Keputusan untuk memakamkan mereka tanpa nama adalah langkah berat yang diambil di tengah kondisi darurat.
12 Des 2025 17:19 WIB · Politik & Hukum
Kompas/Willy Medi Christian Nababan
Di hamparan tanah yang masih basah itu berdiri tegak sebuah papan nisan kayu bercat hitam. Tidak ada nama panggilan, tidak ada bin atau binti. Identitas manusia dikuburkan diringkas menjadi deretan huruf dan angka berwarna putih: PM-RSUD-24. Di bawahnya tertulis keterangan singkat: Laki-laki, Anak.
Di belakang nisan itu, alat berat ekskavator berwarna kuning masih menderu, membersihkan sisa-sisa tanah bekas penggalian. Pemandangan kontras ini menjadi saksi bisu pemakaman massal sepuluh jenazah korban banjir bandang dan longsor di Taman Pemakaman Umum (TPU) Sungai Jariang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Kamis (11/12/2025) siang.
Mereka dimakamkan berjejer dalam satu liang lahat besar. Peti-peti jenazah berbalut kain putih diturunkan satu per satu oleh personel TNI dan Polri. Dari sepuluh peti itu, lima peti berisi tubuh anak-anak.
”Sepuluh jenazah ini terdiri dari tiga perempuan anak-anak dan dua laki-laki anak-anak. Kemudian empat wanita dewasa dan satu laki-laki dewasa,” ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Agam Muhammad Luthfi.
Ini menunjukkan bahwa mereka tidak ditinggalkan dan tidak dilupakan. Negara hadir untuk mengantarkan mereka ke tempat peristirahatan terakhir dengan layak meski identitasnya belum terungkap.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/11/e24c436a4602ce2d03c118aa7aec89b5-IMG20251211141208.jpg)
Keputusan untuk memakamkan mereka tanpa nama adalah langkah berat yang diambil di tengah kedaruratan. Jenazah-jenazah ini tak bisa lagi menunggu. Kapasitas tempat di RSUD Lubuk Basung sudah tidak mencukupi, sementara kondisi jenazah terus menurun.
Selain alasan medis dan kapasitas, ada alasan religius yang mendesak. ”Sebagaimana ajaran agama Islam, jenazah itu sebaiknya segera dimakamkan,” ungkap Luthfi.
Di sisi lain, kepolisian menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar prosedur teknis. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Sumatera Barat Komisaris Besar Susmelawati Rosya menyampaikan, pemakaman massal ini merupakan wujud penghormatan tertinggi negara bagi para korban.
”Ini menunjukkan bahwa mereka tidak ditinggalkan dan tidak dilupakan. Negara hadir untuk mengantarkan mereka ke tempat peristirahatan terakhir dengan layak meski identitasnya belum terungkap,” ujar Susmelawati.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/04/5740c6e2-56bc-4d12-a118-7af3c03461d5_jpg.jpg)
Namun, proses sains tak bisa dipaksa cepat. Identifikasi melalui pencocokan DNA memerlukan waktu yang jauh lebih lama daripada batas waktu jenazah bisa bertahan di suhu ruang. Akhirnya, jalan tengah diambil, tubuh mereka dikembalikan ke tanah, sementara identitas mereka dicantumkan berupa kode.
Peristiwa di TPU Sungai Jariang ini menambah panjang deretan nisan tanpa nama akibat bencana hidrometeorologi yang menghantam Sumatera Barat. Pemandangan serupa sebelumnya telah lebih dulu menyelimuti Kota Padang.
Di TPU Bungus Teluk Kabung, puluhan jenazah, yang sebelumnya sempat disemayamkan di RS Bhayangkara Padang, juga harus dikebumikan secara massal. Laporan mencatat setidaknya ada 24 jenazah yang dimakamkan di sana karena alasan serupa, yakni kondisi fisik yang sulit dikenali dan proses pencocokan DNA yang memakan waktu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/d01bca86697a66afde879a23bdddc124-IMG20251211133812.jpg)
Kepala Bidang Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri Kombes Wahyu Hidayati menyebutkan, situasi di Agam sebagai bencana terbuka (open disaster). Berbeda dengan kecelakaan pesawat yang terdapat daftar manifes penumpang, bencana di Agam siapa pun bisa menjadi korban tanpa ada catatan pasti.
Tantangan di ruang jenazah pun tak kalah pelik dari medan berlumpur di lokasi bencana. Identifikasi primer yang biasanya mengandalkan sidik jari kini nyaris mustahil dilakukan. ”Kalau sidik jarinya enggak ada, kayak ini kan, sudah busuk, agak susah kita cocokkan,” ujar Wahyu.
Kondisi jenazah yang mulai rusak membuat tim forensik harus bergantung pada dua metode tersisa, yakni rekam gigi dan DNA. Namun, data gigi sering kali tidak tersedia, terutama bagi korban anak-anak yang belum pernah melakukan perawatan gigi ke dokter, atau korban dewasa yang tak memiliki rekam medis.
Barang-barang pribadi seperti cincin atau pakaian, yang biasanya bisa menjadi petunjuk sekunder, juga banyak yang hanyut terbawa banjir atau keluarga pelapor tidak hafal detail apa yang dikenakan korban saat kejadian.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/10/1d43f996f798dbc38226d00e281346e7-IMG20251210075018.jpg)
Ketika fisik tak lagi bisa dikenali, DNA menjadi harapan terakhir. Tim DVI mengambil sampel biologis dari setiap jenazah sebelum dimakamkan. Tulang paha atau jaringan tubuh yang masih utuh diambil sebagai modal pencarian identitas.
”Biasanya kami ambil tulang yang kecil saja supaya tidak terlalu mengubah kelengkapan jenazah,” kata Wahyu.
Namun, keluarga harus bersabar. Wahyu mengakui proses ini tidak sebentar. Sampel-sampel dari Agam, termasuk dari jenazah dan keluarga pelapor, harus dikirim ke laboratorium di Jakarta. Di sana, mereka harus antre dengan kasus-kasus lain karena keterbatasan jumlah petugas ahli DNA.
”Petugas terbatas, sampel, kan, banyak, jadi mengantre. Ditambah lagi kasus lain, sehingga agak tertunda,” jelas Wahyu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/08/007de6e972a1471980a9e7cf5fe17c3d-IMG20251208141055.jpg)
Bagi keluarga korban, nisan berkode ini adalah ruang tunggu yang menyiksa sekaligus memberi harapan. Pemerintah Kabupaten Agam masih membuka kesempatan kepada masyarakat untuk melapor ke posko utama atau kantor wali nagari jika merasa kehilangan anggota keluarga.
Jika kelak laboratorium berhasil mencocokkan DNA dan kode itu menemukan pemilik aslinya, keluarga memiliki pilihan. ”Nanti apabila ditemukan kecocokan identitas, keluarga korban barangkali mau memindahkan jenazah ini ke tempat yang lebih bagus, atau tetap di sini, tapi bisa melakukan takziah,” tambah Luthfi.
Hingga hari itu tiba, kesepuluh korban ini beristirahat bersama. Tanpa nama di nisan, mereka didoakan oleh para pelayat yang berdiri mengelilingi liang lahat, berharap mereka tenang di sisi-Nya.
Penulis:
Willy Medi Christian NababanEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji