Seusai Maresca, Chelsea Mencari Tumbal Selanjutnya

Setelah selesai dengan Maresca, Chelsea berniat menunjuk pelatih muda Liam Rosenior. Dari tren pemecatan dan pemilihan pelatih, masa depan Chelsea tampak gelap.

02 Jan 2026 15:24 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Kelvin Hianusa

LONDON, JUMAT — Pemecatan pelatih Enzo Maresca oleh Chelsea terasa mengejutkan. Namun, itu sama sekali tidak mengherankan jika becermin dari tren di era kepemilikan Todd Boehly. Setelah Maresca, seandainya tidak ada perubahan, giliran pelatih Chelsea selanjutnya yang akan menjadi tumbal para petinggi klub.

Maresca baru saja mendapatkan gelar pelatih terbaik Liga Inggris edisi November 2025, awal Desember lalu. Kurang dari sebulan, Kamis (1/1/2026), dia resmi dipecat oleh Chelsea. Penyebab utama yang terlihat adalah tren buruk klub. Sang pelatih hanya mampu menghasilkan satu kemenangan dari tujuh laga terakhir di liga.

Status Chelsea pun berubah drastis, dari pesaing juara jadi tertinggal 15 poin dari pemuncak klasemen Arsenal. ”Jujur saya benar-benar terkejut, tidak menyangka hal itu akan terjadi. Menurut saya, jelas ada tensi antara pelatih dan pemilik soal keputusan ini,” kata mantan kapten Chelsea, John Terry, lewat akun Tiktok resminya.

EAST RUTHERFORD, NEW JERSEY - JULY 13: Cole Palmer #10 of Chelsea FC lifts the FIFA Club World Cup trophy after his team's victory following the FIFA Club World Cup 2025 Final match between Chelsea FC and Paris Saint-Germain at MetLife Stadium on July 13, 2025 in East Rutherford, New Jersey.   David Ramos/Getty Images/AFP (Photo by David Ramos / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Tren buruk memang menyudutkan sang pelatih asal Italia, tetapi kurang masuk akal jika dipecat hanya karena hal itu. Maresca adalah pelatih terbaik Chelsea di era Boehly, sejak 2022. Dia mencatatkan rekor kemenangan tertinggi, 61,8 persen, serta memberikan trofi Piala Dunia Antarklub dan Piala Konferensi Eropa di musim pertamanya.

Seperti kata Terry, ada faktor lain dari keputusan tersebut. Alasan sebenarnya terendus setelah kemenangan Chelsea atas Everton pada pertengahan Desember. Maresca bersaksi baru saja menjalani ”48 jam terburuk” di klub. Banyak orang yang tidak mendukungnya. Dia enggan menjelaskan pernyataan itu lebih lanjut.

Menurut BBC Sport, Maresca sering tidak sependapat dengan departemen medis klub soal kebugaran dan ketersediaan pemain. Dia merasa, klub sengaja mengarahkan pemain yang harus dipilih berdasarkan nilai, bukan kualitas dan tren performa. Para petinggi klub kecewa dengan keputusan sang pelatih yang membahayakan pemain.

Kecurigaan Maresca beralasan. Di era Boehly, Chelsea selalu jorjoran mendatangkan bintang muda dengan potensi besar. Mereka seperti membeli pemain hanya untuk investasi, bukan karena kebutuhan pelatih. Lihat saja di musim pertama Maresca tahun lalu, Chelsea harus meminjamkan 20 pemain karena terlalu banyak pemain di skuad.

Pelatih Chelsea Enzo Maresca merayakan kemenangan atas Fluminense pada laga semifinal Piala Dunia Antarklub 2025 di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, AS, Rabu (9/7/2025) dini hari WIB. Chelsea menang 2-0 pada laga itu dan maju ke final.

Di sisi lain, Maresca enggan terjebak pada kepentingan para petinggi. Dia bukan lagi pelatih yang belum terlalu diperhitungkan seperti musim lalu. Nilainya sudah sangat tinggi, bahkan masuk radar sebagai pengganti Pep Guardiola di Manchester City untuk musim depan. Maresca pun memilih pergi ketimbang hancur bersama ”Si Biru”.

Tren kehancuran

Maresca merupakan pelatih keenam di era Boehly. Thomas Tuchel mengawali era baru kepemilikan Chelsea dan hanya bertahan empat bulan. Graham Potter ditunjuk, lalu dipecat setelah tujuh bulan. Bruno Saltor dan Frank Lampard sempat menjadi pelatih sementara. Mauricio Pochettino, sebelum Maresca, hanya bertahan semusim.

Quote

Menurut saya, yang menanamkan uang bukanlah pelatih, melainkan pemilik. Saya rasa mereka adalah orang terpenting dalam klub.

Maresca menjadi pelatih terlama di era pascapemilik sebelumnya, Roman Abramovich, 550 hari. Fakta itu memperlihatkan, waktu adalah hal termahal bagi para pelatih Chelsea. Si Biru sudah dilatih enam figur hanya dalam tiga setengah tahun terakhir. Tidak ada tim di liga yang memiliki pelatih lebih banyak dibandingkan mereka.

Pergantian pelatih memang sudah ada dalam ”DNA” Chelsea. Di era Abramovich, terdapat 16 pelatih hanya dalam 19 tahun (2003-2022). Bedanya, pergantian pelatih di era sebelumnya nyaris selalu berujung kesuksesan. Sebaliknya, di era Boehly, klub seperti selalu bergerak mundur setiap pemecatan pelatih.

Abramovich selalu memprioritaskan kemenangan dan trofi di atas segalanya. Ambisinya terlihat dengan mendatangkan pelatih yang sudah berpengalaman juara, mulai dari Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, hingga Antonio Conte. Sang pemilik kemudian mendukung total para pelatih itu dalam bursa transfer.

Tren pemilihan pelatih di era Boehly agak unik. Mereka cenderung memprioritaskan pelatih muda yang minim pengalaman juara. Lihat saja nama-nama yang diambil sebelumnya, seperti Potter, Pochettino, dan Maresca. Mereka belum terbukti bisa menghadirkan trofi untuk klub yang dilatih.

Chelsea's head coach Enzo Maresca, right, shakes hands with Reece James after the English Premier League soccer match between Chelsea and Bournemouth in London, England, Tuesday, Dec. 30, 2025. (AP Photo/Kin Cheung)

Jika dilihat lebih dalam, sosok pelatih minim ego memang paling pas bagi Chelsea. Sebab, kenyataannya, sudah terlalu banyak figur yang berperan dalam pengambilan keputusan klub saat ini. Mereka memiliki dua pemilik vokal, Boehly dan Behdad Eghbali, serta dua direktur olahraga, Paul Winstanley dan Laurence Stewart.

Peran pelatih pun sebatas keputusan di lapangan. Maresca sudah sering mengeluhkan keterbatasannya dalam berbagai hal, termasuk pemilihan pemain di bursa transfer. ”Menurut saya, yang menanamkan uang bukanlah pelatih, melainkan pemilik. Saya rasa mereka adalah orang terpenting dalam klub,” sindir Maresca, Desember lalu.

Wajar jika nama yang muncul sebagai kandidat suksesor Maresca adalah pelatih 41 tahun dari klub Perancis, Strasbourg, yaitu Liam Rosenior. Pengalaman Rosenior sebagai pelatih tetap di Inggris hanyalah ketika memimpin tim divisi kedua, Hull City (2022-2024). Dia dipecat dari Hull sebelum pindah ke Strasbourg.

Pengalaman Rosenior terlihat kurang pas dengan kredibilitas Chelsea. Meskipun begitu, sosok minim ego tersebut agaknya paling dibutuhkan oleh Boehly dan koleganya. Jangan terkejut jika sang pelatih muda hanya akan menjadi tumbal selanjutnya. Kisahnya kemungkinan berakhir sama dengan para pelatih terdahulu. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti