Tim ”compound” Indonesia tak lagi menjadi ”anak bawang” di SEA Games. Sama seperti tim ”recurve”, mereka kini diperhitungkan karena sudah masuk di nomor Olimpiade.
30 Nov 2025 05:05 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Di panahan Indonesia nyaris tidak ada yang bisa melampaui pengabdian Lilies Handayani. Dari meraih medali di Olimpiade Seoul 1988 sebagai atlet sampai memimpin tim ”Merah Putih” ke Olimpiade Paris 2024 sebagai pelatih sudah dijalaninya. Seperti belum cukup dengan itu, Lilies kini mengemban tugas baru.
Ada yang berbeda dari Lilies di tempat pemusatan latihan nasional D’Khayangan Archery Center, Cikarang, Jawa Barat, Jumat (7/11/2025). Dia masih melatih tim Indonesia, tetapi sudah berpindah disiplin. Lilies yang melegenda berkat segudang pencapaian di disiplin recurve, saat ini menjadi pelatih untuk disiplin compound.
April lalu, nomor compound dipastikan akan debut di Olimpiade Los Angeles 2028. Karena itu, Indonesia bergerak cepat menyiapkan pemanah. Lilies yang pernah merasakan Olimpiade sebagai atlet ataupun pelatih dinilai paling tepat untuk memimpin tim. Dia menyerahkan recurve sepenuhnya ke pelatih asing Lee Kyung-chul.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/07/13c8d14a46f0a997d756439f315f3b9c-FAK_8879.jpg)
Meskipun dikenal sebagai spesialis recurve, Lilies sebenarnya berpengalaman di compound. Dia pernah mengikuti beberapa seri Piala Dunia di 2007 sebagai pemanah compound. Recurve dan compound berbeda dalam banyak hal, mulai dari tipe busur hingga jarak dan diameter target, tetapi punya banyak kemiripan dalam hal teknik memanah.
Di compound, busur menggunakan sistem katrol untuk membantu tarikan. Meskipun lebih presisi dalam memanah, diameter target hanya berukuran 80 sentimeter. Jauh lebih kecil dibandingkan dengan recurve yang berdiameter 122 sentimeter. Adapun busur recurve menggunakan sistem lebih sederhana, tanpa katrol.
Lilies mengatakan, perjalanan tim compound akan dimulai di SEA Games Thailand 2025. Mereka diharapkan bisa meringankan beban prestasi di tim recurve. ”Kami ingin meningkatkan lagi prestasi, dari satu emas (di Vietnam 2021) jadi dua sampai tiga emas. Kalau bisa, itu luar biasa. Selama ini, kan, recurve yang jadi tulang punggung,” ujarnya.
Di SEA Games Vietnam, saat terakhir panahan dipertandingkan, tim Indonesia meraih juara umum dengan lima emas dan satu perak. Tim compound baru bisa menyumbang satu emas lewat beregu putra ketika itu. Adapun di Thailand, recurve dan compound akan kembali mempertandingkan tiap-tiap lima nomor.
Target prestasi Lilies sejalan dengan grafik performa para pemanah sejak pelatnas pada Mei lalu. Mereka mengikuti berbagai kompetisi selama setengah tahun terakhir, mulai dari Kejuaraan Dunia Gwangju hingga Piala Asia Singapura. Salah satu yang paling menonjol adalah pemanah putri Yurike Nina Bonita Pereira.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/07/698a3ec1a958a0a1dbcc4925748365f6-FAK_0009.jpg)
Yurike berhasil mencapai delapan besar di Gwangju dan meraih perunggu di Singapura. Sementara itu, Prisma Wisnu Wardhana dan Nurisa Dian Ashrifah juga berhasil menyumbang perunggu lewat beregu campuran di Piala Asia. Adapun Prisma merupakan pemanah veteran yang menyumbang emas di SEA Games Vietnam.
Motivasi besar diungkapkan pemanah putri tim compound Ratih Zilizati Fadhly yang akan debut di SEA Games. ”Bagi saya, ini jadi momen pembuktian compound, bahwa compound juga bisa berprestasi, bisa punya bekal untuk mengejar mimpi ke Olimpiade,” ujar Ratih yang sempat masuk empat besar individu di Asian Games Hangzhou 2023.
Menurut Ratih, lawan yang paling diwaspadai di Thailand adalan Malaysia. Tim tetangga itu terbukti mampu jadi ancaman di berbagai ajang internasional tahun ini, termasuk saat Piala Asia kemarin. Malaysia meraih juara di beregu putri, saat Indonesia harus terhenti di babak perempat final.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/468137d7b50162c42c92d0b0e01ac147-20251129_H14_KID_Panahan_New_mumed.png)
Sementara itu, konsistensi tim recurve akan diuji di Thailand. Mereka memang berstatus juara umum di edisi terakhir. Namun, itu sudah berlalu sekitar tiga tahun. Peta kekuatan panahan di Asia Tenggara sangat mungkin berubah setelah cabang tersebut sempat tidak dipertandingkan di edisi Kamboja 2023.
Terlepas dari ancaman kompetitor, performa tim recurve Indonesia dalam keikutsertaan di beberapa kejuaraan sepanjang tahun ini cukup memberikan optimisme. Prestasi terbaik ditunjukkan oleh pemanah veteran Diananda Choirunisa yang semakin matang setelah kalah di perempat final Olimpiade Paris.
Diananda masuk empat besar di Kejuaraan Dunia Gwangju. Dia bahkan mampu mengalahkan peraih tiga emas Olimpiade Paris asal Korsel, Lim Si-hyeon, di semifinal. Sebelum itu, Diananda juga berhasil meraih emas (beregu putri) dan perak (individu) di Piala Asia Singapura. Pemanah ranking ke-18 dunia itu sedang berapi-api.
Di beregu campuran, Indonesia juga memperlihatkan potensi besar lewat duet Arif Pangestu dan Ayu Marta Dyasari. Mereka sempat meraih emas di Piala Asia yang diikuti banyak negara Asia Tenggara, seperti Singapura dan Malaysia. Adapun Arif akan kembali ke SEA Games seusai menyumbang dua emas di edisi Vietnam.
Lee, pelatih tim recurve, mengatakan, jumlah kompetisi dunia yang diikuti tim Indonesia tidak sebanyak di 2024. Namun, Diananda dan rekan-rekan selalu memanfaatkan setiap kejuaraan dengan optimal. ”Tentu yang paling penting adalah performa di hari pertandingan nanti. Kami harus mengatasi tekanan sebagai juara bertahan,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/07/eb4bd65020457d84121edc817c7a52ff-FAK_7802.jpg)
Banyak pemanah veteran yang akan kembali ke SEA Games, seperti Diananda, Arif, dan Riau Ega Salsabila. Di sisi lain, beberapa pemanah juga akan bertanding dengan status debutan. Salah satunya adalah Ahmad Khoirul Baasith. Pemanah berusia 20 tahun itu berharap bisa mengikuti jejak prestasi para senior di Thailand nanti.
Baasith menatap SEA Games dengan rasa dahaga untuk berprestasi. Dia ingin membuktikan diri selepas tersisih dari pelatnas untuk tim putra yang berlaga di Olimpiade Paris. Kebangkitan itu mulai terlihat saat dirinya meraih emas individu di PON Aceh-Sumut 2024. ”Yang penting tampil percaya diri dulu. Bisa menembak dengan nyaman, sama kayak di latihan, dan mempertahankan target skor,” tuturnya.
Alhasil tim Indonesia seolah memiliki dua anak panah yang bisa dijadikan lumbung medali di Thailand nanti. Selain itu, hasil SEA Games juga bisa menjadi cermin untuk menatap LA 2028. Jika tim recurve dan compound sukses, masa depan Indonesia di Olimpiade berikutnya akan tampak sangat cerah.
Pembaca yang budiman, harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet, yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Kelvin Hianusa, Rebiyyah Salasah, I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto