Potret kehidupan kuli angkut barang di Turki.
27 Okt 2025 10:11 WIB · Internasional
AP/Emrah Gurel
Seorang pria paruh baya berjalan lincah menembus kerumunan pusat perdagangan di Istanbul, Turki, Rabu (24/9/2025). Di punggungnya terletak beban berukuran besar, lebih besar dari lebar bahunya. Berat beban 200 kilogram itu tidak mengurangi kelincahannya.
Di tempat lain, di lokasi yang sama, seorang kuli angkut menggunakan gerobak dorong untuk membawa karung-karung berukuran besar. Gerobak itu melaju mengikuti jalan setapak berbatu.
Di jalan-jalan Istanbul, aktivitas para kuli pengangkut karung-karung besar yang dibungkus plastik putih merupakan pemandangan sehari-hari. Mereka adalah bagian penting dalam perdagangan, tetapi sering kali terabaikan dari tatanan kota.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/27/0e25a1b4-5989-4976-9b78-692ec46b2dd5_jpg.jpg)
Dikenal sebagai hamallik dalam bahasa Turki, porter adalah profesi yang bertahan dari Kekaisaran Ottoman hingga saat ini. Mereka tersebar di kawasan perdagangan bersejarah Istanbul, seperti Bazaar Mesir, Bazaar Besar, dan Distrik Eminonu, kawasan perdagangan yang memproduksi perhiasan dan tekstil.
Keberadaan mereka penting karena banyak dari han atau pertokoan yang berusia berabad-abad tidak memiliki lift. Selain itu, pertokoan tersebut dikelilingi oleh jalan-jalan sempit yang tidak dapat diakses kendaraan. Di Eminonu, banyak jalan ditutup untuk lalu lintas pada siang hari sehingga membuat pekerjaan mereka semakin penting.
Seorang porter atau kuli angkut dapat membawa barang antara 200 kiligram dan 300 kilogram hingga ke lantai lima han. Mereka menggunakan tali kekang tradisional dari kayu dan kulit yang biasa disebut semer. Semer ini dikenakan di punggung saat mereka membawa beban. Semer sering diwariskan dari ayah ke anak, hal ini mencerminkan sifat pekerjaan yang turun-temurun.
Di Turki, porter diorganisasikan ke dalam beberapa kelompok. Pemimpin setiap kelompok bertanggung jawab mendistribusikan pekerjaan secara adil di antara para anggota. Mereka akan memperoleh upah harian berdasarkan jumlah dan berat beban yang mereka bawa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/27/477ecbca-05c9-4320-89e3-d05ca6560a26_jpg.jpg)
Ini adalah pekerjaan berat yang menuntut kekuatan dan daya tahan luar biasa dan hanya sedikit yang mampu menghadapi tantangan fisiknya. Para kuli angkut bangga dengan keahlian mereka dan sangat selektif dalam memilih siapa yang akan bergabung dengan kelompok mereka.
Omer Okan, seorang kuli angkut berusia 60 tahun, telah menjalani pekerjaanya selama tiga dekade. Ia sering membawa beban dengan berat lebih dari 500 kilogram di punggungnya dalam sehari. Penghasilan dari pekerjaan ini tidak menentu. Okan melihat bahwa sebagian besar kuli angkut bekerja tanpa asuransi dan tidak dapat memperoleh penghasilan jika sakit atau cedera.
Kini, pekerjaan mulai berkurang karena pedagang grosir besar telah pindah dari daerah Eminonu, tempatnya bekerja. ”Ada hari-hari kami pulang tanpa menghasilkan uang,” katanya.
Profesi ini diwariskan dari kakeknya. Okan bangga dengan pekerjaannya, tetapi terkadang ia merasa diabaikan oleh masyarakat yang mengandalkannya. Ia ingat betul, dulu ia diperlakukan dengan hormat oleh pemakai jasanya. Namun, itu tidak lagi dirasakannya kini. Ia rindu zaman itu. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan