Kisah Tiga Lebaran Presiden Megawati di Istana (5)

Saat menduduki kursi kepresidenan, dari 2001-2004, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri tiga kali merayakan Lebaran dan menggelar ”open house” di Istana.

30 Mar 2025 19:05 WIB · Politik & Hukum

Oleh Cyprianus Anto Saptowalyono, Nina Susilo, Nino Citra Anugrahanto

Dalam rentang masa jabatan kepresidenan dari 23 Juli 2001 hingga 20 Oktober 2004, Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri tiga kali merayakan Lebaran dan menggelar open house atau buka pintu Istana. Ragam kisah pun mewarnai Lebaran di era Megawati.

Pada 16 Desember 2001, Presiden Megawati dan suaminya, Taufik Kiemas, mengikuti shalat Idul Fitri 1422 Hijriah di Masjid Istiqlal, Jakarta. Merujuk arsip pemberitaan Kompas, di akhir acara shalat Id tersebut diumumkan kepada hadirin bahwa pada sore harinya, mulai pukul 16.30-18.00 akan digelar open house di Istana Kepresidenan Jakarta.

Alhasil, sejak sekitar pukul 14.00 WIB, ratusan orang dari berbagai lapisan menunggu di halaman Sekretariat Negara. Mereka menanti untuk masuk ke halaman Istana Negara dengan terlebih dahulu melewati pintu yang dilengkapi alat pendeteksi.

Ada dua pintu dengan alat detektor yang mesti dilewati sebelum mereka masuk ke Istana. Satu demi satu ratusan warga dari berbagai rentang usia tersebut bersalaman dengan Presiden Megawati dan suami yang berdiri di ruang depan Istana Kepresidenan.

Quote

Sistem demokrasi tanpa tanggung jawab tidak akan membawa kita kepada tujuan kemerdekaan yang dengan elok telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa dan negara ini.

KLIPING KORAN HARIAN KOMPAS KOMPAS/ARBAIN RAMBEY

Pada pagi harinya, open house di Istana Kepresidenan berlangsung selama dua jam. Acara yang digelar dari pukul 10.00-12.00 tersebut dikhususkan untuk para pejabat pemerintahan/negara bersama keluarga, pengusaha, dan duta besar negara-negara sahabat. Selain itu, juga bagi pegawai Istana dan Kantor Sekretariat Negara, anggota DPR/MPR, artis, dan warga masyarakat yang memiliki undangan khusus.

Terima kasih atas kritik

Ada hal menarik yang dicatat wartawan Kompas pada momen bersalaman di Istana tersebut. Hal ini terjadi saat Taufik Kiemas menyapa ramah para tamunya. Dan, saat menjabat tangan wartawan, Taufik bersuara lantang, ”Terima kasih, ya, atas kritik-kritik yang dilontarkan.”

Pada Lebaran tahun berikutnya, Presiden Megawati pun shalat Idul Fitri 1 Syawal 1423 di Masjid Istiqlal. Dalam khotbahnya di depan ribuan jemaah, 6 Desember 2002, Menteri Agama Said Agil Husin Al Munawar saat itu mengemukakan, antara lain, hal yang masih memprihatinkan adalah masih banyak orang tidak mau minta maaf atas kesalahan yang dilakukannya.

”Sebaliknya, masih banyak di antara kita yang enggan memberi maaf atas kesalahan yang dibuat orang lain, walaupun orang tersebut sudah bertobat dan meminta maaf atas kekhilafan dan kealpaannya,” ujar Said Agil.

*** Local Caption *** Presiden Megawati Soekarnoputri didampingi Wakil Presiden Hamzah Haz hari Kamis (9/8) saat mengumumkan susunan Kabinet Gotong Royong tahun 2001-2004, di depan wartawan, di Istana Negara, Jakarta./ jb suratno (rat), difile riadi *** Local Caption *** Presiden Megawati Soekarnoputri didampingi Wakil Presiden Hamzah Haz hari Kamis (9/8) saat mengumumkan susunan Kabinet Gotong Royong tahun 2001-2004, di depan wartawan, di Istana Negara, Jakarta./ jb suratno (rat), difile riadi

Pada sore harinya, Presiden Megawati dan suaminya bersalaman dengan sekitar 1.900 warga pada open house. Seusai bersalaman dengan Presiden, setiap orang diberi bingkisan makanan nasi liwet.

Pada momen ini, Kompas mencatat ada seorang ibu muda, Yulianti (22) yang hamil tujuh bulan pingsan ketika memegang tangan Megawati. Pasukan Pengamanan Presiden kemudian menggotongnya ke luar Istana. Setelah dibaringkan di ruang wartawan selama beberapa saat, Yulianti kembali siuman.

Pengalaman berbeda dialami Ani (42), pedagang kain di tepi Jalan Tanah Abang IV, dan Siti Rachma (40), pembantu rumah tangga di Jalan Veteran, Jakarta. Keduanya menangis tersedu-sedu setelah bisa memegang tangan Megawati.

Pola open house di Istana yang terbagi dua, pagi dan sore, dilakukan pula pada Lebaran, 25 November 2003. Pada open house sore hari, hampir 2.000 orang mengantre di depan Istana Negara untuk bersalaman dengan Presiden Megawati dan suaminya.

residen Megawati Soekarnoputri menyalami warga dalam acara Halal bihalal keluarga besar Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dengan masyarakat sekitar di kediaman presiden di Jalan Kebagusan Besar IV No 45, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (22/12/2002) siang.

Pada pagi harinya, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Ma’arif dalam khotbah shalat Idul Fitri di Masjid Istiqlal menyampaikan perihal keadilan.

”Keadilan tidak boleh dipermainkan. Agama yang tidak membela keadilan adalah agama yang sudah layu, agama yang kehilangan semangat hidup,” kata Syafii di depan Presiden Megawati, Wapres Hamzah Haz, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua Mahkamah Agung Bagis Manan, anggota kabinet, dan ribuan umat yang hadir di Masjid Istiqlal.

Secara teori, Syafii menuturkan, Indonesia dikatakan sebagai negara hukum. Hukum yang tidak tegak hanya akan semakin meluluhlantakkan harapan rakyat untuk melihat Indonesia yang kuat sebagai negara hukum.

Perihal demokrasi pun disinggung Syafii. ”Sistem demokrasi tanpa tanggung jawab tidak akan membawa kita kepada tujuan kemerdekaan yang dengan elok telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa dan negara ini,” kata Syafii Ma’arif.

Waktu pun terus berlalu. Kabinet Gotong Royong yang dipimpin Presiden Megawati pun memasuki tahun terakhirnya, tepatnya pada 20 Oktober 2004. Meski demikian, pada akhir September 2024, kabinet secara khusus menggelar rapat koordinasi terbatas bidang ekonomi untuk mempersiapkan pelaksanaan hari raya Lebaran, Natal 2004, dan Tahun Baru 2005.  


Kerabat Kerja

Penulis:

Cyprianus Anto Saptowalyono, Nina Susilo, Nino Citra Anugrahanto
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro