Ladang gas Iran-Qatar diserang Israel tanpa koordinasi AS. Iran mengancam serangan balik ke fasilitas migas sekutu AS. Krisis energi mengancam Asia Timur dan ASEAN.
20 Mar 2026 21:24 WIB · Internasional
AFP
SEOUL, JUMAT — Tekanan akibat perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran semakin terasa di Asia. Secara terpisah, Korea Selatan dan China mengungkapkan keprihatinan mereka.
Seoul, Jumat (20/3/2026), mengatakan, serangan ke fasilitas energi memicu ketidakpastian. Di Asia, Korea Selatan, China, dan Jepang merupakan importir LNG terbesar dunia. Ketiga negara itu menggunakan LNG untuk pembangkit listrik, pemanasan, dan manufaktur.
Tahun lalu, ketiga negara itu mengimpor 47,77 juta metrik ton LNG.
Menurut Kpler, sebuah lembaga kajian, 7,16 juta metrik ton di antaranya diimpor dari Qatar. Oleh karena itu, ketika Iran menyasar fasilitas QatarEnergy, produsen terbesar LNG dunia sebagai balasan atas serangan pada fasilitas minyak South Pars, banyak pihak resah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/19/bfedd07de4ba539c013808514a330cbe-QATAR_IRAN_ISRAEL_US_WAR_136592962.jpg)
Meski demikian, Seoul mengungkapkan masih ditopang oleh sumber-sumber lain. ”Mengingat pangsa impor dari Qatar relatif rendah dan sumber pasokan alternatif tersedia, tidak ada masalah terkait pasokan dan permintaan gas,” kata Kementerian Perindustrian Korea Selatan dalam sebuah pernyataan.
”Namun, karena ketidakpastian semakin meningkat, kami berencana untuk memantau dengan cermat tren pasokan, permintaan, dan harga serta menanggapinya sesuai dengan situasi.”
Qatar adalah sumber LNG terbesar ketiga Korea Selatan setelah Australia dan Malaysia. Tahun ini, Qatar diproyeksikan memasok sekitar 14 persen impor LNG Korea Selatan.
Perusahaan gas milik negara Korea Gas Corp (Kogas) mengatakan, mereka memiliki cadangan LNG yang memadai, bahkan lebih dari yang disyaratkan. ”Kogas memiliki kemampuan yang cukup untuk menanggapi krisis pasokan dan permintaan,” kata pihak perusahaan dalam sebuah pernyataan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/12/b146b14143c716f021839996b0e20847-20260312_ANU_Selat_Hormuz_Jalur_Penting_mumed.jpg)
Sebagai langkah lanjut, otoritas Korsel akan mengoptimalkan produksi energi berbasis batubara dan nuklir sembari mengurangi ketergantungan pada PLTG. Sebagai catatan, pada tahun 2025, PLTG memasok 27 persen produksi listrik Korsel.
Di sisi lain, kebutuhan LNG dapat dipasok oleh sumber lain. Analis dari perusahaan ICIS, Alex Siow, mengatakan, Kogas kemungkinan tidak akan menghadapi kesulitan mengganti volume LNG asal Qatar. Terkait komoditas tersebut, Siow memiliki catatan, Seoul kurang sensitif terhadap harga dibandingkan dengan pembeli lain.
Meski demikian, perang kian memanas di Teluk membuat stabilitas pasokan energi untuk kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara terganggu. China telah memutuskan menghentikan ekspor minyak hingga akhir Maret. Sejumlah negara, seperti Kamboja, mencari pasokan baru dari Singapura dan Malaysia karena kesulitan pasokan BBM.
Pada Jumat pagi, Kementerian Luar Negeri China mendesak semua pihak yang terlibat dalam konflik Teluk untuk memastikan pasokan minyak yang stabil dan tidak terhambat. Lebih lanjut, juru bicara Kemenlu China, Lin Jian, mendorong agar perang segera diakhiri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/19/27104db5-5cef-4042-a678-df3f46ed3df9.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/11/49e37a0ac7c985c1671fd2376daf423b-20260311_GKT_AFP_Hormuz_Oil.png)
”Sejarah dan kenyataan telah berulang kali menunjukkan kepada dunia bahwa kekuatan bukanlah solusi dan konflik bersenjata hanya akan menimbulkan kebencian baru,” kata Lin Jian. ”Perang yang meluas di Timur Tengah merugikan kepentingan bersama semua negara,” kata Lin Jian.
Israel dan Iran kembali bertempur Jumat (20/3/2026) pagi setelah Iran membalas serangan dengan menghantam kilang minyak di Pelabuhan Haifa, Israel, yang mengakibatkan listrik padam di sebagian wilayah. Serangan itu dipicu serangan Israel terhadap sejumlah target di Iran, termasuk lapangan gas terbesar di dunia South Pars.
Selain ke Israel, Iran juga menyasar sejumlah infrastruktur energi di Teluk. Salah satu yang disasar adalah kilang gas Ras Laffan di Qatar yang memasok 20 persen LNG global. Pihak Qatar menyatakan force majeure dan tidak mampu memenuhi kontrak yang sudah disepakati dengan beberapa negara.
BUMN Qatar, Qatar Energy, menyatakan force majeure untuk kontrak jangka panjang pasokan LNG lima tahun bagi Italia, Belgia, Korea Selatan, dan China. Korea Selatan adalah importir LNG nomor tiga di dunia sesudah China dan Jepang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/18/f4c94a8a-f62a-4381-a158-b38d28a71ba7.jpg)
Serangan Iran juga menghantam pelabuhan ekspor minyak Arab Saudi di Yanbu di Laut Merah, barat Kota Madinah. Arab Saudi menggunakan pelabuhan Yanbu untuk menghindari pengiriman minyak melalui Teluk Persia yang terhambat akibat Selat Hormuz dikendalikan Iran.
Rangkaian serangan balasan Iran yang terjadi menyasar infrastuktur energi kawasan sehingga membuat harga migas dunia melonjak.
Harga minyak sempat turun Jumat pagi menjadi 108 dolar AS per barel pada pembukaan perdagangan Jumat pagi. Sebelumnya harga minyak mencapai 119 dolar AS per barel seiring serangan balik Iran terhadap fasilitas migas di negara Teluk karena Israel menghantam lapangan gas South Pars. Selain itu, PM Netanyahu berjanji tidak akan menyerang lapangan gas Iran sesuai permintaan Presiden Trump.
Dalam pertemuan Uni Eropa di Brussel, Belgia, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Kanada, Belanda, dan Jepang juga menjanjikan pengamanan kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz yang menjadi urat nadi 20 persen pengiriman minyak dunia setelah konflik dihentikan. Di lain pihak, Amerika Serikat juga menjanjikan meningkatkan produksi minyak mereka. (AP/AFP/Reuters)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/09/8e4f304c92ec64857d6121724212de4c-SKOREA_MARKET_OIL_136764296.jpg)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo H