Investasi Hulu Migas Naik, ”Lifting” Minyak Masih di Bawah Target

Per semester I-2025, ”lifting” minyak bumi sebesar 578.000 barel per hari atau di bawah target 2025 sebesar 605.000 barel per hari.

21 Jul 2025 20:43 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Aditya Putra Perdana

JAKARTA, KOMPAS — Realisasi produksi siap jual atau lifting minyak bumi, per Juni 2025, mencapai 578.000 barel per hari. Angka itu naik tipis secara tahunan, tetapi masih di bawah target APBN 2025 sebesar 605.000 barel per hari. Sementara itu, investasi hulu migas mencapai 7,19 miliar dollar AS atau naik 28,6 persen secara tahunan.

Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) realisasi lifting minyak 578.000 barel minyak per hari (BOPD) pada semester I-2025 lebih tinggi dari periode sama 2024 senilai 576.100 BOPD. SKK Migas optimistis, target 605.000 BOPD tetap akan diraih di akhir tahun 2025.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, sejak Juli 2025, ada tren kenaikan produksi maupun lifting minyak, terutama sejak Lapangan Forel dan Terubuk di Kepulauan Riau, pada Mei 2025, diresmikan. Kedua proyek itu diharapkan memberi tambahan 20.000 BOPD dan 60 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

”Produksi minyak per hari naik terus sejak Juli. Semoga bisa mencapai target APBN, terutama dari Forel-Terubuk dan kenaikan (produksi) di Lapangan Banyu Urip (Jawa Timur). Kami berupaya sekuat tenaga agar pada Desember (2025) bisa mencapai target 605.000 BOPD,” ujar Djoko dalam konferensi pers capaian kinerja hulu migas semester I-2025, di Jakarta, Senin (21/7/2025).

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Djoko Siswanto dalam acara Indonesian Petroleum Association (IPA) Convex 2025 yang berlangsung di ICE BSD, Tangerang, Banten, Selasa (20/5/2025).

Selama ini, terjadi tren penurunan lifting minyak bumi akibat terjadinya penurunan produksi secara alamiah. Hal tersebut disebabkan kondisi sumur-sumur migas di Indonesia yang sudah tua (mature). Hal itu menyebabkan peningkatan impor minyak karena dari kebutuhan sekitar 1,6 juta BOPD, lifting hanya sekitar 600.000 BOPD.

Selain mempercepat produksi pada proyek-proyek lapangan minyak bumi, upaya lain ditempuh dengan memasifkan pengeboran sumur-sumur pengembangan. Namun, masif dan agresifnya pengeboran juga kerap terkendala oleh berbagai hal, salah satunya kondisi cuaca.

Berdasarkan data SKK Migas, jumlah pengeboran sumur pengembangan meningkat dari sekitar 500 sumur pada 2021 menjadi 899 sumur pada 2024. Adapun pada 2025, pengeboran sumur ditargetkan mencapai 993 sumur pada akhir tahun. Hingga semester I-2025, realisasi pengeboran baru sebanyak 409 sumur pengembangan.

”Sumur pengembangan ialah salah satu tulang punggung dalam mempertahankan produksi (migas). Kalau kita lihat jumlahnya, makin lama makin meningkat,” imbuh Deputi Eksploitasi SKK Migas Taufan Marhaendrajana.

Namun diakuinya, realisasi pengeboran sumur pengembangan kerap kali di bawah target. Itu, antara lain, akibat terjadinya banjir yang tidak terprediksi sehingga operasional terhenti. Tantangan lain ialah terkait dengan pembebasan lahan. ”Sehingga membutuhkan waktu,” lanjutnya.

Adapun upaya kunci peningkatan produksi minyak dan gas bumi adalah eksplorasi. Berdasarkan data SKK Migas, per Juni 2025, terdapat 10 penemuan dari 18 sumur yang selesai dites (rasio keberhasilan 56 persen). Ke depan, eksplorasi terus dipacu guna menemukan sumber-sumber baru migas.

Sementara itu, total salur gas bumi per Juni 2025 ialah 5.483 MMSCFD. Jumlah tersebut masih di bawah target APBN 2025 yang sebesar 5.628 MMSCFD. Berbeda dengan minyak bumi, gas bumi Indonesia terbilang melimpah. Terlebih, telah ditemukan sumber-sumber gas besar dalam beberapa tahun terakhir.

Suasana di Stasiun Pengumpul atau Central Gathering Station (CGS)-10 di Lapangan Duri, Blok Rokan, Kabupaten Bengkalis, Riau, yang dikelola PT Pertamina Hulu Rokan, Rabu (11/6/2025). Fasilitas di CGS berfungsi memisahkan minyak bumi dengan antara lain gas, air, dan pasir sehingga bisa dijual.

Iklim investasi

Realisasi investasi hulu migas pada semester I-2025 mencapai 7,19 miliar dollar AS atau meningkat 28,6 persen dari periode sama pada 2024 yang sebesar 5,59 miliar dollar AS. Adapun proyeksi realisasi investasi hingga akhir 2025 diperkirakan 16,5 miliar dollar AS-16,9 miliar dollar AS.

Djoko mengemukakan, ada tren kenaikan investasi hulu migas, khususnya sejak 2021. Hal tersebut, salah satu hasil dari perbaikan iklim investasi. Dengan demikian, investor kian tertarik untuk berinvestasi di Indonesia.

”Upaya itu telah memberikan kepercayaan kepada investor mengenai masa depan industri hulu migas yang semakin menarik. Apalagi sektor hulu migas menjadi salah satu pilar ketahanan energi nasional sebagaimana dicantumkan dalam program Astacita Presiden Prabowo Subianto,” ucapnya.

Ia menambahkan, daya saing investasi hulu migas Indonesia meningkat berdasarkan skor dan peringkat investor attractiveness yang dipublikasikan oleh S&P Global. Kini, skor Indonesia dalam kemenarikan investasi hulu migas mencapai 5,35 atau lebih tinggi dari 2021 dengan skor di bawah 4,75.

Hal tersebut, imbuh Djoko, dikontribusikan oleh penemuan besar hulu migas (gas bumi) pada 2023 dan 2024. Selain itu, adanya perbaikan sistem fiskal oleh pemerintah. Pemerintah pun terus mendukung setiap lapangan migas menjadi ekonomis, antara lain dengan ketentuan PSC New Gross Split, penghapusan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas transaksi gas alam cair (LNG), serta pengembangan infrastruktur gas.

Suasana di sekitar pompa angguk (sucker rod pump) di Lapangan Duri, Blok Rokan, Kabupaten Bengkalis, Riau, yang dikelola PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Rabu (11/6/2025). Pompa angguk berfungsi memompa minyak bumi di dalam sumur produksi ke permukaan tanah. Saat ini, lifting atau produksi siap jual minyak bumi di Blok Rokan berkisar 155.000-160.000 barel per hari.

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menuturkan, upaya menggenjot produksi minyak sejatinya telah dilakukan dalam dekade terakhir. Termasuk dengan keleluasaan bagi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk memilih cost recovery (biaya operasi yang dipulihkan) atau gross split (skema bagi hasil berdasarkan produksi bruto). Namun, nyatanya belum membuahkan hasil yang diharapkan.

Menurut dia, jika memang masih dieksplorasi, bisa dioptimalkan. ”Khususnya pada gas bumi. Tapi kalau untuk minyak bumi, dengan produksi yang selalu menurun dan di bawah target APBN, akan sangat sulit dicapai. Itu mengindikasikan cadangan yang semakin menurun,” kata Fahmy.

Oleh karena itu, menurut dia, target-target lifting minyak bumi, seperti 1 juta barel per hari pada 2030, sebaiknya tidak terus-terusan menjadi patokan utama. Dalam mencapai kemandirian energi, Indonesia perlu lebih optimal dalam memetakan dan memanfaatkan berbagai jenis energi terbarukan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aditya Putra Perdana
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul