yang berteriak-teriak di lorong dekat tempat tidur ayahnya. Ia satu-satunya fotografer di sana, dan merasa bertanggung jawab. Jika ia tidak mengambil foto ini, momen ini akan hilang tanpa diketahui siapa pun. Keluarga anak laki-laki itu datang. Ia tidak mengenal anak ini, tetapi keluarganya mengenalnya dan menyayanginya. Semua seolah sedang menjalani mimpi buruk.

Keesokan paginya, saudara laki-laki Shbair menelepon dari rumah sakit. Ayahnya telah meninggal.

Warga Palestina berduka atas kerabat yang tewas dalam serangan Israel di kamar mayat rumah sakit di Rafah, Jalur Gaza selatan, pada 4 Maret 2024.

4 Maret 2024: Para Pelayat

Shbair tidak menangis hari itu. Ia harus tetap kuat demi sang ibu dan keluarganya. Ia pun mengambil cuti beberapa hari.

Ini hari pertamanya kembali bekerja. Ia meliput kamar mayat, memperlihatkan orang-orang yang datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang terkasih.

Ia berjalan perlahan. Ia takut berada di sana, walau hanya untuk melangkah masuk. Tetapi ia memaksakan diri. Pria di foto ini, ia terbaring di tempat yang sama dengan ayahnya. Saat mereka menangisinya, ia merasakan semuanya. Ia melihat segalanya, dan teringat hari itu lagi. Pandangannya kabur. Shbair seolah berada di dunia yang berbeda, berputar, berputar, berputar. Ia hampir ambruk di atas mayat-mayat itu.

Tetapi Mariam Dagga tidak membiarkannya pingsan. Mariam ada di sana tepat di sampingnya, ikut memotret. Mereka sering bekerja sama. Mereka merasa berdua lebih nyaman kalau ada fotografer perempuan lain di samping. Mariam pun menggenggam tangan Shbair. "Jangan khawatir. Aku mengerti perasaanmu. Aku pernah merasakannya sebelumnya,” katanya.

Kakak Mariam telah terbunuh oleh tembakan Israel pada tahun 2018. Dia ingin Shbair merasakan sakitnya agar bisa kuat lagi, agar bisa terus mengambil foto. Hari itu, Shbair menemukan kemampuan untuk menangis. Aku meneteskan air mata untuk ayahnya.

Tujuh belas bulan setelah foto ini dibuat, Mariam, seorang jurnalis visual yang bekerja dengan AP, terbunuh oleh serangan Israel di sebuah rumah sakit.

Mariam dan Shbair selalu bersama. Semua pekerjaan yang dilakukan sejak hari itu adalah karena Mariam. Mungkin perang akan berlangsung selamanya, tetapi ia akan tetap kuat. Mariam berpesan agar ia terus bekerja, terus memotret.

Anggota keluarga Al-Rabaya berbuka puasa di bulan suci Ramadhan di luar rumah mereka, yang dihancurkan oleh serangan udara Israel, di Rafah, Jalur Gaza selatan, pada 18 Maret 2024.

18 Maret 2024: Ramadhan

Rumah berarti segalanya selama bulan Ramadan, bulan suci puasa umat Islam. Tidak ada tanda-tanda di foto ini bahwa ini bulan Ramadan. Seluruh lingkungan di Rafah hancur, setiap rumah hancur lebur. Semua penduduk telah pindah ke sekolah PBB.

Namun, keluarga ini meninggalkan tempat penampungan untuk menikmati hidangan Ramadan mereka di sini, di tempat yang dulunya adalah rumah mereka. Hampir tak ada yang tersisa, hanya dinding. Mereka membuat sup dan salad tomat dan mentimun. Mereka terdiam. Semua terdiam. Shbair teringat rumah keluarganya, di Kota Gaza, yang telah hancur.

Kisah Shbair ini diceritakan kepada reporter AP Lee Keath yang menulisnya dari Kairo, Mesir.

Fatima Shbair, kanan, berselfie di samping kolega dan teman Mariam Dagga, di Kota Gaza, Kamis, 12 Oktober 2023.

Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati