Wahai Kota, Jangan Remehkan Rohana dan Rojali

Rohana dan Rojali di mal. Sebuah kisah manis kemenangan kecil warga kota yang mencoba tetap menikmati hidup di tengah impitan situasi yang tak pasti.

26 Jul 2025 11:01 WIB · Artikel Opini

Oleh Neli Triana

Neli Triana (NEL)

Rohana dan Rojali bagai sepasang kekasih yang akhir-akhir ini sedang mesra-mesranya jalan bersama. Duet yang bukan pasangan sesungguhnya. Rohana akronim dari rombongan hanya “nanya-nanya” dan Rojali, si rombongan jarang beli.

Julukan tersebut merujuk pada orang-orang – mungkin kita termasuk di antaranya, yang suka ”lenggang kangkung” di mal. Menyusuri lantai demi lantai di pusat perbelanjaan modern berpendingin ruangan, mata menyapu semua pajangan di etalase toko. Kadang mampir masuk ke dalam toko, melihat-lihat pakaian sampai gawai terbaru, bertanya ukuran hingga harga, tanpa benar-benar membeli di sana. Langkah kaki bisa berakhir di pujasera alias foodcourt atau bahkan menyantap bekal dari rumah di ruang terbuka di lingkungan mal.

Fenomena ini mengundang banyak reaksi, dari yang mencibir sampai yang bersimpati. Mereka dianggap ke mal hanya untuk memanjakan diri secara nyaris gratis di ruangan sejuk dan udara segar. Sesuatu yang didamba para penghuni kota-kota di bentangan Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, pusatnya daerah tropis ini. Apalagi di tengah hari-hari yang sedang terik-teriknya seperti saat ini. Bermodal membayar parkir kendaraan bermotor atau ongkos angkutan umum, kepala dan tubuh terasa ”nyess” adem bener.

Fenomena Rohana dan Rojali ini ada juga yang mengaitkannya dengan kelesuan ekonomi yang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dunia. Daya beli turun. Yang berkemampuan lebih pun memilih berhati-hati membelanjakan uangnya. Kelas menengah ke bawah, mengencangkan ikat pinggang, sekencang-kencangnya.

Namun, kenapa di tengah cobaan itu, banyak orang tetap menjelajah mal? Jika diamati lebih dalam, ada sesuatu yang lebih besar yang bisa dipahami dari kemunculan Rohana dan Rojali. Yaitu, tentang bagaimana warga kota bertahan di tengah tekanan ekonomi dan minimnya ruang publik.

Suasana di wahana bermain gratis di pusat perbelanjaan di kawasann Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jumat (11/7/2025). Pusat perbelanjaan berlomba-lomba menghadirkan tema terkait liburan guna meningkatkan kunjungan di masa libur sekolah seperti saat ini.

Bukan fakta baru bahwa mal di kota-kota besar Indonesia—terutama Jakarta dan sekitarnya—telah mengambil alih peran taman kota, trotoar yang layak, atau plaza yang inklusif. Ketika warga tidak punya cukup ruang untuk jalan santai, nongkrong, atau sekadar melamun, pusat belanja modern menawarkan alternatif tempat yang terang, bersih, dingin, dan aman dari polusi serta panas terik.

Di dalam cara pandang inilah Rohana dan Rojali dapat dipahami bukan sekadar fenomena miring merujuk pada “rombongan iseng”, melainkan warga yang sedang menjalani taktik bertahan.

Seni mengakali

Michel de Certeau dalam bukunya The Practice of Everyday Life (1984), mengenalkan teori taktik atau cara-cara kecil yang digunakan warga biasa untuk mengakali struktur yang kaku atau tidak berpihak. Berbeda dengan strategi, de Certeau memandang taktik sebagai cara yang ditempuh oleh mereka yang tidak memiliki kuasa. Ia memahami taktik bukan sebagai bagian dari strategi, melainkan sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan yang telah dibentuk oleh strategi para pemilik kuasa.

Dalam konteks kota, pengelola kawasan urban memiliki wewenang menata wilayahnya, mengatur di mana jalan besar dan persilangan dengan ruas lebih kecil. Lalu, mana kawasan untuk hunian, bisnis, dan lainnya. Warga yang tak terwadahi kebutuhan dan kepentingannya, kemudian berdagang di sudut perempatan, menemukan jalan pintas di antara pagar-pagar rumah orang, hingga bermain bola di trotoar dan menemukan udara segar dengan nongkrong di bawah pohon kamboja di tempat pemakaman umum.

Seni untuk “mengakali” inilah yang oleh de Certeau disebut sebagai bricolage, sebuah proses yang kerap kali melibatkan kerja sama sekaligus kompetisi.

Warga mengelilingi gerai di sebuah pusat perbelanjaan di Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (29/5/2025). Bisnis ritel terpengaruh tren belanja konsumen. Penawaran potongan harga dan kuliner yang beragam menjadi daya tarik pengunjung untuk datang ke mal.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
29-5-2025

Pengunjung pusat belanja modern, yang di akhir pekan bisa begitu berjubel, mungkin tidak semua mampu membeli barang-barang yang dipajang di etalase. Akan tetapi, dengan hadir, berjalan, bertanya, bahkan mencoba, mereka ikut mengambil ruang dan merayakan kota.

Seiring cuci mata dengan teman atau keluarga di mal, bertanya jawab dengan pramuniaga, kebutuhan berinteraksi sosial pun terpenuhi, yang sedikit banyak mampu meredakan berbagai ketegangan. Mal, yang awalnya dibangun untuk konsumsi, berubah menjadi ruang urban yang multifungsi.

Hasil riset yang terbagi dalam banyak artikel dalam Consuming Urban Culture in Contemporary Vietnam (2003) menyoroti tentang budaya konsumsi di Asia Tenggara seiring pertumbuhan kawasan perkotaan di negara tersebut. Kehidupan keseharian masyarakat di sana berubah seiring berbagai perubahan perwajahan kota. Salah satu temuannya mencatat bahwa pusat perbelanjaan di kota-kota seperti Ho Chi Minh di Vietnam telah menjadi semacam ruang publik modern.

Buku dengan Lisa Drummond dan Mandy Thomas sebagai editor itu memaparkan studi sederet peneliti yang di antaranya menunjukkan bahwa warga datang ke mal bukan hanya untuk belanja, tetapi juga untuk bersosialisasi, berjalan, melihat orang, atau sekadar menikmati nuansa modernitas.

Mengadopsinya dalam konteks Jakarta dan kota-kota besar Indonesia lainnya, bagaimana warga memanfaatkan mal untuk aktivitas lain selain belanja itu juga terlihat menonjol. Mal menawarkan kenyamanan yang bisa dijangkau nyaris semua orang, sesuatu yang relatif tidak terlalu jamak ditemukan di perkotaan. Ruang terbuka hijau (RTH) yang bisa diakses bebas dan nyaman oleh warga, misalnya, belum dipenuhi kota. Jakarta saja belum dapat memenuhi target 30 persen RTH publik sebagaimana disyaratkan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Sosiolog AbdouMaliq Simone dalam jurnal “The Urban Poor and Their Ambivalent Exceptionalities, Some Notes from Jakarta” (2015), menuliskan pengalamannya ketika tinggal dan meneliti dinamika urban di Jakarta. Ia melihat penduduk memanfaatkan keramaian untuk mengalami bentuk mobilitas yang berbeda. Mereka merasakan adanya perluasan jangkauan dan akses ke berbagai peristiwa dan wilayah yang sebenarnya tidak bisa dipercepat hanya dengan memiliki kendaraan bermotor.

Berada di tengah keramaian mal merupakan bagian dari kecenderungan alami warga mencari pengalaman pergerakan yang lain, karena pusat belanja modern menawarkan hal berbeda dari kehidupan keseharian mereka.

Secara bebas, pendapat Simone dapat diartikan bahwa mereka yang biasa tinggal di hunian padat minus fasilitas publik memadai, walau tak selamanya diasosiasikan dengan daerah kumuh atau ilegal, dapat merasakan kelegaan hingga kualitas hidup yang kekinian dan terasa lebih tinggi di mal. Mal menjadi satu dari sedikit ruang yang terasa inklusif, meski tidak semua layanannya bisa diakses semua pengunjungnya.

Pengunjung memadati area foodcourt di pusat perbelanjaan di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Sabtu (20/10/2018). Pusat perbelanjaan yang menyediakan berbagai kebutuhan masih menjadi tujuan warga untuk mengisi libur akhir pekannya.KOMPAS/PRIYOMBODO (PRI)20-10-2018

Yang menarik, meskipun mal dipenuhi Rohana dan Rojali, jangan heran jika melihat foodcourt yang selalu penuh atau gerai-gerai penjual makanan dan minuman terjangkau tetap diwarnai antrean pembeli.

Ada yang datang hanya untuk mencicipi es krim cone dengan harga satuan kurang dari Rp 10.000, ada yang sekedar memesan kopi dan satu-dua porsi kudapan saja untuk disantap ramai-ramai dengan keluarga atau teman. Tetap saja ini adalah bentuk hiburan yang terjangkau, yang bisa diraih meski saldo rekening tipis. Artinya, meski tidak membeli barang tersier maupun bersantap di restoran mahal di mal, pengunjung tetap berkontribusi pada ekosistem ekonomi di pusat belanja tersebut.

Dan, dalam masa ekonomi yang serba tidak pasti seperti saat ini, bentuk-bentuk kebahagiaan kecil tersebut penting untuk menjaga semangat hidup warga kota maupun perputaran uang di kota itu sendiri.

Fenomena Rohana dan Rojali sebetulnya mengingatkan pada ironi kota-kota besar yang hampir selalu lekat dengan tujuan pembangunan sesuai logika konsumsi, logika para kapitalis, tetapi ditempati oleh mayoritas warga yang makin kesulitan mengonsumsi.

Mereka adalah penanda bahwa kota ini masih perlu banyak dibenahi. Bahwa ruang publik bukan berarti hanya ruang terbuka yang formal, tetapi juga ruang sosial tempat warga merasa diterima dan tidak dihakimi. Jika saat ini mal menjadi secuil fasilitas yang bisa memberi rasa itu, maka perannya tak bisa diremehkan.

Mal tetaplah ruang yang pada dasarnya dibentuk oleh logika pasar. Namun, mengabaikan kenyataan bahwa bagi sebagian besar warga mal adalah wujud taman kota yang dirindukan akan membuat buta terhadap pengalaman urban sehari-hari yang riil. Kondisi ini seharusnya menohok para pengelola kota untuk mulai berbenah, tidak semata top down menerapkan strategi tetapi mulai memahami taktik warga kota bertahan di tengah belantara urban.

Tentu saja alangkah baiknya jika kemudian diikuti dengan mencari jalan tengah mewujudkan kota ramah pada warganya. Pada saat yang sama, sebagai mesin ekonomi pun juara.

Maka, mari berhenti memandang duet Rohana dan Rojali sebelah mata. Mereka bukan beban, melainkan kisah manis kemenangan kecil warga kota menemukan taktiknya mengakali kerumitan situasi. Dan, kota yang baik seharusnya memungkinkan kemenangan-kemenangan kecil itu semakin banyak terjadi dengan pembangunan yang lebih pro warga.


Kerabat Kerja

Penulis:

Neli Triana
 | 

Editor:

Gesit Ariyanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase