Cerita tentang persahabatan seorang pengayuh becak di Nepal dengan anjing peliharaannya.
01 Agt 2025 11:07 WIB · Internasional
Bagi Babu Tamang, seorang penarik becak di Kathmandu, Nepal, seekor anjing bernama Shyam bukanlah sekadar hewan peliharaan semata. Anjing itu telah dianggap ”keluarga”. Masyarakat sekitar tempat tinggalnya di daerah sangat tahu keakraban Tamang dan Shyam.
Tamang rutin memandikan Shyam. Dia juga memberi makanan terbaik untuk anjingnya. Sebagai balasannya, Shyam akan mengikuti ke mana pun Tamang mengayuh becaknya. Tidak sedikit penumpang yang menggunakan jasa becak Tamang akhirnya memberi tip lebih untuk Shyam.
Saat menunggu penumpang, mereka kadang bercengkerama atau tertidur bersama di becaknya yang diparkir di pinggir jalan. Saat mengantarkan penumpang, Shyam biasanya akan berlari mendahului becak Tamang, seakan sedang memandu arah.
Terkadang Shyam juga berjalan di belakang becak saat Tamang mengantarkan penumpang. Keberadaan anjing itu disukai banyak orang yang lalu lalang di jalan. Banyak penumpang becak Tamang mengelus-elus Shyam begitu perjalanan selesai dan ongkos dibayar. Shyam juga sering naik ke becak yang kosong tanpa penumpang saat Tamang kembali ke tempat biasa ia mangkal.
Shyam bukanlah anjing pertama yang dimiliki Tamang. Dua tahun lalu, ia sangat terpukul ketika istrinya memberi tahu bahwa seekor macan tutul telah membunuh Putle, anjingnya yang berusia 10 tahun. Di desa asalnya, yang berjarak enam jam perjalanan dengan bus dari Kathmandu, masih banyak terdapat hewan buas. Suatu hari, Tamang melihat seekor anjing yang terlihat garang di garasai tempat biasa memarkir becak. Sejak saat itu, persahabatan mereka terjalin sampai sekarang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/01/4d86b4a4-4656-459e-bf2e-87fd36e6113e_jpg.jpg)
”Dia tidak pernah meninggalkanku sendirian,” kata Tamang sambil tersenyum. Tinggal di kota dan jauh dari keluargaku membuat Tamang menganggap Shyam sahabat terdekatnya. Saat itu puncak musim panas, Shyam terlihat berteduh dibawah becak Tamang. Badan Shyam juga terkena noda oli saat berlarian di jalanan. Biasanya Tamang akan segera memandikannya jika anjingnya terlihat kotor.
Tamang tinggal di sebuah rumah sewaan berukuran kecil bersama dua pengemudi becak lain. Mereka menerima Shyam dengan baik. Satu-satunya waktu Tamang berpisah dengan anjingnya adalah saat ia pulang menengok keluarganya. Ia akan menitipkan Shyam ke salah satu temannya yang bekerja di bengkel di dekat rumahnya. Di Nepal, anjing tidak diperkenankan dibawa ke dalam bus umum.
Saat matahari mulai terbenam, Tamang segera bersiap membawa pergi becak dan Shyam pulang. ”Dia bukan sekadar anjing, dia keluargaku.” (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan