Bimbingan konseling dan pendidikan nilai wajib dikuasai para guru untuk menjawab tantangan pendidikan sekaligus memastikan pembentukan karakter peserta didik.
24 Sep 2025 09:23 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
JAKARTA, KOMPAS — Penguatan kompetensi bimbingan konseling atau BK dan pendidikan nilai dilakukan bukan hanya untuk guru BK, melainkan juga bagi semua guru. Kompetensi ini wajib dikuasai guru untuk menjawab tantangan pendidikan sekaligus memastikan pembentukan karakter peserta didik berjalan seiring dengan pencapaian akademik.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menyatakan, guru di masa kini menghadapi tantangan pendidikan yang kian kompleks. Penyebabnya, antara lain, percepatan disrupsi teknologi, tekanan sosial, hingga isu kesehatan mental generasi muda. Kondisi ini menuntut guru memiliki keterampilan di luar sekadar mengajar mata pelajaran.
Sementara murid masa kini tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga perlu tumbuh sehat secara mental, kuat secara emosional, dan selaras secara sosial. Karena itu, guru dituntut tidak sekadar mengajar, tetapi juga mendampingi.
”Namun, jumlah guru BK yang terbatas membuat peran ini perlu diperluas. Stigma guru BK sebagai 'polisi sekolah' harus diubah dan menempatkan mereka pada posisi yang sangat penting,” kata Fajar dalam keterangan pers, dikutip pada Rabu (24/9/2025).
Fajar menyoroti data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 yang melaporkan bahwa satu dari tiga remaja (34,9 persen) atau setara 15,5 juta remaja mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir, dengan 5,5 persen masuk kategori berat.
Sekolah harus menjadi rumah kedua yang aman, nyaman, dan menggembirakan.
Kemudian, pada 2023, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menyebutkan, prevalensi penduduk dengan gejala depresi tertinggi terdapat pada kelompok remaja usia 15-24 tahun. Sebanyak 1 persen remaja mengalami depresi; 3,7 persen mengalami kecemasan; 0,9 persen mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD); dan 0,5 persen mengalami attention deficit/hyperactivity disorder (ADHD).
”Yang lebih memprihatinkan, semakin banyak anak-anak kita yang memiliki pikiran untuk bunuh diri,” ucapnya.
Menurut Fajar, pola pengasuhan di rumah dan keterpaparan gawai sejak dini memperburuk situasi. Lebih dari 30 persen anak usia 0-6 tahun sudah terbiasa menggunakan gawai. Hal ini dapat memicu anak mudah marah, kehilangan motivasi belajar, dan kurang bersosialisasi.
”Mereka cenderung lebih suka menyendiri, memiliki kemampuan sosial emosional yang rendah, dan lebih percaya berbagi cerita kepada teman sebaya, akun anonim di media sosial, atau bahkan aplikasi kecerdasan artifisial, dibandingkan kepada orangtua atau guru,” ujar Fajar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/07/19/20200719-LHR-Sebaran-guru-BK-mumed_1595149829_jpg.jpg)
Dengan kompetensi BK, guru diharapkan bisa mendeteksi dini persoalan siswa dan memberikan pendampingan awal. Sementara pendidikan nilai membantu guru menanamkan integritas, empati, dan tanggung jawab sebagai karakter dasar generasi masa depan.
Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 11 Tahun 2025 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru menegaskan bahwa guru mata pelajaran juga memiliki peran sebagai guru wali yang berkolaborasi dengan guru BK dan wali kelas. Hal ini untuk memastikan kesejahteraan murid, termasuk dalam pencegahan perundungan dan kekerasan.
Untuk mendukung hal itu, Kemendikdasmen menyiapkan berbagai program pelatihan dan pendampingan berkelanjutan. Materi yang diberikan tidak hanya menyangkut teori BK, tetapi juga keterampilan praktis, mulai dari teknik komunikasi empatik, mediasi konflik, hingga pemahaman dasar mengenai kesehatan mental remaja.
Selain itu, pendidikan nilai juga akan diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran, tidak hanya diajarkan di ruang-ruang khusus. Misalnya, dalam pelajaran Matematika, guru bisa mengaitkan soal dengan nilai kejujuran atau kerja sama.
”Program '7 Jurus BK Hebat' menjadi salah satu terobosan nasional untuk membekali guru dengan keterampilan konseling dasar yang kreatif, praktis, dan menggembirakan, agar seluruh murid Indonesia dapat bertumbuh dalam lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan penuh makna,” ucap Fajar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/02/14/04530246-f2c3-44cc-844c-14277b1986b9.jpg)
Upaya penguatan itu salah satunya dilakukan melalui pelatihan fasilitator daerah. Kegiatan yang digelar Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Sumatera Barat ini diikuti 530 calon fasilitator daerah dari 19 kabupaten/kota.
Kepala BGTK Provinsi Sumatera Barat Sri Yulianti mengibaratkan sekolah sebagai padepokan, tempat para guru berlatih layaknya pendekar yang tengah mencari ilmu. Para fasilitator diharapkan dapat mengumpulkan tujuh kitab yang berisi 7 Jurus BK Hebat untuk kemudian disebarkan di daerah masing-masing.
”Pelatihan ini kami laksanakan untuk membekali fasilitator daerah. Nantinya, mereka akan menemukan dan mengumpulkan tujuh kitab yang berisi tujuh jurus BK Hebat,” ucap Sri.
Pelatihan menggunakan pendekatan aktivitas yang menekankan partisipasi, refleksi, penguatan konsep, hingga aplikasi. Ia juga berharap hasil pelatihan ini mampu mewujudkan sekolah sebagai rumah kedua yang aman, nyaman, dan menggembirakan karena pendidikan harus membentuk manusia seutuhnya, menumbuhkan karakter, jiwa, dan empati, bukan sekadar mengejar ijazah.
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto