Kurang dari Dua Bulan, Manchester City Bertransformasi Total

Nottingham Forest menjadi saksi tersahih, City telah bangkit di pengujung musim. Dibandingkan awal Maret, Forest seperti melawan tim berbeda di semifinal Piala FA.

28 Apr 2025 08:23 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

LONDON, MINGGU — Kelolosan Manchester City ke final Piala FA memang tidak lepas dari faktor keberuntungan. Namun, Dewi Fortuna tidak berpihak dengan sendirinya. Tim asuhan Manajer Josep Guardiola memaksa keberpihakan itu lewat penampilan solid dan dewasa sejak sepak mula.

Guardiola tidak menampik hal tersebut setelah City menang atas Nottingham Forest, 2-0, dalam laga semifinal di Stadion Wembley, London, Minggu (27/4/2025) malam WIB. ”Tentu saja kami beruntung. Mereka memiliki beberapa peluang (besar). Kami tidak bisa menyangkal,” ujarnya.

Para pemain Forest seperti bersahabat dengan tiang gawang Wembley. Tembakan mereka membentur tiang sebanyak tiga kali pada paruh kedua. Gelandang Morgan Gibbs-White bahkan menyumbang dua kali di antara itu. Mirisnya, Forest menyudahi laga dengan hanya satu tembakan tepat sasaran.

Forest bisa saja berandai-andai, misalnya jika tembakan ke tiang itu bergeser beberapa sentimeter. Meskipun begitu, semua upaya itu hadir setelah City unggul dua gol. City berhasil mengalihkan tekanan ke pundak tim lawan sejak dua menit awal seusai gol pembuka yang dicetak gelandang Rico Lewis.

Para pemain Forest tidak terbiasa dengan tekanan laga eliminasi, tidak seperti City. Itu merupakan penampilan semifinal pertama Forest sejak 1990 dalam kompetisi tertua tersebut. Pelatih kepala Nuno Espirito Santo mengamini, ketertinggalan di awal laga mengacaukan semua rencananya.

Manchester City's Rico Lewis scores his side's opening goal during the English FA Cup semifinal soccer match between Nottingham Forest and Manchester City at Wembley stadium in London, Sunday, April 27, 2025. (Nick Potts/PA via AP)

”Kami memulai laga dengan sangat buruk. Itu membuat semuanya lebih sulit. Kami harus mengambil waktu untuk merasa nyaman, untuk menyesuaikan situasi. Setelah itu, momentum berubah pada paruh kedua. Kami punya peluang yang bisa mengubah cerita di akhir laga,” kata Santo.

Wajar saja jika Forest agak terkejut dengan sergapan City. Mereka adalah saksi terakhir tren keterpurukan tim asuhan Guardiola. Tepatnya pada awal Maret, Gibbs-White dan rekan-rekan sukses menang 1-0 atas City di liga. Hasil itu membuat City kalah lima kali dalam sembilan laga.

Sejak saat itu, City tiba-tiba kembali bangkit menjadi tim raksasa seperti sedia kala. Mereka tidak terkalahkan dalam tujuh laga beruntun, menang lima kali di antara itu. Kepercayaan diri Kevin de Bruyne dan rekan-rekan yang sempat lenyap tampak telah terlahir kembali dengan rentetan hasil positif.

Kepercayaan diri terpancar dari penampilan skuad City yang begitu energik setiap baru kembali ke lapangan, seperti pada awal paruh pertama dan kedua. Setelah gol cepat Lewis, mereka mengejutkan Forest lagi hanya lima menit setelah turun minum lewat gol bek Josko Gvardiol.

Selain momentum dan kepercayaan diri, gol cepat merupakan faktor pembeda terbesar City dibandingkan dengan laga sebelumnya. Mereka bisa terhindar dari strategi Forest untuk bertahan sangat dalam dan mengincar serangan balik. Para pemain City bisa mengatasi transisi dengan sangat baik.

Lewis berkata, para pemain sangat termotivasi karena Piala FA merupakan trofi satu-satunya yang bisa diraih pada akhir musim ini. ”Saya pikir tidak penting apa pun kompetisinya, kami selalu ingin menang. Itu (Piala FA) sangat penting untuk kami, terutama di musim ini,” ujarnya.

Nottingham Forest's Anthony Elanga misses during the English FA Cup semifinal soccer match between Nottingham Forest and Manchester City at Wembley stadium in London, Sunday, April 27, 2025. (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Di sisi lain, ketidakhadiran penyerang Erling Haaland sejak akhir Maret menjadi berkah terselubung untuk City. Serangan tim jauh lebih dinamis, tidak lagi Haaland-sentris. Seperti tadi, saat penyerang sayap Savinho dan gelandang serang Omar Marmoush ditugaskan sebagai ujung tombak.

City sudah dinanti tim papan tengah Crystal Palace di partai puncak. Laga tersebut bisa menambah koleksi City jadi delapan trofi Piala FA atau menghadirkan juara baru. Adapun Palace selalu kalah di dua final sebelumnya, 1990 dan 2016. Keduanya dari rival City, Manchester United.

Menurut Guardiola, tren positif ini kemungkinan akan berlanjut hingga akhir musim. Mereka sedang berada dalam mode tancap gas, seperti yang selalu terjadi pada musim-musim sebelumnya. Pembedanya, penampilan dan City terlalu buruk sejak awal hingga memasuki bagian akhir musim ini.

”Kami sangat senang bisa kembali ke final (tiga musim beruntun). Musim ini jelas belum selesai, termasuk di liga. Kami berupaya mengurangi dampak kerusakan dengan lolos ke Liga Champions. Lima laga terakhir, empat di liga dan satu di Piala FA, akan menjadi final untuk kami,” kata Guardiola.

Menariknya, pertarungan City dan Forest masih akan berlanjut selepas dari Wembley. Kedua tim masih bersaing ketat untuk memperebutkan posisi lima besar di liga. City berada di peringkat keempat dengan 61 poin dari 34 laga, dibuntuti Forest di peringkat keenam (60 poin dari 33 laga). (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .