PENYAKIT MENULAR

Lebih dari 8.000 Kasus Suspek Campak dengan 4 Kematian Dilaporkan di Indonesia

Penemuan kasus campak di Indonesia dilaporkan meningkat sejak 2024. Peningkatan tersebut dikaitkan dengan cakupan imunisasi yang menurun.

26 Feb 2026 21:24 WIB · Kesehatan

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Oleh Deonisia Arlinta

JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Kesehatan telah menemukan setidaknya 8.224 kasus suspek campak dengan empat kematian di Indonesia. Kewaspadaan akan campak perlu ditingkatkan. Hal ini terkait pula dengan notifikasi terhadap dua warga negara Australia yang tertular campak sepulang dari Indonesia.

Pelaksana tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Saguni mengutarakan, sejak 1 Januari sampai 23 Februari 2026 ditemukan 8.224 kasus campak di Indonesia. Pada periode itu sudah dilaporkan 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek campak di 17 kabupaten ataupun kota di 11 provinsi.

Dari jumlah itu, 13 KLB campak di 6 provinsi telah terkonfirmasi laboratorium. ”Lima provinsi KLB campak terbanyak berada di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah,” ujarnya, dalam konferensi pers, di Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Tenaga medis Puskesmas Cakung memberikan suntikan imunisasi saat pelaksanaan program imunisasi pada anak usia sekolah dasar atau disebut BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) di SDN 02 Pulogebang, Jakarta Timur, Kamis (10/8/2023). Sebanyak 353 siswa dari kelas 1, 2, 5 dan 6 di sekolah tersebut mendapatkan suntikan imunisasi Td, MR dan HPV. Pemerintah menetapkan bulan Agustus sebagai Bulan Imunisasi Anak Sekolah. Imunisasi akan diberikan kepada seluruh anak usia sekolah dasar sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) merupakan kegiatan rutin untuk memberikan imunisasi kepada anak usia sekolah dasar atau sederajat. BIAS dilakukan dua kali dalam setahun, yakni pada Agustus dan November. BIAS menyasar semua anak usia sekolah, baik yang bersekolah maupun tidak bersekolah. Pada bulan Agustus, program BIAS akan menyasar anak usia kelas I sekolah dasar atau usia tujuh tahun untuk mendapatkan vaksin campak-rubella. Selain itu, imunisasi juga akan diberikan kepada anak usia kelas V sekolah dasar atau usia 11 tahun untuk mendapatkan dosis pertama vaksin HPV serta usia kelas VI atau 12 tahun untuk mendapatkan dosis kedua vaksin HPV. Suntikan HPV khusus diberikan kepada siswa putri untuk mencegah kanker serviks. Program ini bertujuan untuk meningkatkan perlindungan terhadap penyakt campak, rubella, difteri, tetanus dan kanker serviks. Pada tahun ini pelaksanaan BIAS akan memperkuat sasaran anak usia sekolah yang berada di luar institusi pendidikan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, capaian cakupan imunisasi lanjutan lengkap usia sekolah dasar pada 2022 telah mencapai 91 persen. munisasi usia sekolah juga bisa menjadi kesempatan sebagai imunisasi kejar bagi anak yang belum mendapatkan vaksin lengkap saat berusia balita. Dengan memberikan imunisasi lanjutan di usia sekolah, anak juga bisa mencegah risiko terjadinya penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi. Pada anak usia sekolah, vaksin yang diberikan yakni vaksin measles-rubella (MR) yang dapat mencegah penyakit campak dan rubela. Vaksin lain yang diberikan yakni DT dan Td yang bermanfaat untuk mencegah penyakit difteri, tetanus, dan batuk rejan (pertusis). Pada anak perempuan usia sekolah dasar kelas lima dan enam diberikan pula vaksin HPV yang berguna untuk mencegah terjadinya kanker serviks atau kanker leher rahim. Kompas/Riza Fathoni (RZF) 10-08-2023

Andi menyebutkan, penemuan kasus campak di Indonesia dilaporkan telah mengalami peningkatan sejak tahun 2024. Pada 2024, kasus suspek campak yang dilaporkan 25.639 kasus. Jumlah itu meningkat pada 2025 dengan total kasus suspek 64.822 kasus.

Peningkatan kasus campak di Indonesia ini terkait penurunan cakupan imunisasi campak beberapa tahun terakhir. Cakupan imunisasi campak-rubela dosis 1 pada 2024 sebesar 92 persen. Cakupan itu menurun jadi 82 persen pada 2025. Cakupan imunisasi campak-rubela dosis kedua turun dari 82,3 persen pada 2024 menjadi 77,6 persen pada 2025.

Kewaspadaan akan campak perlu ditingkatkan pada wilayah dengan cakupan imunisasi yang rendah. Itu terutama di Papua Pegunungan, Papua Tengah, Aceh, Papua Barat Daya, Papua, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, dan Maluku Utara.

”Kepada daerah-daerah dengan cakupan imunisasi yang rendah perlu mendapatkan perhatian lebih. Karena itu, kita melakukan intensifikasi atau perhatian lebih. Untuk daerah dengan KLB, kita juga melakukan imunisasi kembali dengan outbreak response,” kata Andi.

Cakupan imunisasi campak pada 2024-2026

Konsultan infeksi dan penyakit tropik Departemen Perempuan dan Anak RS Cipto Mangunkusumo, Mulya Rahma Karyanti, menyampaikan, pencegahan campak yang paling efektif dilakukan dengan pemberian imunisasi.

Imunisasi campak-rubela diberikan untuk anak usia 9 bulan yang dilanjutkan dengan dosis kedua pada usia 18 bulan. Imunisasi campak-rubela kemudian diberikan dengan dosis penguat pada usia sekolah dasar kelas 1.

Pencegahan campak sangat diperlukan karena risiko penularannya yang amat tinggi. Satu kasus campak bisa menularkan ke 18 orang lain di sekitarnya. Jika ditemukan kasus campak, kasus tersebut harus segera diisolasi agar penularan infeksi bisa diputus.

”Jika memang ditemukan ada tanda dan gejala campak pada anak mesti waspada. Itu seperti demam, batuk, pilek, hidung meler, mata mulai berair, dan disertai diare. Pada hari ketiga atau keempat biasanya juga timbul bercak-bercak di badan dan menyebar di sekitarnya,” tutur Mulya.

Ia menyebutkan, campak pada anak tidak boleh disepelekan. Sebab, penularan campak bisa menyebabkan komplikasi yang berat, mulai dari pneumonia, diare hingga dehidrasi berat, peradangan otak berupa ensefalitis campak, sampai pada ancaman jiwa.

Anak mendapatkan vaksinasi campak  saat berlangsung Pekan Imunisasi Serentak di Posyandu Garuda, Kelurahan Tegalsari,  Kecamatan Tegalsari, Surabaya, Senin (15/9/2025). Pekan Imunisasi Serentak berlangsung dari 15-30 September 2025. Imunisasi bertujuan untuk melindungi anak dari penyakit berbahaya terutama campak. Khusus Imunisasi Tambahan Campak (ITC) dilakukan di 26 wilayah puskesmas sementara untuk Imunisasi Kejar Serentak (IKS) untuk melengkapi imunisasi rutin yang terlewat di seluruh wilayah puskesmas di Surabaya.

Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Notifikasi Australia

Andi mengatakan, Pemerintah Indonesia secara resmi telah menerima notifikasi terkait dua kasus campak warga negara Australia dengan riwayat perjalanan dari Indonesia.

Satu kasus berusia 18 tahun dengan riwayat perjalanan dari Bandung, Jawa Barat. Berdasarkan informasi dari otoritas Australia, kasus tersebut telah dinyatakan sembuh. Kasus tersebut pun memiliki status vaksinasi campak lengkap.

Selain itu, kasus kedua dilaporkan dengan riwayat perjalanan dari Sumatera dan Jakarta. Kasus tersebut berusia 6 tahun dan kini telah dinyatakan sembuh. Kasus ini tidak memiliki riwayat vaksinasi sebelumnya.

Andi menyebutkan, upaya surveilans campak terus diperkuat di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah yang melaporkan KLB pada 2025-2026. Penyelidikan epidemiologi pun dilakukan selama 24 jam setelah penemuan kasus. Komunikasi lanjutan dilakukan pula dengan Australia’s International Health Regulations National Focal Point (IHR NFP).

Seorang anak usia bawah lima tahun menangis saat disuntik vaksin campak dan rubella, Kamis (14/9), di Pos Pelayanan Terpadu Karanggandu, Watulimo, Trenggalek, Jawa Timur. Sebanyak 130.000 anak balita dari 147.000 anak balita di Trenggalek telah menerima vaksin campak dan rubella. Kementerian Kesehatan dan Unicef mendorong program vaksinasi menjangkau 95-100 persen anak sasaran yang berusia 9 bulan sampai 15 tahun. Kompas/Ambrosius Harto (BRO) 14-09-2017

Upaya skrining juga diperkuat pada pelaku perjalanan luar negeri di pintu masuk negara. Pemeriksaan dilakukan lewat deklarasi kesehatan, pemeriksaan suhu, serta pengamatan visual pada tanda dan gejala dari pelaku perjalanan.

Imunisasi rutin dan imunisasi kejar diperkuat, terutama di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah. Pemberian imunisasi tambahan dilakukan di daerah yang dilaporkan dengan KLB sepanjang 2025-2026 dengan prioritas pada kelompok usia pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK).

”Diharapkan juga masyarakat bisa aktif mengikuti kampanye campak. Jika ada yang mengalami demam atau ruam bercak merah, segera bawa ke puskesmas atau rumah sakit untuk diperiksa dan diobati,” kata Andi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Deonisia Arlinta
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul