Tak dianggap di Liga Italia, tiga pemain muda menjelma menjadi sosok krusial bagi perjalanan Bournemouth menembus kompetisi Eropa untuk kali pertama.
21 Jan 2025 11:33 WIB · Olahraga
Musim 2024-2025 berpotensi tercatat sebagai periode terbaik dalam sejarah Bournemouth. Kota pesisir yang berjarak lebih dari 170 kilometer arah barat daya London itu tengah merajut mimpi untuk tampil untuk pertama kali di kompetisi antarklub Eropa musim depan.
Setelah melalui 22 pertandingan di Liga Inggris musim ini, tim berjuluk ”The Cherries” itu nyaman berada di peringkat ketujuh dengan koleksi 37 poin. Jika mampu bertahan di zona tujuh besar pada akhir Mei nanti, Bournemouth berpeluang menjadi duta Inggris di Liga Europa atau Liga Konferensi Eropa.
Impian untuk tampil pertama kali di Eropa bukan sekadar angan-angan semu. Bournemouth telah menjalani 10 pertandingan nirkalah di liga. Enam laga mereka kunci dengan kemenangan, termasuk dua duel tandang bersejarah, yaitu kontra Manchester United dan Newcastle United.
Berbekal performa saat ini, Opta juga memprediksi Bournemouth memiliki peluang terbesar untuk menutup musim di posisi ketujuh. Probabilitas itu mencapai 21 persen. Dua peringkat dengan potensi tertinggi selanjutnya untuk Bournemouth adalah posisi keenam (17,5 persen) dan posisi kedelapan (16,3 persen).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/21/5dd120d0-a2aa-496c-b347-f48349a86092_jpg.jpg)
Merujuk perhitungan simulasi superkomputer Opta itu, Bournemouth akan mencatatkan prestasi terbaik di Liga Primer Inggris. Sejak pertama kali bisa menembus kasta sepak bola tertinggi Inggris pada 2015-2016, tim yang berdiri pada 1899 itu maksimal duduk di peringkat kesembilan pada edisi 2016-2017. Selain itu, pada enam musim lainnya di Liga Primer Inggris, The Cherries menutup musim di bawah zona 10 besar.
Performa apik nan mengagumkan Bournemouth di musim ini tidak lepas dari peningkatan signifikan performa individu pemain-pemain mereka. Terdapat tiga pemain tidak tergantikan oleh Manajer Andoni Iraola yang sebelum bergabung dengan Bournemouth dianggap gagal memenuhi potensi besar kualitas mereka di Liga Italia.
Mereka adalah Justin Kluivert (25), Milos Kerkez (21), dan Dean Huijsen (19). Di bawah asuhan Iraola, ketiga pemain itu menjadi tulang punggung Bournemouth mengejar tiket ke Eropa. Mereka juga mulai menarik minat tim-tim besar Liga Inggris, bahkan Liga Spanyol, untuk direkrut pada transfer musim panas mendatang.
Menariknya, mereka bisa bangkit di Liga Inggris yang dianggap sebagai kompetisi tersulit dan paling kompetitif di dunia saat ini. Padahal, sejumlah bakat-bakat muda Italia telah gagal menunjukkan sinar terangnya ketika hijrah ke Inggris dalam beberapa tahun terakhir.
Semua pemain tahu peran mereka. Itu menunjukkan bahwa Bournemouth adalah tim yang dilatih dengan sangat baik.
Mereka, antara lain, ialah penyerang Gianluca Scamacca yang gagal di West Ham United, lalu Sandro Tonali yang lebih terkenal akibat skandal judinya dibandingkan dengan performa apik bersama Newcastle di lapangan hijau.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/21/4303ee0c-fad6-477b-b16e-a5793972c19f_jpg.jpg)
Kluivert kini menahbiskan diri sebagai sumber gol utama Bournemouth. Sebanyak 10 gol dan tiga asis adalah bekalnya membantu The Cherries mampu bersaing di zona Eropa.
Pemain bernomor punggung 19 itu bahkan sudah mencatatkan dua hattrick di Liga Inggris musim ini. Belum ada pemain Bournemouth yang pernah melakukan itu sebelumnya. Capaian gol yang telah membantunya melebihi prestasi sang ayah, Patrick Kluivert, di Britania.
Jumlah gol itu adalah performa terbaik Kluivert dalam satu musim. Ia masih bisa terus menambah pundi-pundi golnya di sisa 15 laga Liga Inggris.
Ketajaman Kluivert itu tentu tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ketika meninggalkan Ajax Amsterdam pada awal musim 2018-2019, Kluivert digadang-gadang sebagai salah satu calon bintang baru AS Roma di Liga Italia.
Nyatanya, Kluivert hanya menjadi pemain musafir yang dipinjamkan oleh Roma sejak musim 20202-2021. RB Leipzig, Nice, dan Valencia adalah tim-tim yang pernah dibela Kluivert dengan status pinjaman dari Roma. Dalam empat tim yang dibela setelah Ajax itu, Kluivert tidak bisa mencatatkan dobel digit gol.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/21/ef4c9e33-6797-49b6-8d80-0b226e58cf01_jpg.jpg)
Kini, bersama Bournemouth, Kluivert sudah mengoleksi akumulasi 20 gol dari 59 penampilan. Dua musim di Bournemouth sudah nyaris menyamai jumlah laganya selama lima tahun di Roma, yaitu 68 gim.
Performa Kluivert pun membuat Iraola melupakan keinginan untuk mencari penyerang tengah di bursa transfer musim dingin ini. Pasalnya, dua penyerang tengah Bournemouth, yaitu Evanilson dan Enes Unal, tengah menderita cedera.
”Justin (Kluivert) luar biasa. Duel dan kerja defensinya sangat bagus juga. Ia mencetak gol-gol indah. Klub sedang bekerja mencari penyerang tengah, tetapi sangat sulit mencari posisi itu di jendela transfer musim dingin ini,” ucap Iraola kepada Sky Sports seusai mengalahkan Newcastle, Sabtu (18/1/2025).
Selain Kluivert, Iraola juga memberikan kepercayaan besar bagi dua bakat besar yang disia-siakan oleh dua klub raksasa Italia. Bek tengah Huijsen dianggap belum layak tampil di tim utama Juventus sehingga dijual ke Bournemouth. Begitu pun Milos Kerkez, bek sayap kiri, dinilai tidak mampu bersaing untuk tim utama AC Milan hingga dijual ke AZ Alkmaar pada Januari 2022. Ia lalu tiba ke Bournemouth awal musim lalu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/21/64a77e8b-c4d1-4954-8e47-aeab93d59e10_jpg.jpg)
Kerkez, andalan tim nasional Hongaria, adalah pemain dengan menit bermain kedua terbanyak di Liga Inggris untuk Bournemouth. Ia selalu bermain di 22 laga dengan 1.911 menit penampilan. Kerkez hanya kalah dari bek tengah Ilya Zabarnyi yang mencatatkan 1.980 menit bermain.
Kerkez juga melengkapi performanya dengan koleksi dua gol. Salah satu golnya adalah pengunci kemenangan 4-1 Bournemouth atas Newcastle.
Adapun Huijsen adalah pemain remaja dengan penampilan terbanyak untuk The Cherries. Ia sudah bermain di 16 pertandingan.
Tak ayal, pemain tim U-21 Spanyol itu adalah salah satu dari lima pemain remaja yang telah mencatatkan lebih dari 1.000 menit penampilan di Liga Inggris musim ini.
Nigel Reo-Coker, eks gelandang West Ham United, memuji tangan dingin Iraola untuk mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Reo-Coker menuturkan, kemampuan Iraola itu membantu pemain-pemain mencapai potensi terbaiknya sehingga Bournemouth tidak terpengaruh dengan badai cedera yang menimpa sembilan pemain utama mereka saat ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/14/dc424b5f-b186-4152-bbe9-2b8b83dd0d7a_jpg.jpg)
”Pemain telah yakin dan percaya kepada sang manajer. Semua pemain tahu peran mereka. Itu menunjukkan bahwa Bournemouth adalah tim yang dilatih dengan sangat baik,” tutur Reo-Coker kepada BBC.
Trio bintang baru Bournemouth itu menuturkan bahwa karier sepak bola selalu menyajikan kesempatan kedua. Mereka menempuh jalan nan ganjil ketika banyak pemain dari Liga Italia tak berdaya di Inggris. Kini, mereka di ambang bagian dari sejarah terbaik The Cherries.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .