Tottenham masih menjadi mimpi buruk untuk tuan rumah Manchester City di Stadion Etihad. Berbeda dengan musim lalu, Tottenham menang berkat pertahanan yang istimewa.
23 Agt 2025 21:18 WIB · Olahraga
MANCHESTER, SABTU — Ketika tanpa penguasaan bola, nyaris tidak ada tim yang mampu membuat Manchester City tidak nyaman di kedua sisi lapangan. Tottenham Hotspur menjadi pembeda. Mereka sukses membuat City menderita dengan klinik pertahanan ala Pelatih Thomas Frank.
Tottenham berhasil mengacaukan laga kandang pertama City di Stadion Etihad pada musim ini, Sabtu (23/8/2025). Datang sebagai tim kuda hitam, mereka pulang dengan kemenangan 2-0 berkat gol penyerang sayap Brennan Johnson dan gelandang Joao Palhinha di paruh pertama.
”Sangat puas. Kami bermain dengan sangat baik hari ini. Bisa mencetak gol dan pulang dengan nirbobol dari sini merupakan hasil yang sempurna. Saya sudah datang ke sini berkali-kali dan merasakan kemasukan banyak gol. Tidak mudah bertahan versus City,” kata Johnson.
”Si Lili Putih”, julukan tim tamu, datang dengan prinsip pragmatis ”pertahanan adalah kunci kemenangan”. Mereka enggan membiarkan para pemain City bergerak bebas. Menariknya, Tottenham tidak selalu bermain pasif dengan bertahan sangat dalam atau ”parkir bus”.
Frank datang dengan ide mengombinasikan pertahanan blok super tinggi dan rendah. Saat City membangun serangan dari bawah, enam sampai tujuh pemain Tottenham menekan dengan skema man-to-man. Cara itu sangat berisiko jika ada satu kesalahan kecil, tetapi tetap dilakukan sepanjang laga.
Ide itu dieksekusi dengan total. Bek tengah Tottenham Micky van de Ven sampai meninggalkan posnya berkali-kali. Dia sering mengikuti gelandang lawan, Rayan Cherki, yang mundur menjemput bola agar skema man-to man tetap berjalan. Pemain bertahan lain bekerja sama menutup lubang itu.
Ketika City mampu memecahkan jebakan tinggi itu, Tottenham langsung mengubah skema ke blok rendah dengan sangat cepat. Tim asuhan Frank langsung memenuhi area di dalam dan sekitar kotak penalti. Mereka selalu bisa melimitasi ruang karena bergerak sebagai satu unit yang sangat rapat.
Kesabaran skuad Tottenham diuji. Mereka harus disiplin dalam bertahan, sampai peluang untuk menyerang datang sendiri. Ujian tersebut berhasil dilewati pada setengah jam pertama. City sempat beberapa kali mengancam lewat penyerang sayap Omar Marmoush, tetapi masih berhasil diatasi.
Kesempatan pertama Tottenham datang pada sepuluh menit jelang turun minum. City sibuk menyerang dan menekan tinggi. Saat tim lawan menyerang, mereka mengirim umpan panjang yang sukses memecah jebakan offside. Penyerang Richarlison berlari tanpa penjagaan, lalu memberikan asis untuk Johnson.
Di injury time paruh pertama, ide berisiko Frank berbuah manis. Setelah berkali-kali mengganggu tim asuhan Manajer Pep Guardiola dengan tekanan agresif sejak dari kotak penalti, gelandang Pape Sarr berhasil merebut umpan kiper James Trafford. Momen itu berujung gol Palhinha.
Tottenham memang masih kalah jauh dalam penguasaan bola, hanya 39,1 persen. Namun, mereka bisa mengontrol laga tanpa memegang bola. Caranya dengan melimitasi pergerakan para pemain City ke area berbahaya. Terbukti, jumlah tembakan tim tamu lebih banyak dibandingkan City, 12-10.
Gelandang kreatif City, seperti Tijjani Reijnders dan Cherki, dibuat frustrasi oleh klinik pertahanan ala Frank. Sempat bersinar di pekan pertama, kedua pemain itu hanya mengombinasikan satu tembakan dan satu umpan kunci di Etihad. Penyerang Erling Haaland pun tidak mendapatkan cukup dukungan.
Palhinha merupakan salah satu penyebab menghilangnya Reijnders dan Cherki. Pemain pinjaman dari Bayern Muenchen itu tampil sangat solid di lini tengah. Selain mencatat jumlah tekel terbanyak, empat kali, dia juga selalu bisa menutup lubang yang berpotensi diekspos lawan.
Richarlison juga patut diapresiasi. Selain sumbangan satu asis, pemain tim nasional Brasil itu turut memimpin barisan pertama Tottenham untuk menekan tinggi. Dia menggunakan kecepatan berlari untuk membuat panik para pemain lawan yang sedang dalam penguasaan bola.
Bek City, Ruben Dias, berkata, timnya kurang beruntung karena kecolongan gol pertama. Jebakan offside itu seharusnya bisa lebih rapi. ”Spurs adalah tim yang bisa sangat berbahaya. Kami memulai dengan baik, tetapi tidak bereaksi seperti seharusnya. Terutama setelah kemasukan,” ucapnya.
Tottenham pun mampu menaklukkan City untuk dua kali beruntun di Etihad. Musim lalu, November 2024, mereka menang telak 4-0 saat masih dilatih Ange Postecoglou. Adapun kemenangan itu diraih lebih karena City sedang terjebak dalam performa buruk.
Hasil itu sekaligus menjadi evaluasi besar bagi Guardiola yang sedang berupaya membangkitkan City ke level terbaik. Mereka masih memperlihatkan banyak kelemahan di musim baru, salah satunya pola serangan kolektif yang belum terbentuk. Mereka hanya mengandalkan kemampuan individu. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto