LG Mundur dari Proyek Rp 129 Triliun, Waspadai Hilangnya Momentum

Perlu ada perbaikan iklim usaha agar investor tak lagi pergi.  Kasus mundurnya LG Energy Solution dalam proyek baterai kendaraan listrik menjadi preseden serius.

24 Apr 2025 17:31 WIB · Ekonomi

Oleh Aditya Putra Perdana

JAKARTA, KOMPAS — Mundurnya konsorsium yang dipimpin perusahaan asal Korea Selatan, LG Energy Solution, dalam proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi senilai Rp 129 triliun perlu menjadi pelajaran. Indonesia perlu serius meningkatkan iklim bisnis dan lebih terbuka dalam memaknai hilirisasi. Jangan sampai Indonesia kehilangan momentum energi hijau.

Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia Yose Rizal Damuri mengatakan, Indonesia bukan satu-satunya negara yang berambisi membangun ekosistem atau production hub kendaraan listrik (EV). Namun, ada Vietnam, Thailand, Malaysia, dan sejumlah negara lain yang juga memacu pembentukan ekosistem industri EV.

Di tengah situasi itu, Indonesia harus mampu meningkatkan daya saing dalam hal iklim bisnis, investasi, dan fasilitasi bagi investor. ”Bukan sekadar memberi insentif-insentif dalam pajak dan lainnya. Namun, yang sebenarnya dituntut oleh bisnis ialah bagaimana kemudahan berusaha itu diberikan,” kata Yose di sela-sela diskusi RE Invest Indonesia yang digelar Tenggara Strategics di Jakarta, Kamis (24/4/2025).

Menurut Yose, yang juga menjadi pelajaran, Indonesia perlu bersinergi dengan negara-negara lain dalam hilirisasi. Sebab, dalam hilirisasi, tidak bisa jika segala sesuatunya harus dari Indonesia. Besarnya cadangan nikel Indonesia menjadi keunggulan, tetapi untuk material lain yang tak dimiliki, kalaupun harus mendatangkan dari luar negeri sejatinya tak masalah.

Jangan sampai, lantaran memaknai hilirisasi dengan sangat rigid, tujuan tidak tercapai karena investor memilih mundur. Ada waktu yang terbuang.

”Padahal, saat ini adalah momentum ketika green industry sedang berkembang. Apabila kita terlambat terus (dari negara lain), akhirnya kita bisa kehilangan momentum,” katanya.

Battery system (BSA) dipamerkan pada peletakan batu pertama (ground breaking) pabrik battery system Hyundai Energy Indonesia (HEI) di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (31/5/2023). Direncanakan mulai produksi massal pada 2024, pabrik tersebut akan memiliki kapasitas produksi 21.000 unit BSA untuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV) pada tahun pertama.

Indonesia bisa menawarkan kerja sama dengan berbagai negara lain dalam rantai pasok produksi baterai di regional guna menghasilkan produk akhir yang mendukung green industry. Impor, kata Yose, jangan lagi dipandang sebagai aib. Dengan impor, Indonesia juga bisa menarik investasi yang pada akhirnya bisa memperkuat industri hingga meningkatkan devisa melalui eskpor.

Sebelumnya, kantor berita Korsel, Yonhap, Jumat (18/4/2025), memberitakan bahwa konsorsium yang berisi LG Energy Solution (LGES), LG Chem, LX International Corp, dan sejumlah mitra lain menarik diri dari proyek baterai senilai 11 triliun won (Rp 129 triliun, kurs Rp 11.734 per won) di Indonesia. Perubahan lanskap industri menjadi salah satu alasan mundurnya konsorsium ini.

Quote

Jangan sampai, lantaran memaknai hilirisasi dengan sangat ’rigid’, tujuan tidak tercapai karena investor memilih mundur. Ada waktu yang terbuang.

Konsorsium tersebut awalnya hendak bekerja sama dengan Indonesia Battery Corporation (IBC), perusahaan baterai yang berisi empat BUMN energi dan pertambangan di Indonesia, dengan nama proyek Titan. Proyek tersebut mengintegrasikan produksi baterai mulai dari hulu, yakni pertambangan nikel, hingga menjadi produk baterai.

Vice President Commercial and Marketing IBC Bayu Hermawan menuturkan, Titan ialah proyek Indonesia Grand Package. Ada proses rantai nilai (value chain) yang panjang dan segalanya harus terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk meliputi tambang dan prekursor.

”Memang ada hal-hal yang kemarin itu tidak mencapai kesepakatan (dengan LGES). Selain itu, mereka menyampaikan bahwa market mereka, baterai NMC (nikel mangan kobalt) itu market (utamanya) di Eropa, dan lainnya. Lalu ada barrier dari AS dan sebagainya. Itu semakin menantang bagi mereka,” kata Bayu.

Diskusi RE Invest Indonesia terkait kendaraan listrik yang digelar Tenggara Strategics, di Jakarta, Kamis (24/4/2025).

Mengenai Huayou yang disebut-sebut sebagai pengganti LGES pada proyek Titan, Bayu belum bisa berkomentar banyak. Yang pasti, IBC terus membuka peluang kolaborasi dengan pihak-pihak lain. IBC juga terus berkoordinasi dengan kementerian-kementerian terkait.

Di samping Proyek Titan, proyek baterai EV terintegrasi lain ialah Proyek Dragon. Dalam proyek itu, IBC bekerja sama dengan CBL atau Ningbo Contemporary Brunp Lygend yang terafiliasi dengan salah satu produsen baterai raksasa asal China, yang juga pemimpin pasar baterai EV di dunia, CATL.

”Kemitraan itu terus berjalan. Untuk Proyek Dragon, ditargetkan (produksi) pada akhir 2026, tetapi tentu dengan ramping up (peningkatan kapasitas bertahap) karena pasti akan membutuhkan waktu. Yang pasti, dari dua proyek tadi, tentu berjalan dengan apa yang diamanatkan,” kata Bayu.

Beda dengan HLI

Head of Corporate Strategy Hyundai Motors Indonesia (HMID) Hendry Pratama menekankan, kabar mundurnya LGES dalam proyek baterai terintegrasi tidak terkait dengan joint venture PT Hyundai LG Industry (HLI) Green Power di Karawang, Jawa Barat. Pabrik itu telah beroperasi setelah diresmikan Presiden Joko Widodo pada Juli 2024.

”Berita LG ini tidak ada hubungan langsung dari operasional HLI. Jadi, HLI tidak tercakup dalam isu yang beredar karena (proyek Titan) itu sebenarnya di area yang lebih hulu. Sementara HLI memproduksi battery cell pack yang digunakan oleh Hyundai, terutama (pada produk EV) Kona. Jadi, tetap beroperasi seperti biasa,” ujar Hendry.

Sel baterai yang dipajang ketika Presiden Joko Widodo meresmikan ekosistem baterai dan kendaraan listrik Korea Selatan di Indonesia yang digelar di PT. Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, pada Rabu (3/7/2024). Presiden menyebut pabrik sel baterai EV ini sebagai pertama dan terbesar di Asia Tenggara.

Mengenai kebutuhan industi baterai yang lebih terintegrasi untuk bisnis EV di Indonesia, Hendry mengatakan, Hyundai hingga kini belum memiliki ketergantungan kepada salah satu vendor atau pemasok. Sebab, rantai pasok di Indonesia relatif belum terbentuk secara optimal.

”Yang kami harapkan sekarang, semoga pemerintah semakin mempromosikan baterai EV berbasis nikel. Dengan demikian, permintaan akan semakin tinggi, yang juga akan membuat produksi makin meningkat. Dengan demikian, hilirisasi betul-betul terjadi,” katanya.

Sebelumnya, sejumlah menteri pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menyatakan tidak khawatir dengan mundurnya LGES dari Proyek Titan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Rabu (23/4/2025), menuturkan, proyek itu tak mengalami perubahan mendasar. Yang terjadi ialah penyesuaian mitra investasi dalam struktur joint venture.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aditya Putra Perdana
 | 

Editor:

Aloysius Budi Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan