KOMPONEN CADANGAN

Komcad ASN Disiapkan untuk Memperkuat Pertahanan Negara

Alih-alih menjadikan aparatur sipil negara sebagai target utama, ada saran agar rekrutmen komponen cadangan lebih difokuskan pada individu dengan keahlian spesifik.

08 Apr 2026 19:56 WIB · Politik & Hukum

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Oleh Willy Medi Christian Nababan

JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Pertahanan menyebutkan, pelibatan 4.000 aparatur sipil negara atau ASN sebagai komponen cadangan ditujukan guna memperkuat pertahanan negara. ASN muda berusia 18-35 tahun tersebut disiapkan menjadi potensi strategis yang siap dimobilisasi saat negara membutuhkan, tanpa meninggalkan tugas utama mereka di birokrasi.

Kepala Pusat Komponen Cadangan Badan Cadangan Nasional (Kapus Komcad Bacadnas) Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Hengki Yuda Setiawan menekankan bahwa pelibatan aparatur sipil dalam program komcad memiliki dimensi yang luas.

”Teman-teman (ASN) ini merupakan potensi strategis bagi bangsa, bukan hanya dalam penguatan birokrasi, tetapi juga nanti akan siap untuk digerakkan untuk pertahanan negara,” ujar Hengki di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Sebelumnya, rencana pelatihan ASN menjadi komcad disampaikan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin saat memberikan materi kepada anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang mengikuti retret di Pusat Kompetensi Bela Negara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertahanan, di Cibodas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/1/2026).

Kepala daerah yang mengenakan seragam komponen cadangan (komcad) berjalan menuju tempat upacara parade senja di kompleks Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (27/2/2025). Kegiatan itu bagian dari rangkaian acara penutupan retret kepala daerah yang berlangsung selama sepekan.

Sebanyak 4.000 ASN dari beberapa kementerian di Jakarta akan mulai dilatih pada semester pertama 2026 ini. ”Kita bagi setiap triwulan sehingga nanti pada saat semester pertama kita sudah mempunyai komponen cadangan cukup besar. Itulah proyeksi bagaimana negara harus mempertahankan dirinya,” ujar Sjafrie.

Pelatihan ASN menjadi komcad disebutnya untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme dan cinta Tanah Air dalam mengabdi kepada negara. Dengan begitu, semangat mereka untuk melayani masyarakat dan negara bisa semakin tinggi pula.

Seusai pelatihan, ASN akan dipulangkan ke instansi dan lembaga masing-masing. Mereka tidak akan diproyeksikan untuk menggantikan tugas TNI. Terlebih sehubungan dengan fungsi untuk menjadi ujung tombak keamanan negara.

<p>Pasukan berlari sembari membawa bendera merah putih pada rangkaian upacara Penetapan Komponen Cadangan tahun 2021 di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pasukan Khusus (Pusdiklatpassus), Bandung, Jawa Barat, Kamis (7/10/2021).</p>

Hengki menepis anggapan yang menyamakan program komcad bagi ASN ini dengan wajib militer. Ia menjelaskan, setelah menempuh pendidikan, peserta akan kembali ke instansi masing-masing untuk menjalankan profesinya seperti biasa. Mereka akan berfungsi sebagai ASN birokrasi yang memiliki kemampuan militer dasar.

Kemampuan tersebut, lanjut Hengki, tidak semata-mata disiapkan untuk menghadapi perang atau ancaman militer fisik. Komcad juga disiapkan untuk menghadapi ancaman nonmiliter, termasuk hibrida. Ini mengingat undang-undang mengamanatkan ancaman nonmiliter merupakan ranah dari kementerian/lembaga.

Kepala Pusat Komponen Cadangan Badan Cadangan Nasional (Kapus Komcad Bacadnas) Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Hengki Yuda Setiawan (kiri) dan Kepala Biro Informasi Pertahanan (Infohan) Kemenhan Brigjen Rico Sirait saat ditemui di Kompleks Kemenhan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Penguatan karakter

Untuk menunjang tujuan tersebut, lanjut Hengki, Kemenhan menyusun kurikulum pendidikan selama kurang lebih 1,5 bulan yang tidak hanya fokus pada materi baku militer. Pelatihan ini juga diperkaya dengan materi penguatan kapasitas ASN dari berbagai kementerian.

Selain kedisiplinan dan jiwa korsa, peserta akan dibekali materi psikologi lapangan, seperti teknik pemecahan masalah. ”Selama ini, kadang ketika ada masalah, kita tidak tahu cara memecahkannya sehingga kita stuck. Nah, itu yang akan kita ajari. Terutamanya adalah untuk menumbuhkan empati, simpati, nilai bela negara yang tinggi, serta ketangguhan di dalam melaksanakan perintah,” tutur Hengki.

Quote

Teman-teman (ASN) ini merupakan potensi strategis bagi bangsa, bukan hanya dalam penguatan birokrasi, tetapi juga nanti akan siap untuk digerakkan untuk pertahanan negara.

Upacara pelantikan 1.145 Personel komponen cadangan (komcad) Matra Darat Tahun Anggaran 2024 di lapangan upacara Mako Divisi Infanteri 1/Kostrad, Cilodong, Depok, Jawa Barat, Rabu (18/9/2024).

Saat ini, progres pembentukan komcad ASN memasuki tahap pemeriksaan kesehatan yang berlangsung sejak 30 Maret hingga 9 April 2026. Pemeriksaan dilakukan di sejumlah fasilitas kesehatan militer, seperti RS Pusdikkes Kramatjati, RS Marinir Cilandak, dan RS dr Suyoto Kemhan.

Selanjutnya, 2.000 ASN (gelombang pertama) yang telah lolos seleksi proporsional berdasarkan data Badan Kepegawaian Negara (BKN) tersebut akan dikumpulkan di Monas pada 13 April 2026. Mereka kemudian akan diberangkatkan menuju enam lembaga pendidikan, antara lain Rindam Jaya, Pasmar 1 Cilandak, dan Pusdik Bela Negara di Rumpin, untuk menjalani pendataan jasmani dan mental ideologi sebelum pendidikan resmi dimulai.

Prajurit TNI mengikuti defile pasukan dalam peringatan HUT ke-80 TNI di Silang Monas, Jakarta Pusat, Minggu (5/10/2025). Komcad adalah warga negara yang sukarela menjalani pelatihan militer dasar untuk kemudian dimobilisasi memperkuat kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam situasi darurat atau perang. Komcad berada di bawah Kementerian Pertahanan dan Markas Besar TNI, serta menjadi bagian dari sistem pertahanan negara yang menganut doktrin pertahanan rakyat semesta.

Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Di sisi lain, konsultan Marapi Consulting & Advisory, Beni Sukadis, mengkritisi rencana perekrutan aparatur sipil secara massal. Sebab, kebijakan tersebut berpotensi menyimpang dari tujuan awal pembentukan komcad. ASN pada dasarnya adalah pelayan publik yang memiliki fungsi vital dalam menjaga keberlangsungan layanan pemerintahan.

”Mengalihkan sebagian dari mereka ke peran pertahanan berpotensi mengganggu efektivitas pelayanan publik, terutama jika tidak didasarkan pada kebutuhan yang benar-benar mendesak,” kata Beni.

Alih-alih menjadikan ASN sebagai target utama, Beni menyarankan agar rekrutmen komcad lebih difokuskan pada individu dengan keahlian spesifik. Kompetensi seperti insinyur, tenaga medis (dokter dan perawat), ahli teknologi informasi, pilot, dan ahli bahasa dinilai lebih relevan dalam spektrum ancaman modern. Keahlian tersebut krusial untuk menghadapi ancaman tradisional ataupun nontradisional, seperti serangan siber, terorisme, dan pembajakan.

Beni juga menyoroti target kuota 4.000 ASN yang dinilai berisiko memicu pemborosan anggaran jika tidak dilandasi analisis kebutuhan yang terukur. Menurut dia, masih banyak warga negara dari sektor swasta yang dapat direkrut dan lebih fleksibel, khususnya mereka yang memiliki kemampuan di bidang informatika dan teknologi digital yang mendominasi karakter peperangan modern.


Kerabat Kerja

Penulis:

Willy Medi Christian Nababan
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul