Klub Sepak Bola Makin Makmur berkat Optimalkan Nilai Komersial Jenama

Sektor komersial semakin berpengaruh besar bagi kondisi ekonomi klub sepak bola. Real Madrid contoh terbaik bagi pengelolaan finansial ideal.

31 Jan 2025 11:40 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Klub-klub raksasa sepak bola di Eropa kian memaksimalkan nama besar jenama mereka untuk meraih pendapatan sebesar-besarnya melalui kesepakatan komersial. Upaya sejumlah klub meningkatkan kapasitas tribune stadion bukan lagi untuk menampung lebih banyak suporter, melainkan juga menarik minat pemasukan di luar pertandingan si kulit bundar.

Dalam laporan Football Money League 2025 yang dikeluarkan firma keuangan, Deloitte, 23 Januari 2025, terungkap bahwa pendapatan terbesar 12 dari 30 klub selama periode kompetisi 2023-2024 ditopang melalui sektor komersial. Pemasukan komersial bersumber dari kerja sama sponsor dan penjualan cendera mata klub (merchandise).

Terdapat perbedaan mencolok dalam pendapatan klub 10 besar pemasukan terbesar selama 2023-2024. Sebanyak 48 persen pendapatan mereka ditopang oleh pemasukan komersial. Pemasukan hak siar dari 10 tim terkaya sebesar 34 persen, lalu pemasukan dari hari pertandingan, seperti penjualan tiket laga, menyumbang hanya 12 persen dari akumulasi pemasukan.

Dominasi pendapatan komersial itu menunjukkan adanya perubahan signifikan bagi klub-klub terkaya untuk mengoleksi pemasukan. Pada Money League edisi perdana tahun 2011, peringkat 10 teratas mendapatkan sumber pemasukan terbesar dari hak siar sebesar 43 persen. Kemudian, pendapatan komersial dan pertandingan masing-masing 31 persen dan 26 persen.

Namun, bagi klub yang berada di peringkat ke-11 hingga ke-20, sumber pemasukan tidak banyak perubahan dibandingkan dekade lalu. Pada Money League 2025, sumber pemasukan terbesar tetap dari hak siar dengan persentase 47 persen. Angka itu justru meningkat dari 44 persen pada Money League edisi perdana.

Quote

Peningkatan signifikan itu ditopang oleh peningkatkan kinerja ritel, kenaikan pendapatan sponsor, hingga penyelenggaraan acara non-sepak bola.

infografik Football Money League 2025

Adapun pemasukan komersial tim-tim di luar zona 10 besar hanya mengalami rerata peningkatan yang tidak terlalu signifikan. Mereka mengoleksi 33 persen pendapatan komersial pada 2011, sedangkan pada edisi 2025, pemasukan komersial mencapai 34 persen.

”Pendapatan komersial mendominasi bagi 10 besar klub Money League, sedangkan tim di luar zona itu masih amat bergantung pada hak siar,” ujar Tim Brigde, kepala kemitraan di Grup Bisnis Olahraga Deloitte.

Secara total, nilai pemasukan komersial dari 30 tim yang masuk dalam daftar Money League 2025 mencapai 4,5 miliar euro atau sekitar Rp 75,96 triliun. Nilai itu menunjukkan adanya peningkatan 10 persen dibandingkan edisi tahun lalu.

”Peningkatan signifikan itu ditopang oleh peningkatkan kinerja ritel, kenaikan pendapatan sponsor, hingga penyelenggaraan acara non-sepak bola,” tambahnya.

Teladan Real Madrid

Real Madrid menjadi teladan terbaik bagi model pendapatan terkini yang bergantung pada sektor komersial. Tim berjuluk ”Los Blancos” itu menikmati peningkatan signifikan dari kerja sama sponsor dan penjualan ritel cendera mata.

Tak ketinggalan, Real juga memanfaatkan dengan baik wajah baru Stadion Bernabeu untuk menggelar sejumlah agenda non-olahraga hingga menggencarkan tur stadion sebagai salah satu destinasi wisata favorit di kota Madrid.

infografik Rata-rata Kategori Pendapatan Klub "Money League"

Berkat gencarnya kegiatan komersial itu, Real mendapatkan pemasukan mencapai 482 juta euro (Rp 8,14 triliun) yang meningkat dari 403 juta euro (Rp 6,8 triliun) pada tahun lalu. Tidak ada klub sepak bola lain yang bisa mendekati pemasukan komersial Real.

Duo tim yang mendekati pendapatan sektor komersial Real ialah Bayern Muenchen dan rival abadi mereka, Barcelona, dengan 421 juta euro (Rp 7,1 triliun).

Pendapatan itu membantu Real mencetak rekor dalam sejarah Football Money League. Los Blancos di bawah pimpinan Florentino Perez menjadi klub pertama yang mencapai pemasukan lebih dari 1 triliun euro, tepatnya 1,045 triliun euro (Rp 17,6 triliun).

”Kami telah mencapai tolok ukur baru dalam situasi finansial. Catatan itu menggarisbawahi posisi kami sebagai salah satu klub terkuat dan tersukses di dunia olahraga,” ujar Presiden Real Florentino Perez, dilansir laman klub.

Real berpotensi akan mempertahankan posisi puncak sebagai klub dengan nilai pendapatan terbesar di dunia pada laporan Money League 2026. Mereka memiliki potensi peningkatan penjualan cendera mata dari kedatangan Kylian Mbappe, lalu rumor rencana Real menjual hak penamaan untuk Stadion Bernabeu.

”Kami masih dalam tahap penyempurnaan untuk rencana yang telah kami gagas lima tahun lalu, yaitu membuat Bernabeu sebagai ikon monumental universal dan lambang arsitektur kota Madrid,” katanya.

Manchester City's Spanish manager Pep Guardiola gives in structino s to Manchester City's Egyptian striker #07 Omar Marmoush during the English Premier League football match between Manchester City and Chelsea at the Etihad Stadium in Manchester, north west England, on January 25, 2025. (Photo by Oli SCARFF / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Selain Real, Bayern, dan Barca, juara Liga Inggris musim 2023-2024, Manchester City, juga mencatatkan pemasukan komersial signifikan lebih dari 400 juta euro.

Raksasa Perancis, Paris Saint-Germain, juga menikmati sejumlah inovasi komersial mereka, salah satunya kemitraan jangka panjang dengan jenama Air Jordan untuk mengeluarkan jersei dan koleksi busana mode streetwear. PSG pun menduduki peringkat ketiga dalam daftar Money League 2025.

Besarnya pengaruh nama besar klub yang berimbas kepada nilai jenama komersial juga dimanfaatkan dengan baik oleh Manchester United. Meskipun sudah lebih dari satu dekade tidak menjadi juara di Liga Inggris, MU masih menduduki zona empat besar klub dengan pemasukan tertinggi.

Pendapatan terbesar ”Setan Merah” berasal dari pemasukan komersial yang mencapai 360 juta euro (Rp 6,07 triliun). Ritel-ritel olahraga besar, seperti Adidas, tidak pernah ketinggalan menjual produk-produk MU di tokonya di seluruh dunia.

Dari 10 tim nilai pemasukan tertinggi selama periode 2023-2024, Arsenal adalah satu-satunya tim yang tidak mengoleksi nominal dominan pada pemasukan komersial. Pendapatan 258 juta euro (Rp 4,35 triliun) dari sektor komersial masih kalah dari 305 juta euro (Rp 5,14 triliun) yang bersumber dari hak siar.

Sementara itu, tim-tim yang menghuni peringkat ke-11 hingga ke-30 masih amat bergantung pada performa mereka di atas lapangan hijau. Pemasukan mereka bisa naik dan menurun drastis ditopang prestasi klub yang berimbas pada jatah hak siar mereka.

Hanya tiga tim di luar zona 10 besar yang mengoleksi pendapatan komersial dominan, yakni Borussia Dortmund (peringkat ke-11), Juventus (16), dan Olympique Lyon (20).

Juventus' players pose for a team photo during the UEFA Champions League football match between Juventus and Benfica at the Allianz stadium in Turin, Italy, on January 29, 2025. (Photo by Marco BERTORELLO / AFP)

Penurunan Juventus

Menariknya, Juventus adalah tim dengan nilai penurunan pemasukan dan peringkat terbanyak di Money League 2025. Pendapatan Juve menurun 18 persen dibandingkan tahun lalu sehingga mereka terjun dari posisi ke-11 menjadi ke-16.

Meskipun nilai pemasukan komersial masih tinggi, 201 juta euro (Rp 3,39 triliun), angka itu menurun dari 219 juta euro (Rp 3,68 triliun) pada 2024. Penurunan drastis dialami Juve dari hak siar dari 157 juta euro (Rp 2,65 triliun) menjadi hanya 100 juta euro (Rp 1,68 triliun). Hal itu disebabkan absennya mereka di kompetisi antarklub Eropa pada musim 2023-2024 akibat hukuman dari UEFA.

”Si Nyonya Besar” untuk pertama kali bukan menjadi tim Italia dengan nilai pemasukan tertinggi. AC Milan dan Inter Milan masing-masing duduk di peringkat ke-13 dan ke-14.

Dari Money League 2025, terbukti model industri sepak bola sudah melampaui batas-batas olahraga. Klub-klub yang semakin lihai memanfaatkan nama besar dan pengaruh jenama mereka bakal menikmati kondisi finansial jauh lebih stabil tanpa memedulikan kondisi liga mereka. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata