Kondisi Indonesia dan Undangan PBB Jadi Pertimbangan Pembatalan Lawatan Presiden ke China

Sedianya Presiden Prabowo Subianto memiliki dua agenda dalam lawatan ke China.

30 Agt 2025 23:24 WIB · Politik & Hukum

Oleh Nina Susilo

JAKARTA, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk membatalkan lawatan ke China. Presiden memilih memastikan kondisi negerinya aman.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengumumkan pembatalan ini secara resmi. ”Bapak Presiden Prabowo Subianto dengan kerendahan hati dan dengan memohon maaf kepada Pemerintah Tiongkok, beliau memutuskan untuk belum dapat menghadiri undangan dari Pemerintah Tiongkok,” tutur Prasetyo dalam rekaman yang dibagikan kepada wartawan, Sabtu (30/8/2025) malam.

Prasetyo menyebutkan beberapa pertimbangan pembatalan lawatan ini. Pertama, katanya, pada September ada beberapa undangan kepada Presiden Prabowo Subianto. Salah satunya adalah menghadiri sidang tahunan PBB di New York.

”Ini membuat salah satu pertimbangan bagi beliau di dalam memutuskan hadir atau tidaknya beliau memenuhi undangan dari Pemerintah Tiongkok,” tutur Prasetyo.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan pembatalan lawatan Presiden Prabowo Subianto ke China, Sabtu (30/8/2025).

Alasan kedua adalah kondisi Tanah air yang saat ini masih tidak kondusif. ”Karena dinamika di dalam negeri, Bapak Presiden ingin terus memantau secara langsung, beliau juga ingin terus memonitor secara langsung, kemudian juga ingin memimpin secara langsung dan mencari penyelesaian-penyelesaian yang terbaik,” tambah Prasetyo.

Sejauh ini, unjuk rasa terus meluas di sejumlah wilayah di Tanah Air. Unjuk rasa awalnya memprotes tunjangan DPR yang terlampau tinggi dan menunjukkan kesenjangan dengan rakyat.

Unjuk rasa semakin memanas dan meluas ketika seorang pengemudi ojek daring, Affan Kurniawan, dilindas kendaraan taktis Brimob di sekitar Bendungan Hilir, Jakarta, pada Kamis (28/8/2025) malam. Unjuk rasa meluas pada Jumat (29/8/2025) di sejumlah wilayah dan masih berlanjut, Sabtu ini. Seruan untuk berunjuk rasa sepanjang 1-5 September pun mulai muncul.

Dua agenda

Sedianya, Presiden akan berangkat dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (30/8/2025) malam. Setidaknya ada dua agenda Presiden di China.

Menurut rencana, Presiden menghadiri KTT Shanghai Cooperation Organization (SCO) 2025 di Tianjin dan beberapa agenda lain. KTT SCO 2025 ini dilangsungkan pada 31 Agustus-1 September.

SCO didirikan oleh China, Rusia, Kazakhstan, Kyrgystan, Tajikistan, dan Uzbekistan pada 15 Juni 2001. India dan Pakistan bergabung tahun 2017, sedangkan Iran pada 2023 dan Belarusia pada 2024. Kini, anggota SCO sebanyak sepuluh negara dan dua negara pengamat, yakni Afghanistan dan Mongolia.

Selain itu, juga masih ada 14 mitra dialog, yakni Azerbaijan, Armenia, Kamboja, Nepal, Turki, Sri Lanka, Saudi Arabia, Mesir, Qatar, Bahrain, Maladewa, Myanmar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.

Suasana sore menjelang matahari terbenam di tepi Sungai Hangpu meriah oleh gedung-gedung berhias lampu warna-warni, termasuk Menara Oriental Pearl yang jadi penanda Kota Shanghai, China. Pada Minggu (27/4/2025) area tepi sungai besar ini sangat ramai dikunjungi orang-orang; warag lokal maupun wisatawan.

Agenda lain yang akan dihadiri Presiden Prabowo adalah peringatan 80 tahun kemenangan dalam Perang Rakyat China Melawan Agresi Jepang dan Perang Dunia II.

Asisten Menteri Luar Negeri China Hong Lei, dalam konferensi pers, Kamis (28/8/2025), menyebutkan, Presiden Prabowo sebagai salah satu pemimpin negara yang akan hadir dalam parade militer pada 3 September 2025 itu.

Selain itu, masih ada Presiden Rusia Vladimir Putin, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, dan Perdana Menteri Pakistan Shahbaz Sharif yang juga disebut akan datang. Para pemimpin dari Myanmar, Iran, Belarus, Uzbekistan, Serbia, Nepal, Armenia, Tajikistan, Kongo, Malaysia, Maladewa, dan Mongolia juga turut hadir. Tidak ada pemimpin negara Barat yang disebut akan hadir.

Undangan parade militer juga disampaikan ke pihak-pihak yang membantu China selama berperang melawan Jepang pada 1931-1945. Ada 50 sahabat dan perwakilan keluarga dari 14 negara yang akan hadir, seperti Amerika Serikat, Kanada, Rusia, Inggris, dan Perancis.

Suasana Lapangan Tiananmen di Beijing, China pada Kamis (28/8/2025). Lapangan Tiananmen akan menjadi lokasi parade militer besar yang berlangsung pada 3 September 2025. Parade ini disebut sebagai cara China menunjukkan kemutakhiran di bidang militer dan teknologi. Ada 26 pemimpin negara yang akan menghadiri parade ini, termasuk dari Indonesia, Rusia, Korea Utara, Iran, dan Pakistan.

Parade militer besar, 3 September 2025, akan dilangsungkan di Lapangan Tiananmen. Acara ini disebut-sebut parade militer terbesar yang pernah digelar sejak Republik Rakyat China berdiri pada 1949.

Parade militer merupakan salah satu rangkaian acara peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II. China juga menandai berakhirnya perang melawan Jepang yang terjadi selama 14 tahun. Menurut catatan China, perang menewaskan 35 juta anggota militer dan warga sipil. Kerugian langsung dan tak langsung karena perang ditaksir lebih dari 600 miliar dollar AS.

China berharap sejarah kelam tidak terulang kembali. Beijing pun menegaskan sikap untuk menjaga perdamaian dunia.

”Di tengah situasi global yang kompleks dan defisit perdamaian yang meningkat, menjaga perdamaian dunia adalah tugas menantang. Tema acara peringatan ini adalah ’Mengingat Sejarah, Mengenang Para Pahlawan, Menghargai Perdamaian, dan Menciptakan Masa Depan yang Lebih Baik’,” kata Hong.

Chinese President Xi Jinping (L) and Indonesian President Prabowo Subianto attend a welcome ceremony at the Great Hall of the People in Beijing on November 9, 2024. (Photo by FLORENCE LO / POOL / AFP)

Menurut Wakil Direktur Jenderal Biro Operasional Departemen Staf Gabungan Komisi Militer China Mayor Jenderal Wu Zeke, parade ini untuk menunjukkan kemajuan China dalam modernisasi militer. Ada berbagai macam senjata dan peralatan militer yang akan ditampilkan selama parade. Sebagian di antaranya baru akan ditampilkan ke publik untuk pertama kali.

Senjata dan peralatan militer ini dibuat di dalam negeri dan saat ini aktif. Pameran mencakup, antara lain, peralatan nirawak dan antinirawak, serta sistem presisi hipersonik.

Ada lebih dari 10.000 personel yang terlibat dalam parade, 100 pesawat, serta ratusan kendaraan darat. Selain itu, ada lebih dari 100 jenis peralatan yang akan dipamerkan.

Tim aju yang mempersiapkan lawatan Presiden sesungguhnya sudah berada di Tianjin dan Beijing. Namun, kepastian pembatalan keberangkatan Presiden Prabowo baru muncul pada Sabtu (30/8/2025) sekitar pukul 15.00 WIB.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nina Susilo
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto