Larangan Sponsor Judi, Bencana Keuangan Klub Semenjana Liga Inggris

Perusahaan judi lebih senang mensponsori klub semenjana dibanding yang tergabung dalam ”big six”. Larangan sponsor judi berpotensi membawa bencana keuangan klub.

16 Jul 2025 17:05 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Apa jadinya Liga Inggris tanpa sponsor judi? Liga terpopuler di dunia itu kini menuju persimpangan jalan, bersiap berpisah dengan perusahaan judi yang menjadi sponsor utama klub-klub semenjana dalam beberapa musim belakangan. Selama ini perusahaan judi berjasa menjaga kelangsungan hidup klub-klub di luar kelompok ”big six”. Pemilik klub dibayangi moral hazard dalam merespons isu ini.

Musim 2025-2026 akan menjadi yang terakhir kali bagi perusahaan judi bisa terpampang di bagian depan seragam tim Liga Inggris. Larangan menampilkan sponsor judi pada bagian depan seragam mulai efektif berlaku pada musim 2026-2027. Kebijakan ini muncul menyusul adanya konsultasi antara operator liga, klub-klub, dan Departemen Digital, Budaya, Media, dan Olahraga (DCMS) Inggris sebagai bagian dari tinjauan berkelanjutan pemerintah terhadap undang-undang perjudian saat ini.

Selama bertahun-tahun, keberadaan judi dianggap normal dalam industri sepak bola Inggris. Namun, suara penolakan terhadap perusahaan judi semakin kencang. Keberadaan sponsor judi dikhawatirkan memengaruhi anak-anak dan kelompok rentan. Kekuatan pengaruh klub dan pemain dinilai punya andil dalam menggiring seseorang terlibat dalam judi.

Pesona sepak bola sebagai olahraga terpopuler di dunia menggoda perusahaan judi berinvestasi di dalamnya. Bagian depan seragam klub jadi tempat paling diincar untuk beriklan. Sebab, seragam atau jersei tim akan diincar para fans yang tersebar di seluruh dunia. Tidak perlu beriklan pada billboard atau baliho di tiap tempat. Memesan tempat beriklan di jersei klub sudah menjadi cara terpraktis memperkenalkan jenama ke seantero jagat.

Untuk bisa beriklan di bagian depan jersei, dibutuhkan biaya yang lebih besar. Di Liga Inggris, total nilai kontrak sebelas tim yang disponsori perusahaan judi diperkirakan mencapai 105,5 juta pound sterling (sekitar Rp 2,29 triliun) per musim. Jumlah uang yang didapat dari perusahaan judi cukup besar bila dibandingkan pemasukan klub dari penjualan tiket dan hak siar.

TOPSHOT - Fulham's Mexican striker #07 Raul Jimenez (L) vies with Liverpool's Northern Irish defender #84 Conor Bradley (R) during the English Premier League football match between Fulham and Liverpool at Craven Cottage in London on April 6, 2025. (Photo by HENRY NICHOLLS / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Nilai kontrak yang ditawarkan perusahaan judi terasa terlalu besar untuk ditolak. Jangankan di Inggris, godaan bekerja sama dengan perusahaan judi sempat terjadi di Liga Indonesia pada 2020. Kala itu, PS Tira Persikabo menggemparkan publik dengan memajang sponsor judi di seragam tim.

Penolakan luas dari masyarakat mendorong operator liga mengeluarkan surat pengumuman kepada klub-klub terkait sponsor industri olahraga yang memuat tentang larangan menggandeng sponsor yang berkaitan dengan situs judi, produk rokok, dan alkohol. Efek judi sudah terasa begitu dalam di kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah Indonesia. Sudah berapa kasus terjadi di mana seseorang yang terlilit utang akibat judi akhirnya memilih bunuh diri.

Para pemangku kepentingan di sepak bola tahu betapa berbahayanya judi bagi kelompok rentan. Pemilik Brighton and Hove Albion, Tony Bloom, misalnya, mengaku meraup untung besar dari judi. Meski demikian, ia mendukung kebijakan Liga Inggris dalam membatasi sponsor perusahaan judi.

”Saya rasa sponsor judi di seragam bukanlah hal yang baik. Namun, saya paham perusahaan judi membayar paling mahal, jadi sulit bagi klub untuk menolaknya,” kata Tony, dikutip dari The Guardian.

Sulit dipisahkan

Perusahaan judi tidak bisa dipisahkan dari perjalanan Liga Inggris dalam beberapa musim terakhir. Setiap musimnya, jumlah klub yang menjalin kesepakatan dengan perusahaan judi bertambah banyak. Musim 2024-2025 saja ada 11 klub yang memampang sponsor judi di bagian depan seragam tim. Jumlah itu meningkat dari delapan klub pada musim sebelumnya.

Luis Diaz, penyerang sayap Liverpool, menyundul bola yang memberikan ancaman ke gawang Southampton pada gim Liga Inggris di Stadion St Mary's, Minggu (24/11/2024). Liverpool menang 3-2 demi unggul delapan poin di puncak klasemen.

Meski penetrasinya begitu masif, perusahaan judi cenderung menyasar klub-klub di luar big six yang berisikan Manchester United, Arsenal, Liverpool, Manchester City, Totteham Hotspur, dan Chelsea. Perusahaan-perusahaan judi cenderung menyasar klub-klub semenjana, seperti Wolverhampton Wanderers, Leicester City, Southampton, Fulham, Brentford, dan Crystal Palace.

Adapun klub-klub big six punya valuasi yang lebih tinggi. Mereka umumnya mematok harga sponsor depan jersei di kisaran 40 juta pound sterling per musim. Sementara Everton dan Fulham hanya memasang harga 5 hingga 15 juta pound sterling untuk beriklan. Jumlah itu sangat terjangkau bagi perusahaan judi dengan anggaran besar, tetapi memiliki target global yang spesifik.

Alasan lainnya adalah klub-klub enam besar amat menjaga reputasi global. Bekerja sama dengan perusahaan judi berpotensi mengundang boikot atau penolakan fans dari negara yang melarang judi. Bagi klub-klub big six, sponsor dari perusahaan judi punya risiko tinggi yang bisa mencoreng citra global klub.

Dengan begitu, larangan memampang sponsor judi di depan jersei tidak akan berdampak besar bagi klub-klub big six. Di sisi lain, klub semenjana dipaksa berpikir keras mencari sumber pemasukan lainnya. Tanpa bantuan keuangan dari sponsor judi, daya saing mereka akan melemah sehingga berpotensi membuat jurang kualitas tim-tim Liga Inggris semakin lebar.

Hanya larangan itu pun tidak sepenuhnya jadi penghambat. Perusahaan judi masih bisa mensponsori klub Liga Inggris di billboard stadion atau bagian lengan jersei, asalkan tidak di bagian depan yang jadi titik sorot utama.

Brentford's Yehor Yarmolyuk jumps to head the ball ahead of Liverpool's Ryan Gravenberch during the English Premier League soccer match between Brentford and Liverpool at the GTech Community Stadium in London, Saturday, Jan. 18, 2025. (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Pergeseran lokasi iklan itu akan turut memengaruhi nilai kontrak. Nilai kontrak dengan hanya bisa beriklan di bagian lengan jersey dan billboard lapangan turun 38 persen dibandingkan bagian depan jersey.

Adanya celah dalam larangan itu dikritik The Big Step, sebuah gerakan kampanye yang menentang hadirnya sponsor judi dalam sepak bola. Kepala Edukasi The Big Step, James Grimes, menyayangkan larangan hanya berlaku secara terbatas dan tidak menyeluruh.

”Memindahkan logo ke bagian lain jersei sementara iklan di pinggir lapangan tetap diizinkan sama sekali tidak masuk akal. Pemerintah dan dunia olahraga itu sekarang perlu menyadari kenyataan bahwa iklan perjudian tidak sehat, tidak populer, dan akan dihapus dari sepak bola. Menunda momen itu sama saja dengan mempertaruhkan kesehatan dan nyawa generasi penggemar muda lainnya,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase