Sebagian masyarakat di Semarang, Jateng, masih kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg. Kuota penyaluran pun ditambah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
05 Feb 2025 18:56 WIB · Nusantara
SEMARANG, KOMPAS — Sejumlah konsumen dan pengecer di Kota Semarang, Jawa Tengah, masih kesulitan mendapatkan elpiji 3 kilogram. Sebagian konsumen yang akhirnya bisa mendapatkan elpiji mendapati isi tabung tidak penuh serta harganya jauh di atas harga eceran tertinggi.
Ambarwati (50), warga Kelurahan Jatingaleh, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, mengeluh sulit mendapat elpiji 3 kg sejak dua pekan lalu. Perempuan pemilik warung makan di Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan, itu membutuhkan setidaknya empat tabung elpiji 3 kg dalam sepekan.
”Sudah dua pekan ini saya cuma dapat satu tabung per minggu. Padahal, kompor saya empat. Sampai bingung ini, susah mau masak,” kata Ambarwati saat ditemui, Rabu (5/2/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/05/0913a7b786c89c305270d2b3ff0c683a-IMG_0699.JPG)
Ambarwati menyebut sudah mencari elpiji 3 kg di agen-agen ataupun pangkalan resmi di sekitarnya. Namun, upayanya tidak membuahkan hasil.
Tak hanya di Kecamatan Candisari dan Semarang Selatan, ia juga sampai mendatangi agen dan pangkalan resmi di kecamatan lain, seperti Pedurungan dan Gayamsari. Hasilnya, ia hanya mendapatkan satu tabung.
”Saya berharap kebijakannya dikembalikan seperti dulu saja. Atau, kalau misalnya pengecer dilarang jualan lagi, stok di agen atau di pangkalan itu harus dipastikan tersedia,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/05/e38a25fdb778272811b79272ed7e73c1-IMG_0706.JPG)
Kamran (32), warga Gayamsari, Semarang, juga kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg dalam beberapa pekan terakhir. Pekan lalu, ia ditawari tetangga untuk membeli elpiji bersubsidi dengan harga Rp 25.000 per tabung. Ia lalu membeli dua tabung.
”Waktu saya pasang, jarum indikator di regulator itu menunjukkan isi tabungnya tidak penuh. Saya kira, indikatornya rusak. Tapi, ternyata baru dipakai dua hari sudah habis gasnya. Padahal, satu tabung itu biasanya bisa untuk satu bulan karena saya jarang masak,” ucapnya.
Kamran mengaku, dirinya amat dirugikan dengan hal tersebut. Tak hanya dirinya, sejumlah tetangga, termasuk para pedagang keliling, juga membeli elpiji 3 kg yang sama dengan Kamran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/17/e7242176-8ec9-4d38-b2ea-f8610f753705.jpg)
”Saya menduganya, itu tabungnya dioplos dengan angin atau apa, jadi isinya tidak penuh. Kondisi sedang sulit seperti ini, malah muncul modus kejahatan baru yang merugikan masyarakat,” ujarnya.
Supaya bisa tetap memasak, Kamran akhirnya membeli elpiji 5,5 kg nonsubsidi. Untuk bisa mendapatkan elpiji jenis tersebut, ia harus merogoh kocek hingga Rp 450.000.
”Saya rasa, tidak semua orang mampu beralih ke nonsubsidi dengan harga segitu. Di satu sisi, kalau tidak beralih, tidak bisa memasak karena yang subsidi juga sekarang langka,” imbuhnya.
Tak hanya konsumen, para pengecer juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan elpiji 3 kg. Subiyono (82), pemilik toko kelontong di Mugassari, menuturkan sejak dua pekan lalu tak lagi menjual elpiji bersubsidi. Dia tidak lagi mendapatkan suplai elpiji dari agen.
Sebelumnya, Subiyono mendapatkan suplai dua kali dalam sepekan, yakni setiap Rabu dan Sabtu. Sekali suplai, ia dijatah 7-10 tabung.
”Sejak ada kebijakan pengecer tidak boleh jualan itu, saya jadi kesulitan mendapatkan elpiji bersubsidi. Agen yang biasanya menyuplai, saya telpon tidak pernah merespons. Mungkin dia sedang pusing juga, banyak pengecer yang menghubungi,” kata Subiyono.
Setiap hari ada lebih kurang 20 orang yang datang ke toko Subiyono untuk menanyakan ketersediaan elpiji 3 kg. Mayoritas yang datang tetangga dan pedagang makanan di sekitar tokonya.
Selama ini, saya beli elpiji bersubsidi dari agen Rp 18.500 per tabung. Kemudian saya jual Rp 20.000, cuma ambil untung Rp 1.500. Dengan harga segitu, tidak pernah ada pembeli yang protes atau mengeluh. Tapi, kalau misal nanti diminta jual sesuai harga eceran tertinggi, ya, saya ikut saja asalkan ada stoknya.
Subiyono menambahkan, elpiji di rumahnya juga habis sejak Selasa (4/2/2025). Ia lalu mencoba mencari elpiji 3 kg ke sejumlah pangkalan, agen, ataupun stasiun pengisian bahan bakar umum di sekitar rumahnya. Namun, persediaan elpiji 3 kg di tempat-tempat tersebut juga telah habis.
Ia kemudian berinisiatif datang ke SPBU pada Rabu sekitar pukul 05.00 WIB. Di SPBU, ia bertemu dengan 100 orang lain yang juga hendak membeli elpiji 3 kg.
Setelah mengantre selama lima jam, akhirnya ia bisa membawa pulang satu tabung elpiji bersubsidi untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
Menurut Subiyono, dirinya tidak keberatan jika diminta menjadi subpenyalur asalkan dijelaskan dan dibimbing dalam pengurusan syarat-syaratnya. Baginya, yang terpenting tetangga dan para pedagang kecil di sekitarnya bisa mengakses elpiji bersubsidi dengan mudah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/02/25/20210225WEN2_1614234136.jpg)
”Selama ini, saya beli elpiji bersubsidi dari agen Rp 18.500 per tabung. Kemudian saya jual Rp 20.000, cuma ambil untung Rp 1.500. Dengan harga segitu, tidak pernah ada pembeli yang protes atau mengeluh. Tapi, kalau misal nanti diminta jual sesuai harga eceran tertinggi, ya saya ikut saja asalkan ada stoknya,” ucapnya.
Selain di pengecer, stok elpiji 3 kg juga kosong di pangkalan. Yunika Wulandari (25), pemilik pangkalan elpiji di Ngaliyan, menyebut, suplai elpiji 3 kg terakhir kali datang pada Selasa siang. Pangkalan Yunika mendapatkan suplai 70 tabung. Pada Selasa malam, semuanya telah habis diserbu pembeli.
Menurut Yunika, biasanya elpiji 3 kg di pangkalannya habis dibeli pengecer. Sejak ada kebijakan pengecer dilarang menjual elpiji 3 kg, warga yang menyerbu pangkalannya.
”Dari kemarin banyak orang yang datang, tanya kapan gas datang lagi. Saya bilang sekitar seminggu lagi karena memang suplainya setiap Selasa. Tapi, banyak dari mereka, terutama yang dari luar lingkungan, sudah pesan dari sekarang. Saya tidak bisa memenuhi permintaan itu karena memang dari Pertamina. Kami diimbau jual ke masyarakat sekitar saja,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jateng Boedyo Dharmawan mengaku belum ada laporan adanya kelangkaan elpiji 3 kg di wilayahnya. Ia mengatakan, yang terjadi saat ini adalah masa transisi penyesuaian kebijakan baru dari pemerintah pusat.
”Kalau kelangkaan saya jamin tidak ada. Laporan mengenai kelangkaan di portal aduan maupun dari Pertamina juga belum ada. Jateng sendiri memiliki kuota lebih dari 1.213.906 metrik ton,” ucap Boedyo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/05/23a98691468447b2583d6845970bbb7d-20250205PRI8HR.jpg)
Adapun Pertamina Patra Niaga menambah alokasi penyaluran elpiji bersubsidi di wilayah Jateng dan DI Yogyakarta untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Langkah itu diambil setelah mereka berkoordinasi dengan pemerintah daerah di Jateng dan DIY.
Area Manager Communication, Relations, and Corporate Social Responsibility Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga Taufiq Kurniawan mengatakan, secara keseluruhan tambahan elpiji 3 kg yang dialokasikan pada bulan Februari ini total 919.880 tabung atau sekitar 60 persen dari dari penyaluran harian.
”Pertamina telah menyalurkan tambahan fakultatif tersebut melalui pangkalan-pangkalan elpiji resmi Pertamina dan disesuaikan dengan kebutuhan di setiap daerah sehingga ketahanan stok elpiji 3 kg di Jateng dan DIY aman,” katanya.
Ketahanan stok tersebut, lanjut Taufiq, didukung sejumlah fasilitas yang cukup banyak di wilayah Jateng dan DIY, antara lain empat terminal elpiji di Terminal Cilacap, Terminal Tanjung Mas di Kota Semarang, Terminal Semarang, dan Terminal Rembang. Taufiq mengimbau masyarakat membeli elpiji di pangkalan resmi Pertamina.
”Selain stoknya terjamin, harganya juga dipastikan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, yaitu Rp 18.000. Masyarakat yang tidak berhak dapat menggunakan elpiji nonsubsidi,” ujarnya.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Cornelius Helmy Herlambang