Kongres VI PDI-P berlangsung senyap tanpa atribut dan keramaian. Langkah ini diambil untuk meredam potensi gangguan, termasuk upaya pihak luar mendongkel Megawati.
04 Agt 2025 07:30 WIB · Politik & Hukum
Suasana restoran sebuah hotel terasa hening pada Jumat (1/8/2025) pagi, sekitar pukul 08.30. Padahal, puluhan orang telah berkumpul, mengenakan pakaian merah khas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Satu sama lain berbicara pelan, saling mengingatkan agar tidak lupa membawa kartu tanda anggota partai masing-masing. Selain itu, mereka juga dilarang membawa ponsel.
Di leher mereka tergantung kartu identitas khusus kongres, bertuliskan ”Kongres ke-VI PDI-P” lengkap dengan nama dan kota asal. Mereka adalah para utusan pemilik hak suara dalam kongres yang terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara dewan pimpinan daerah (tingkat provinsi) serta dewan pimpinan cabang (kabupaten dan kota).
Seorang ajudan menghampiri salah satu pimpinan DPC, menyampaikan bahwa bus untuk mengantar para peserta itu menuju Bali Nusa Dua Convention Center sudah siap. Lokasinya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari hotel. Di Bali Nusa Dua Convention Center itu, para peserta akan mengikuti kongres.
Pimpinan DPC itu terkejut karena kongres tidak digelar di Grand Inna Bali Beach, Denpasar, yang menjadi lokasi bimbingan teknis (bimtek) anggota Fraksi PDI-P DPR serta DPRD provinsi dan kabupaten/kota yang digelar sejak Rabu (30/7/2025). Apalagi, selama ini, Grand Inna Bali Beach juga selalu menjadi lokasi kongres partai berlambang banteng moncong putih tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/03/59b79fa3f58e47c43ea4f953defcb8fe-IMG_6916.jpeg)
Ketua DPC PDI-P Kota Singkawang (Kalimantan Barat) Sujianto juga ikut terkejut. Sebab, kabar digelarnya kongres juga baru diperoleh malam sebelumnya. Undangan yang ia terima sebagai Ketua DPRD Singkawang hanya memuat informasi agenda bimbingan teknis, yang dilanjutkan konsolidasi nasional.
”Itu, kan, bukan bahasa-bahasa kongres, bukan. Bahasanya konsolidasi. Saya malah dapat bocoran dari partai lain kalau PDI-P akan ada kongres. Itu malah tahu dari partai lain,” ujarnya saat ditemui Kompas seusai kongres.
Tidak ada baliho, spanduk, atau bendera partai. Tidak ada pula keramaian massa yang biasanya mengiringi hajatan besar PDI-P.
Sesampai di depan gerbang Bali Nusa Dua Convention Center, tempat kongres digelar, Sujianto bersama rekan-rekannya bingung sekaligus terkesima. Tidak ada baliho, spanduk, atau bendera partai. Tidak ada pula keramaian massa yang biasanya mengiringi hajatan besar PDI-P. Hanya ada sejumlah pecalang dan satuan tugas (satgas) PDI-P yang berjaga ketat di gerbang.
Mereka masuk dengan tertib, melalui area dalam gedung yang setiap pintunya dijaga rapat oleh pecalang. Suasana benar-benar steril. Pos penjagaan berlapis tampak sejak pintu gerbang. Semua petugas hotel mengenakan tanda pengenal, begitu pula para pecalang.
Setiap pintu menuju ruang kongres dijaga sedikitnya empat hingga lima orang. Setiap tamu dihentikan, ditanyai tujuannya, dan hanya yang memiliki kartu tanda anggota partai serta kartu identitas kongres yang diperkenankan masuk. Sisanya dipersilakan keluar.
”Saya lima kali ikut kongres sebelumnya, suasana kali ini luar biasa bagi saya. Strategi PDI-P luar biasa, begitu cepat dan mendadak menggelar kongres yang senyap, tetapi sukses. Nggak ada pengerahan massa, tidak ada atribut atau baliho. Disiplinnya bagus,” ucap Sujianto.
Kongres VI PDI-P berulang kali diundur sejak terakhir digelar pada 2019 di Bali. Dalam siklus organisasi, kongres partai biasanya diadakan sekali setiap lima tahun sehingga seharusnya PDI-P sudah melaksanakan kongres pada 2024.
Namun, partai berlambang banteng moncong putih itu menunda kongres keenamnya karena berbagai faktor. Salah satunya adalah beririsan dengan agenda Pemilihan Umum 2024 dan Pemilihan Kepala Daerah 2024 serentak. PDI-P akhirnya menjadwalkan ulang kongres pada April 2025, tetapi saat tiba waktunya kongres tak kunjung digelar.
Masa jabatan struktur kepengurusan DPP PDI-P yang seharusnya berakhir pada 2024 kemudian diperpanjang hingga 2025. Sejumlah elite PDI-P berulang kali menyampaikan bahwa kongres keenam pasti akan digelar tahun ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/30/d23fea6a43568a267bafd171d85703f3-32c93663_2b1b_4065_b586_6fe7ffeba620.jpeg)
Lama tak terdengar kabar, tiba-tiba seluruh anggota DPR dan DPRD diundang ke Bali untuk bimtek selama 29 Juli-3 Agustus 2025. Dalam hitungan hari, konsolidasi nasional terbesar itu mendadak berubah menjadi kongres yang dilaksanakan pada Jumat-Sabtu (1–2/8/2025) kemarin.
Ketua DPP PDI-P Komarudin Watubun mengungkapkan, persiapan kongres hanya berlangsung sekitar satu bulan dengan tim yang sangat terbatas. Tim itu terdiri dari pengurus DPP yang baru saja dinyatakan demisioner, dibantu tim daerah yang dipimpin Gubernur Bali I Wayan Koster.
Ketua DPP PDI-P Komarudin Watubun mengungkapkan, persiapan kongres hanya berlangsung sekitar satu bulan dengan tim yang sangat terbatas.
Suasana kongres kali ini juga berbeda. Tidak ada lautan bendera, baliho, atau spanduk seperti penyelenggaraan sebelumnya. Komarudin menyebut hal itu sepenuhnya ide putra Megawati yang juga menjabat Ketua DPP PDI-P, Prananda Prabowo.
”Ini 100 persen idenya Mas Nanan (Prananda Prabowo). Bahwa beliau berpikir kongres kali ini harus ada beda. Beda dalam arti, apalagi Bali ini, kan, kota wisata, kami coba angkat dari sisi budaya. Makanya, bendera-bendera, baliho, spanduk sepanjang jalan dikurangi. Dan, juga ini ke depan di konsolidasi PDI-P menitikberatkan pada sisi budaya sebagai perwujudan dari Trisakti, khusus tentang kepribadian di bidang kebudayaan,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/03/4aa3267e0d63d14ebe09a5aa4982c525-680dc34b_e77e_489a_8904_c1905a0239bf.jpeg)
Pemilihan Nusa Dua sebagai lokasi kongres pun mempertimbangkan aspek keamanan dan kondisi politik nasional saat ini. ”Dan, kenapa kami pilih tempat ini? Tempat ini lebih aman. Ada juga yang bertanya kenapa kongres agak tertutup. Seperti Saudara-saudara ketahui sebelumnya bahwa Ibu (Megawati) selalu sampaikan ada yang ingin mengobok-obok partai dan seterusnya. Sebagai partai, tentu kami juga mengantisipasi karena tidak semua orang tentu suka dengan kami,” ungkap Komarudin.
Sebelumnya, Megawati mengaku mendapat kabar bahwa ada pihak yang ingin mengacaukan atau ”mengawut-awut” PDI-P. Pihak itu disebut tidak ingin Megawati kembali menjadi ketua umum dengan dalih tidak berhasil memimpin PDI-P. Pernyataan tersebut disampaikan Megawati dalam keynote speech ”Peluncuran dan Diskusi Buku: Pilpres 2024 Antara Hukum, Etika, dan Pertimbangan Psikologis” di Jakarta, pada 12 Desember 2024.
Komarudin tak menampik ada indikasi upaya menjegal Megawati agar tidak terpilih kembali. Salah satu sinyal itu terlihat dari beberapa kali upaya pihak tertentu menggugat surat keputusan perpanjangan kepengurusan DPP PDI-P periode 2019–2024 ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta.
”Jadi, ada indikasi ke situ. Dan, selain indikasi, kau tahulah, he-he-he,” ucap Komarudin enggan melanjutkan pernyataannya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/02/a47cc359c0775266ba921011f8747692-ecb1cf60_a9de_4429_bc68_a9277815a780.jpeg)
Tak seperti yang dikhawatirkan, seluruh pemegang hak suara kembali mengukuhkan Megawati sebagai ketua umum di Kongres keenam PDI-P yang digelar di Nusa Dua ini. Komarudin menyebut prosesnya berlangsung singkat karena tinggal mengesahkan hasil Rakernas V PDI-P 2024 yang telah meminta Megawati memimpin kembali partai tersebut.
”Jadi, buka sidang pertama, 100 persen peserta minta, mendesak, segera dikukuhkan kembali Ibu (Megawati). Makanya, tidak butuh waktu lama. Anak-anak, kan, berdiri langsung, teriak, 'Mega... Mega!'. Padahal, belum dibaca susunan acara, langsung pada teriak, 'Lantik...Lantik!'. Jadi sama dengan euforia rakyat kepada Ibu tahun 1989, di Bali juga, yang pidato. Itu persis massanya seperti itu,” ujar Komarudin.
Ibu (Megawati) nanya sampai lebih dari tiga kali dan beliau sampai nangis pas di kongres. Pas di bimtek juga nangis karena semua nunjuk lagi menjadi ketum.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas, Megawati bahkan berkali-kali menanyakan keseriusan peserta kongres memilihnya kembali menjadi ketua umum. Ia disebut sampai menangis saat kongres maupun saat bimtek karena mendengar seluruh peserta menginginkan dirinya memimpin lagi. Megawati juga meminta para kader tidak takut jika ada pihak yang tidak setuju dirinya kembali memegang tampuk pimpinan.
Pimpinan Sidang Komisi Kongres VI PDI-P Lasarus membenarkan peristiwa tersebut. ”Mungkin kalau nggak setuju karena faktor umur. Atau bisa jadi juga kalau ada 'geng lain' masuk. Ke mana-mana itu, kalimat bersayap, kan. Tetapi, sudah ditanya berulang kali ke kami sebelum pengesahan. Ibu (Megawati) nanya sampai lebih dari tiga kali dan beliau sampai nangis pas di kongres. Pas di bimtek juga nangis karena semua nunjuk lagi menjadi ketum, beliau sampai tidak bisa berkata-kata,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/03/52835e24f2c89670cc23723e1ac4da6d-e7eedfd6_5cf8_4247_8f33_7dc4c239897c.jpeg)
Peneliti senior dari Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli, menilai adanya indikasi intervensi atau pihak eksternal yang ingin mengganggu PDI-P tampak dari berulang kali mundurnya jadwal kongres hingga akhirnya baru terlaksana pada 1 Agustus lalu. Kongres keenam partai itu pun digelar tidak seperti biasanya yang terbuka dan terekspos besar-besaran, melainkan relatif senyap, bahkan dibungkus dengan kegiatan bimtek untuk anggota DPR dan DPRD.
”Karena itu, kongres memang ingin difokuskan pada konsolidasi internal. Kongres digelar senyap tanpa pemberitahuan ke kader-kader karena menjaga dari indikasi-indikasi gangguan dari pihak luar, salah satunya dari upaya mendongkel Megawati dari kursi ketua umum,” ujarnya.
Ia menduga, ada pihak yang ingin mendongkel Megawati dari kursi ketua umum karena beberapa hal. Di bawah kepemimpinannya, PDI-P tidak hanya berhasil membangun soliditas dan fanatisme kader, tetapi juga memenangkan pemilu beberapa kali hingga menjadi partai besar.
Selain itu, meski ada kritik soal sentralisasi kepemimpinan, Megawati dinilai tetap berkomitmen menjaga tegaknya demokrasi dan konstitusi. ”Dalam rangka menjaga itu, adanya bujuk rayu dan godaan kekuasaan tidak membuatnya lupa untuk tetap menjaga demokrasi dan konstitusi,” kata Lili.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/01/14/Screen-Shot-2021-01-14-at-17.31.01_1610620772.png)
Karena itu, lanjutnya, tidak mengherankan bila momentum kebersamaan keluarga Megawati ditampilkan selama bimtek dan kongres berlangsung. Sesaat sebelum memasuki ruangan bimtek pada Rabu (30/7/2025), Prananda Prabowo dan Puan Maharani berjalan beriringan bersama sang ibu menuju arena utama. Prananda dan Puan tampak berbincang ringan sambil saling merangkul, sementara Puan memegang erat tangan Megawati. Kehangatan itu terus terlihat hingga kongres selesai.
Momentum ini, menurut Lili, menunjukkan soliditas di pucuk pimpinan PDI-P. Seluruh kader pun tersemangati dengan momentum tersebut. Soliditas ini menjadi modal penting jika PDI-P ingin terus mempertahankan diri sebagai partai yang kuat di kemudian hari, tidak mudah digoyahkan oleh isu apa pun. Sebab, semua bermula dari soliditas internal.
Penulis:
Nikolaus HarbowoEditor:
Madina NusratPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto