Italia gagal lolos ke Piala Dunia dalam tiga edisi beruntun. Ada masalah mendasar yang membuat Italia, pernah jadi tim terbaik di dunia, kini kesulitan bersaing.
01 Apr 2026 10:42 WIB · Olahraga
AP
Mulanya, takdir berbeda seperti akan menjadi milik Italia saat mereka berjuang terakhir kalinya untuk lolos ke Piala Dunia 2026. Namun, pada akhirnya, kegagalan masa lalu kembali datang dan menjelma kegagalan masa kini. Italia, juara empat kali Piala Dunia, menjadi mantan juara yang gagal lolos ke tiga edisi secara berturut-turut.
Pada 2017, Italia gagal ke Piala Dunia Rusia 2018 setelah dikalahkan Swedia dalam pertandingan playoff. Empat tahun lalu, ”Gli Azzurri” disingkirkan Makedonia Utara sehingga gagal lolos ke Piala Dunia Qatar 2022. Kali ini, mereka takluk dari Bosnia-Herzegovina, tim peringkat ke-71 di dunia, lewat adu penalti 1-4 setelah bermain imbang 1-1 pada final playoff jalur A Piala Dunia 2026 di Stadion Bilino Polje, Zenica, Bosnia-Herzegovina, Rabu (1/4/2026).
Ketika Moise Kean memberi Italia keunggulan saat pertandingan baru berjalan 15 menit, mereka seperti akan menjalani takdir yang berbeda dari momen 2017 ataupun 2022. Fakta bahwa Italia unggul dari tuan rumah memberi harapan kepada sekitar 500 pendukung yang datang ke Zenica.
Namun, harapan itu buyar hanya 25 menit kemudian. Tekel keras Alessandro Bastoni terhadap Amar Memic yang berakibat kartu merah menjadi titik awal kesulitan anak-anak asuhan Gennaro Gattuso itu. Tuan rumah bisa menyamakan skor melawan Italia yang bermain dengan 10 orang dan pemenang harus ditentukan lewat adu penalti.
Belum pernah ada juara turnamen sebelumnya yang absen dalam tiga edisi berturut-turut. Italia menjadi tim pertama yang menyandang ”predikat” itu dengan kekalahan lewat adu penalti dari Bosnia-Herzegovina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/01/431d8f69a9ca082843d03b00834f29cc-Bosnia_Italy_WCup_Soccer_7.jpg)
”Ini menyakitkan, sungguh menyakitkan. Menyakitkan melihat hasil yang diraih tim yang telah memberikan segalanya dalam beberapa bulan ini,” kata Gattuso, Pelatih Italia, yang berlinang air mata.
Italia datang dengan beban berat. Trauma kegagalan pada dua edisi sebelumnya membayangi langkah mereka. Beban itu kian berat ketika mereka gagal lolos otomatis ke turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada itu setelah finis di posisi kedua di belakang Norwegia di grup kualifikasi.
Untuk bisa tampil di Piala Dunia 2026, Italia pun harus menempuh jalur playoff. Perjalanan mereka dimulai mulus dengan kemenangan 2-0 atas Irlandia Utara pada babak semifinal playoff. Namun, kemenangan tersebut tidak bisa berlanjut pada momen puncak.
Menurut Gattuso, Italia tidak pantas menerima kekalahan. Akan tetapi, dalam wawancara berbeda dengan televisi Italia, RAI, Gattuso mengamini bahwa timnya mengalami kesulitan. Mereka tidak mampu mengonversi peluang menjadi gol.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/01/759ea4a55cb2e04a8517491c610043f7-Bosnia_Italy_WCup_Soccer_6.jpg)
Setelah kartu merah Bastoni, Gattuso segera menarik keluar penyerang tengah Mateo Retegui dan memasukkan Federico Gatti untuk mengisi kekosongan di posisi bek tengah. Saat jeda babak pertama, ia memasukkan bek kanan Marco Palestra menggantikan pemain sayap Matteo Politano. Hal itu memperjelas bahwa fokusnya adalah mempertahankan keunggulan.
Meski begitu, Italia bukannya tanpa kesempatan untuk menyerang. Italia setidaknya punya peluang emas untuk menggandakan skor saat Kean berlari sendirian di pertahanan musuh. Sial bagi Italia, Kean menyia-nyiakan kesempatan brilian ketika tembakannya dalam situasi satu lawan satu melesat ke atas mistar gawang.
Bosnia, yang terus menggempur pertahanan Italia dengan keunggulan pemain, juga sebenarnya tidak mampu bermain efisien. Kendati melepaskan 30 tembakan, lebih dari tiga kali lipat jumlahnya dari upaya Italia, mereka hanya bisa menendang tepat sasaran sebanyak 11 kali. Jumlah tembakan itu pun ”hanya” menghasilkan satu gol dari Haris Tabakovic untuk menyamakan skor.
Pada babak adu penalti, Bosnia keluar sebagai pemenang setelah penendang mereka berhasil menunaikan tugas, yakni Benjamin Tahirovic, Tabakovic, Kerim Alajbegovic, dan Esmir Bajraktarevic. Di kubu Italia, hanya tendangan Sandro Tonali yang masuk. Eksekusi Pio Esposito hanya menghasilkan bola yang melayang ke udara dan Bryan Cristante mengenai mistar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/01/e39e826370c106d9b8d8a00aba716317-Bosnia_Italy_WCup_Soccer_2.jpg)
”Anak-anak Italia akan melihat Piala Dunia lain tanpa Italia,” kata pemain sayap Leonardo Spinazzola sambil menangis, dikutip dari BBC.
”Saya masih tidak percaya bahwa kami tersingkir seperti ini setelah bermain dengan 10 pemain. Dengan semangat juang, kami membawa pertandingan ke adu penalti. Kami bisa saja mencetak tiga atau empat gol dan ini benar-benar kekecewaan besar bagi semua orang,” ujarnya menambahkan.
Saat Italia menaklukkan Perancis yang bertabur bintang, termasuk Zinedine Zidane dan Thierry Henry, di final Piala Dunia 2006, sebuah era baru seharusnya sedang dimulai. Melalui adu penalti di Berlin, Jerman, Italia menjadi negara kedua yang memenangi Piala Dunia untuk keempat kalinya.
Namun, sejak kesuksesan itu, Italia telah gagal total di ajang utama Piala Dunia karena mereka tidak lolos dari babak penyisihan grup pada tahun 2010 dan 2014. Mereka mengalahkan Inggris di final Euro 2020, tetapi keberhasilan itu tampak seperti pengecualian bagi negara sepak bola yang dulunya hebat di panggung internasional.
Fondasi kesuksesan Italia pada 2006 diletakkan satu dekade sebelumnya ketika tim U-21 Italia asuhan Cesare Maldini memenangi Kejuaraan Eropa tiga edisi berturut-turut antara tahun 1992 dan 1996.
Kedalaman bakat saat itu dibantu oleh peraturan di Serie A yang melarang klub memiliki lebih dari tiga pemain non-Eropa di lapangan pada satu waktu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/01/6d64c9a8f26ee1a7e8b8ab4e5daf41f6-Bosnia_Italy_WCup_Soccer_5.jpg)
Akan tetapi, semua itu berubah pada 1995 ketika putusan Bosman secara signifikan mengubah lanskap sepak bola di benua itu. Putusan itu menyebabkan masuknya pemain asing ke Serie A.
Hal itu, menjelang akhir abad ke-20, mempersulit pemain muda Italia untuk mendapatkan kesempatan bermain di tim utama klub-klub top di negara mereka. ”Akademi-akademi di Italia tidak menghasilkan cukup pemain atau pemain yang layak bermain di tim utama mereka,” ujar pakar sepak bola Eropa, Julien Laurens.
Banyak klub Italia juga gagal memodernisasi stadion mereka, hal yang berdampak pada pendapatan komersial. Mantan penyerang Italia Alessandro Del Piero pernah mengatakan kepada CBS sebelum babak playoff Piala Dunia tentang masalah tersebut.
”Masalahnya? Stadion. Kita tahu Anda harus tampil lebih baik di luar lapangan (untuk meningkatkan) itu. Sistem pembinaan pemain muda juga (harus lebih baik),” ujar Del Piero.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/01/7fa3c07bf4a65b0eb470dbd7d5cbe008-Bosnia_Italy_WCup_Soccer.jpg)
Bagi Bosnia, kesuksesan mengalahkan Italia membawa mereka kembali ke Piala Dunia setelah panggung terakhir mereka di Brasil pada 2014. Bosnia akan bergabung di Grup B Piala Dunia 2026 bersama Kanada, Qatar, dan Swiss.
”Kami awalnya tidak terorganisasi. Kami tidak berdiri di tempat yang seharusnya. Kami tidak menjaga lawan. Itulah sebabnya, kami kebobolan beberapa serangan balik,” ujar Pelatih Bosnia Sergej Barbarez.
”Namun, melawan tim kelas dunia yang bertahan dengan baik bahkan dengan 10 pemain, Anda bisa melihat bahwa kami percaya sejak awal,” ujarnya lagi. (AP)
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji