Realisasi investasi pada triwulan pertama mencapai Rp 465,2 triliun atau sekitar 24,4 persen dari target sepanjang 2025.
23 Apr 2025 21:11 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Hengkangnya LG Energy Solution dari investasi baterai kendaraan listrik bukan atas kemauan perusahaan asal Korea tersebut, melainkan keputusan yang diambil Pemerintah Indonesia. Keputusan itu diambil lantaran negosiasi dengan LG dianggap sudah terlalu lama.
Kabar hengkangnya konsorsium Korea Selatan yang dipimpin LG itu dimuat kantor berita Yonhap, media asal Korsel, pada Jumat (18/4/2025). Disebutkan, LG memutuskan menarik proyek senilai sekitar 11 triliun won atau 7,7 miliar dollar AS itu (setara Rp 129 triliun).
Proyek yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat, itu telah diresmikan Presiden ke-7 Joko Widodo pada 3 Juli 2024. Pabrik itu hasil kerja sama antara Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution melalui PT HLI Green Power. Pabrik ini telah beroperasi dengan kapasitas produksi tahunan sebesar 10 gigawatt-jam (GWh).
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Rosan Roeslani menyatakan, hengkangnya LG dari investasi baterai kendaraan listrik justru keputusan yang dibuat Pemerintah Indonesia. Surat resmi tentang pemutusan kerja sama ditandatangani oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia pada 31 Januari 2025 dan diberikan kepada CEO LG Chem serta LG Energy Solusy.
”Kenapa dikeluarkan surat itu? Karena memang negosiasi ini sudah terlalu lama. Sedangkan kita, kan, ingin semua ini berjalan dengan baik, dengan cepat, karena negosiasinya sudah berlangsung lima tahun,” ujar Rosan saat konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (23/4/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/10/5a195880-914e-4779-aee7-c23044a232c5_jpg.jpg)
Ia melanjutkan, proyek joint venture (JV) LG di Indonesia memiliki nilai investasi mencapai 9,8 miliar dollar AS. Investasi tersebut tersebar mulai dari pertambangan, pengolahan nickel matte, nikel sulfur, prekursor, katoda, anoda, battery cells, cells pack, hingga recycle battery. Proyek itu terdiri dari empat JV dan melibatkan sejumlah perusahaan lain, seperti Aneka Tambang dan Hyundai.
”Jadi memang berita yang mereka mundur itu bukan mundur semuanya, enggak. Mereka sudah melakukan dan sudah selesai di JV nomor 4 senilai 1,1 miliar dollar AS,” ujar Rosan.
Ia pun memahami bahwa negosiasi untuk proyek besar itu tidak mudah. Namun, pemerintah ingin agar investasi baterai kendaraan listrik di Indonesia terus berjalan.
Kenapa dikeluarkan surat itu? Karena memang negosiasi ini sudah terlalu lama. Sedangkan kita, kan, ingin semua ini berjalan dengan baik, dengan cepat, karena negosiasinya sudah berlangsung lima tahun.
Oleh karena itu, pemerintah melanjutkan proyek baterai kendaraan listrik dengan menggandeng Huayou, perusahaan teknologi asal China. Sementara itu, LG tetap berkomitmen untuk menanamkan investasi di bidang lain. Pemerintah juga tetap membuka peluang kepada LG untuk dapat berinvestasi di bidang yang sama.
Rosan menuturkan, Huayou bukanlah pemain baru di industri ini. Perusahaan itu sudah ada dalam konsorsium LG sejak 2024 dan memahami seluk-beluk di industri baterai kendaraan listrik. Huayou bahkan sudah berinvestasi di Weda Bay, Maluku Utara, dan memiliki sumber daya untuk terjun ke industri ini.
”Jadi sebenarnya dalam konsorsium LG itu memang sudah ada Huayou. Jadi mereka sekarang yang menjadi leading konsorsium, itu saja,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/19/59490984-f971-4b8d-b3c0-42cd0a302c35_jpg.jpg)
Di sisi lain, Rosan menyebut bahwa realisasi investasi pada triwulan pertama mencapai Rp 465,2 triliun atau sekitar 24,4 persen dari target yang dicanangkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional sepanjang 2025 senilai Rp 1.905,6 triliun. Capaian itu bahkan meningkat sebesar 15,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year on year), yakni Rp 401,5 triliun. Investasi itu berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 594.104 orang.
Investasi itu terbagi menjadi 49,5 persen dari penanaman modal asing atau sebesar Rp 230,4 triliun dan dari dalam negeri sebesar 50,5 persen atau Rp 234,8 triliun. Dilihat dari sebarannya, investasi di luar Pulau Jawa sebesar Rp 235,9 triliun, sedangkan di Pulau Jawa sebesar Rp 229,3 triliun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/03/53823b4e-d715-4216-8ff3-4574fd28fb2e_jpg.jpg)
Adapun lima besar negara dengan investasi terbesar berasal dari Singapura (4,6 miliar dollar AS), Hong Kong (2 miliar dollar AS), dan China (1,8 miliar dollar AS). Berikutnya, Malaysia dan Jepang yang masing-masing senilai 1 miliar dollar AS.
”Ini angka yang sangat mengembirakan, ini menunjukkan juga bahwa keyakinan dan juga confidence, baik dari dunia internasional maupun dalam negeri dalam rangka berinvestasi ke Indonesia tetap terjaga,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/25/f20f91f8-9bb1-4af4-acb4-fabcaaf1e162_jpg.jpg)
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan, pengembangan rantai pasok baterai kendaraan listrik terintegrasi dalam skema ”Indonesia Grand Package” tidak berubah. Infrastruktur dan rencana produksi tetap sesuai dengan peta jalan awal. Perubahan hanya terjadi pada level investor, di mana LG tidak lagi melanjutkan keterlibatannya pada JV 1, 2, dan 3 yang baru.
”LG telah digantikan oleh mitra strategis dari China, yaitu Huayou, bersama BUMN kita,” katanya.
Bahlil pun memastikan, pergantian investor adalah dinamika yang lazim dalam proyek berskala besar. Sementara itu, pemerintah menurut dia, akan menjamin proses transisi berlangsung lancar.
”Proyek ini sudah berjalan, sebagian telah diresmikan dan mulai produksi, dan sisanya akan terus kami kawal hingga tuntas sesuai target. Tidak ada yang berubah dari tujuan awal yaitu menjadikan Indonesia sebagai pusat industri kendaraan listrik dunia,” ujar Bahlil.
Penulis:
Iqbal BasyariEditor:
C. Wahyu Haryo PPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul