Liverpool dan Manchester Ciry sama-sama menghadapi problem inkonsistensi serupa jelang bertemu di Stadion Anfield. Mereka kesulitan tampil bagus di dua babak.
07 Feb 2026 17:40 WIB · Olahraga
AP
LIVERPOOL, SABTU — Ada alasan mengapa Liverpool dan Manchester City terpaut poin cukup jauh dari puncak klasemen Liga Inggris. Mereka tidak mampu tampil konsisten sepanjang 90 menit. Saat Liverpool memulai laga dengan sangat lambat di paruh pertama, City sering tiba-tiba mengalami penurunan performa drastis seusai turun minum.
Nuansa rivalitas terasa agak berbeda jelang duel di Stadion Anfield, Liverpool, Minggu (8/2/2026) pukul 23.30 WIB. Liverpool dan City, penguasa gelar liga dalam delapan musim terakhir, bertarung agar tetap relevan di sisa musim. Liverpool memerlukan tiga poin demi masuk zona empat besar, sementara City berupaya menjaga jarak ketinggalan dari pemimpin klasemen Arsenal.
Problem kedua tim saling beradu. City tidak bertengger di puncak klasemen saat ini karena kisah berbanding terbalik dari dua babak. Menurut data Opta Analyst, tim asuhan manajer Pep Guardiola itu semestinya memimpin klasemen seandainya seluruh laga dihentikan setelah paruh pertama. Rekor mereka di 45 menit awal adalah 16 menang, 6 seri, dan 2 kalah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/02/88505f7ea7c9a9b047c2f8270c216664-Britain_Premier_League_Soccer_36_.jpg)
Namun, akibat penurunan perfoma seusai turun minum, City sudah kehilangan tujuh poin. Mereka hanya mengoleksi 47 poin (14 menang, 5 seri, 5 kalah) dari potensi 54 poin. Masalah itu terlihat jelas dalam laga terakhir City, pekan lalu. Mereka sudah unggul 2-0 di kandang Tottenham Hotspur, tetapi hanya mampu pulang dengan hasil imbang.
Tentu tidak bijak bagi City, jika mengulang tren serupa di stadion angker seperti Anfield. "Anfield bukanlah tempat yang mudah dikunjungi. Kami harus menunjukkan ketahanan dan spirit kebersamaan. Ini adalah tentang melalukan tugas kami, bagaimana fokus sepenuhnya untuk meraih kemenangan, " kata bek City Marc Guehi.
Liverpool tidak kalah dalam hal inkonsistensi. Bedanya, tim asuhan pelatih Arne Slot itu lebih sering bermasalah di paruh pertama. Mereka sering mempersulit diri dengan tertinggal lebih dulu. Di laga lawan Bournemouth pada akhir Januari, misalnya, mereka kecolongan dua gol lebih dulu sebelum akhirnya kalah 2-3.
Liverpool, jika dihitung sebatas dari hasil paruh pertama, hanya akan menempati peringkat ke-10 (8 menang, 8 seri, dan 8 kalah). Beruntung, Mohamed Salah dan rekan-rekan mampu tampil lebih baik setelah turun minum, sehingga mampu mendapatkan tujuh poin tambahan jadi 39 poin (11 menang, 6 seri, 7 kalah).
Dalam pertemuan pertama mereka di Stadion Etihad, November 2025, Liverpool takluk tiga gol tanpa balas dari City juga karena kecolongan pada paruh pertama. "Si Merah" tertinggal 0-2 saat turun minum akibat gol Erling Haaland dan Nico Gonzalez, lalu semakin terpuruk pada paruh kedua.
Bagi Liverpool, ketinggalan lebih dulu bukan lagi hal sepele seperti musim lalu. Mereka tidak bisa membalikkan kedudukan setiap saat karena lini serang yang belum bekerja optimal. Terbukti, rerata produktivitas mereka di musim ini hanya 1,62 gol. Itu jauh di bawah catatan mereka saat menjuarai liga musim lalu (2,26 gol).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/25/784e2572f919833877dbd8f129024db2-Britain_Premeir_League_Soccer_3_.jpg)
Karena itu, jika ingin poin penuh, Liverpool perlu memastikan tidak memberikan napas kepada tim tamu sejak sepak mula. Adapun setelah kemasukan lebih dulu di liga pada musim ini, Liverpool hanya mampu menang sekali dari sepuluh kesempatan. Sebaliknya, mereka tidak terkalahkan ketika mampu menjadi pembuka keunggulan (10 menang, 2 seri).
Slot berkata, City sangat bisa menghukum mereka dengan kualitas skuad yang mumpuni. "Mereka adala tim yang sangat bagus. Mereka menang atas Newcastle pada Rabu lalu, tim yang juga kami kalahkan di akhir pekan kemarin. Bedanya, mereka menang tanpa menggunakan para pemain inti. Itu memberi tahu Anda, betapa besar kekuatan mereka," ujarnya.
City dan Liverpool kebetulan sedang berada dalam tren kurang baik di liga. Mereka hanya menang sekali dalam enam pertandingan liga terakhir. Hanya saja, momentum lebih berpihak kepada tuan rumah. Mereka berhasil menang 4-1 atas Newcaslte di Anfield dalam pertandingan liga terakhir.
Guardiola sendiri tidak terlalu khawatir dengan inkonsistensi timnya. "Apakah kami berada di level teratas? Belum. Kami terus membaik, kami hanya butuh konsistensi lebih, maka kami akan sampai di sana. Jadi, 14 laga tersisa di liga adalah waktu yang sangat lama. Sepengalaman saya, apa pun masih bisa terjadi," katanya.
Duel nanti akan mempertemukan dua pemain dari masing-masing sisi yang sedang berapi-api, yaitu Florian Wirtz (Liverpool) dan Omar Marmoush (City). Keduanya sempat kesulitan menemukan performa terbaik pada paruh pertama musim, tetapi mulai bersinar belakangan ini, khususnya Wirtz yang merupakan pemain termahal kedua di Liga Inggris.
Wirtz sudah menghasilkan 5 gol dan 2 asis di seluruh kompetisi sejak pergantian tahun. Jumlah itu sudah lebih banyak dari kontribusinya selama separuh awal musim (1 gol, 3 asis). Sementara itu, Marmoush sudah menciptakan tiga gol sejak pulang dari Piala Afrika, termasuk dua gol ke gawang Newcastle pada tengah pekan lalu. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase