Korban Bencana Berjalan Kaki Menembus Hujan untuk Mencari Bantuan

Baju dan celananya basah kuyup dan penuh lumpur setelah berjalan lima jam menembus hujan dari desanya yang masih terisolasi di Tapanuli Tengah.

04 Des 2025 19:30 WIB · Lingkungan

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Oleh Nikson Sinaga

Hingga hari kesembilan pascabencana banjir bandang dan longsor, Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga masih belum bisa diakses dari jalur darat. Desa-desa di daerah terdalam belum mendapatkan bantuan memadai. Mereka kekurangan beras, lauk-pauk, air bersih, dan obat-obatan. Mereka berjalan berjam-jam menembus hujan untuk mendapatkan bantuan.

Bosman Hutagalung (48) akhirnya lega setelah mendapatkan bantuan 2 karung beras, 10 bungkus mi instan, dan beberapa bungkus biskuit saat tiba di Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara, Kamis (4/12/2025).

Baju dan celananya basah kuyup dan penuh lumpur setelah berjalan lima jam menembus hujan dari desanya yang masih terisolasi di Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah. Bosman buru-buru membungkus bantuan itu dengan beberapa lapis plastik.

”Kami harus cepat-cepat pulang agar bisa sampai di desa sebelum gelap. Masih ada puluhan titik longsor yang harus kami lewati agar bisa sampai ke desa,” kata Bosman.

Warga membersihkan rumah dari timbunan lumpur di Desa Pagaran Lambung I, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut, Kamis (4/12/2025).

Ratusan warga masih terus berdatangan dari berbagai desa di Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga ke arah Tapanuli Utara. Pasokan bahan pokok di desa mereka sudah hampir habis setelah sembilan hari terisolasi.

Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah belum bisa diakses dari jalur darat karena jalan masih terputus. Jalan Tarutung-Sibolga yang menjadi jalur utama menuju desa itu masih terputus dari Kilometer 38 sampai Kilometer 62. Warga yang berjalan melewati jalan itu menyebut, ada sedikitnya 50 titik longsor di jalan yang masih terputus itu.

Bosman menyebut, desa-desa di Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah, belum mendapatkan bantuan yang memadai. Beberapa kali mereka mendapatkan bantuan yang diturunkan dari helikopter. Namun, jumlahnya tidak memadai.

Warga penyintas bencana mengirim foto dengan susah payah mengenai usaha mereka membuat tanda H berukuran besar agar ada helikopter atau pesawat pembawa bantuan yang mendarat ke wilayah mereka di Delung Sekinel Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Sabtu (29/11/2025). Hingga kini, mereka masih terisolasi karena akses darat dari dan menuju wilayahnya putus, serta jaringan komunikasi nyaris lumpuh total. Mereka pun belum menerima bantuan apapun.

Mereka mengumpulkan bantuan yang diturunkan dari helikopter dan membaginya merata untuk masing-masing keluarga. ”Kami hanya mendapat satu liter beras per keluarga. Kami sangat bersyukur mendapat bantuan, tetapi jumlahnya memang kurang,” kata Bosman.

Bosman bersama istri dan anak-anaknya beberapa hari terakhir menghemat makanan agar mencukupi. Mereka juga menghemat ikan asin agar cukup untuk satu keluarga. ”Satu ikan asin kami bagi lima. Yang penting ada rasa asin agar nasi bisa ditelan,” kata Bosman.

Mereka juga memakan ubi dan umbi talas yang dipanen dari ladang. Namun, persediaan di ladang juga sudah habis.

Bosman menyebut, di desa mereka ada 10 orang yang hilang tertimbun longsor. Mereka baru bisa mengevakuasi enam orang yang meninggal. Empat lainnya masih tertimbun lumpur dan belum bisa ditemukan.

Mereka berharap ada petugas yang membantu melakukan pencarian dan pertolongan. Pencarian manual oleh warga tidak memungkinkan karena timbunan longsor menumpuk hingga tiga meter. Beberapa rumah roboh tertimbun longsor dan batang kayu.

Masgito Siregar (32), warga lainnya, juga berjalan kaki dari Desa Bonandolok, Tapanuli Tengah. Dia mencari makanan untuk empat anak, istri, dan mertuanya. Dia sudah beberapa kali berjalan ke Tapanuli Utara dan Kota Sibolga untuk mencari bantuan dan membeli bahan pokok.

”Beberapa hari lalu, kami berjalan kaki ke Kota Sibolga. Di sana masih ada yang berjualan ikan asin dan beras. Tapi, beberapa hari ini sudah habis. Orang-orang berebut makanan di Sibolga karena daerah itu juga terisolasi,” kata Masgito.

Warga memasak di dapur umum di Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut, Kamis (4/12/2025). Lebih dari 33.000 jiwa mengungsi di Sumut akibat bencana banjir bandang dan longsor di sejumlah kabupaten.

Masgito mengatakan, mereka sangat kesulitan karena akses listrik juga putus di desa mereka. Desa mereka gelap gulita saat malam. Akses telepon seluler juga masih lumpuh total di desa mereka. Saat malam tiba, mereka menggunakan pelita dari botol, kain, dan minyak tanah.

Saat malam tiba, warga berkumpul di beberapa rumah yang lebih aman dari risiko longsor. Rumah yang berada di bawah bukit mereka tinggalkan saat malam hari.

Di desa-desa yang sudah bisa diakses, warga masih berupaya membersihkan lumpur yang menumpuk di dalam rumah.

”Tidak ada harta benda yang bisa kami selamatkan. Tapi masih bersyukur, semua anggota keluarga kami selamat,” kata Sumarto Hutagalung (46), warga Desa Pagaran Lambung I, Tapanuli Utara.

Petugas gabungan membersihkan lumpur setinggi 3-5 meter yang menimbun Jalan Tarutung-Sibolga di Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Kamis (4/12/2025). Pengerjaan sempat terhenti karena hujan melandan kawasan rawan longsor susulan itu.

Hampir semua harta benda Sumarto rusak berat akibat diterjang banjir bandang. Pakaian, tempat tidur, peralatan elektronik, dan perabot rumah tangga semuanya tertimbun lumpur. Sumarto bersama keluarganya berupaya mengeluarkan timbunan lumpur setinggi satu meter dari dalam rumahnya. Sudah sembilan hari mereka bekerja, tetapi belum bisa membersihkan semua lumpur.

Gubernur Sumut Bobby Nasution mengatakan, pemerintah masih terus berupaya menyalurkan bantuan ke semua daerah bencana. Untuk Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga, penyaluran bantuan terutama melalui jalur udara dan laut. ”Pembukaan jalur masih terus diupayakan untuk memaksimalkan pengiriman bantuan,” kata Bobby.

Bobby menyebut, pemerintah juga berupaya mempercepat perbaikan jaringan listrik, telekomunikasi, dan penyaluran bahan bakar minyak. Penyaluran BBM untuk Tapanuli Tengah dan Sibolga dikirim melalui jalur laut. Sudah ada lima SPBU yang beroperasi di Tapanuli Tengah.

Bobby menyebut, jaringan jalan yang rusak tidak hanya jalan menuju Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga. Jalan dan jembatan di kawasan itu juga banyak yang rusak sehingga akses antarkecamatan juga terganggu. Karena itu, perbaikan jaringan jalan dan jembatan di daerah tersebut juga terus dikebut.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikson Sinaga
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari