Sabar/Reza akan menjalani debut dalam Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis. Dengan status atlet independen, banyak tantangan agar bisa tampil dalam ajang prestisius itu.
15 Agt 2025 17:04 WIB · Olahraga
Memasuki tahun kelima berpasangan dalam usia yang tak lagi muda untuk pebulu tangkis, Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani akhirnya mendapat kesempatan untuk tampil dalam Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis. Ganda putra ranking kedelapan dunia itu akan menjadi salah satu dari 12 wakil Indonesia yang tampil di Paris, Perancis, 25-31 Agustus.
Di ganda putra, Sabar (29 tahun) dan Reza (27) menjadi andalan ”Merah Putih” selain Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dan Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana. Mereka menjadi bagian dari pemain yang mendapat bye pada babak pertama karena berstatus unggulan. Sabar/Reza menjadi unggulan kedelapan, Fajar/Rian (4), dan Leo/Bagas (10).
Berbeda dengan Fajar/Rian yang sudah empat kali tampil di Kejuaraan Dunia, serta Leo dan Bagas yang pernah lolos bersama pasangan sebelumnya (Leo bersama Daniel Marthin dan Bagas dengan Muhammad Shohibul Fikri), Sabar/Reza baru kali ini mendapat undangan dari BWF.
Kejuaraan Dunia adalah ajang yang hanya bisa diikuti atlet dengan syarat memenuhi ranking yang ditentukan BWF. Untuk Kejuaraan Dunia 2025, BWF memakai daftar ranking 29 April guna menentukan kuota setiap negara dan atlet-atlet yang lolos. Indonesia mendapat jatah tiga wakil, masing-masing, untuk tunggal putra dan ganda putra, serta dua wakil dari tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/15/ebe935d03f67436c4f094cb7888fc9c2-WhatsApp_Image_2025_08_15_at_15.34.00_2_.jpeg)
”Pasti kami sangat senang bisa mendapat undangan dari BWF karena tampil di Kejuaraan Dunia menjadi salah satu mimpi kami. Semoga kami bisa tampil baik di sana,” kata Sabar setelah berlatih di Daddies Arena, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (15/8/2025).
Hari itu, Sabar/Reza berlatih dalam suasana berbeda dengan program yang mereka jalani sehari sebelumnya, meski dilakukan di tempat yang sama. Sekitar dua jam sejak pukul 09.00, Sabar/Reza yang didampingi pelatih mereka, Hendra Setiawan dan Yansen Alpine, berlatih bersama atlet-atlet dari pelatnas bulu tangkis, Cipayung, Jakarta.
”Saya mengundang mereka karena mereka belum pernah ke sini. Sekalian, bisa jadi sparring partner untuk Sabar/Reza,” kata Hendra.
Sepekan sebelum bertolak ke Paris, Sabar/Reza berlatih bersama Fajar, Rian, Leo, Bagas, Fikri, Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan, dan pemain-pemain pelatnas pratama. Ikut bermain pula pada latihan hari itu, Marcus Fernaldi Gideon, yang sering menjadi rekan latih tanding atlet-atlet di pelatnas.
Marcus tak kalah semangat dengan mereka yang masih aktif menjalani tur internasional. Bermain dalam latihan tak ubahnya seperti tampil dalam turnamen saat berpasangan dengan Kevin Sanjaya Sukamuljo. Apalagi, Marcus memang memiliki karakter ekspresif yang tak jarang berteriak saat melancarkan smes atau ketika melakukan kesalahan.
Dari delapan lapangan di tempat milik Hendra dan Mohammad Ahsan itu, Fajar dan kawan-kawan menggunakan tiga lapangan, bersebelahan dengan publik yang menyewa lapangan untuk bermain bulu tangkis. Maka, sesekali, para atlet dan mantan atlet itu diminta berfoto bersama oleh pengunjung lain.
Selama dua jam, Sabar, Reza, dan semua atlet menjalani latih tanding melawan pasangan berbeda. Sabar, yang berpasangan dengan Marcus, bermain melawan Fajar/Rahmat Hidayat. Saat pindah ke lapangan lain, lawan mereka pun berbeda.
Pada pertengahan hingga akhir latihan, Hendra dan Ahsan pun turut menjadi lawan tanding bagi ”adik-adik” mereka. Hendra/Ahsan, juara dunia 2013, 2015, dan 2019, bergabung bersama atlet pratama, Muhammad Putra Erwiansyah, di satu sisi lapangan. Mereka berhadapan dengan Fajar/Rahmat, lalu meladeni permainan cepat Sabar/Marcus.
Dalam suasana ”reuni” antara atlet, mantan atlet, dan Sabar/Reza yang berlatih di luar pelatnas, latihan berjalan serius dengan sesekali diselingi canda. Hendra mendapatkan tepuk tangan dari para yuniornya ketika smesnya tak bisa dikembalikan lawan.
Celetukan Fajar terdengar saat Hendra/Ahsan/Putra bermain melawan Sabar/Marcus. ”Wah, lawannya serius nih!”
Lalu, seperti yang telah menjadi kebiasaan, setiap selesai bertanding melawan satu pasangan, mereka saling berterima kasih.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/15/224c8888a637bf95dbb94860a0b7be1a-WhatsApp_Image_2025_08_15_at_15.34.00_6_.jpeg)
”Seneng banget bisa latihan bersama mereka. Latihannya jadi lebih semangat,” komentar Sabar.
Suasana pagi hingga siang itu menjadi momen yang biasa dirasakan atlet-atlet pelatnas di Cipayung, tetapi tidak untuk Sabar/Reza. Sebagai atlet nonpelatnas, salah satu tantangan besar mereka adalah mendapatkan rekan latih tanding dengan kemampuan sepadan. Itu sudah diantisipasi Sabar/Reza ketika memutuskan keluar dari pelatnas pada 2021.
Seperti atlet bulu tangkis lainnya yang memilih independen (dan jumlahnya sedikit di Indonesia), mereka harus menyiapkan semua kebutuhan sendiri, bukan hanya untuk mengikuti pertandingan, melainkan juga untuk latihan.
”Mungkin belum banyak orang yang tahu bahwa kami harus menyiapkan banyak hal untuk latihan, bukan hanya saat mengikuti pertandingan. Kami harus mencari tempat latihan, menyiapkan kok, mencari teman sparring, dan lain-lain. Saat tidak ada teman sparring, kami hanya latihan bertiga bersama Koh Hendra,” tutur Reza.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/15/d66299b8165e1f025551bcd6e1e47389-WhatsApp_Image_2025_08_15_at_15.34.00_5_.jpeg)
Kondisi itu dialami sehari sebelum mereka kedatangan skuat pelatnas. Sabar, Reza, dan Hendra hanya bisa melakukan latihan stroke, yaitu latihan untuk mengasah setiap jenis pukulan secara berulang.
Pada hari lain, meski program telah disusun, terkadang bisa diubah mendadak. ”Kadang mau latihan drilling, tapi ternyata enggak ada sparring partner, jadi programnya diubah lagi,” kata Hendra yang bertugas menyusun program latihan dengan perannya sebagai pelatih Sabar/Reza sejak tahun ini.
Latih tanding pun lebih sering berada dalam kondisi tak ideal. Sebagai atlet yang kemampuannya berada pada level persaingan BWF World Tour, mereka menjalani latih tanding dengan atlet-atlet yunior di Gideon Badminton Academy milik Marcus di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lalu, ketika atlet-atlet di akademi memiliki agenda bertanding dalam kejuaraan nasional, Sabar/Reza kembali pada program latihan bertiga bersama Hendra.
Dengan kondisi itu, pelatih dan atlet harus berpikir kreatif untuk mencapai target latihan. Untuk mengasah kecepatan dalam bergerak misalnya, latihan dilakukan dengan program satu melawan dua, dua melawan tiga, atau dua melawan empat orang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/15/01b23f15775cfc915cd48a2abd98a378-WhatsApp_Image_2025_08_15_at_15.34.00_1_.jpeg)
Situasi tersebut menjadi tantangan cukup besar bagi Sabar/Reza. Meski demikian, mereka bersyukur karena mendapat perhatian dari Hendra, Ahsan, dan Marcus yang menyediakan tempat latihan tanpa harus membayar.
Lika-liku itu mengantarkan Sabar/Reza menjadi semifinalis All England dan finalis Indonesia Terbuka yang berlevel Super 1000, serta mencapai final Macau Terbuka Super 300. Namun, mereka pun mengakui belum bisa tampil konsisten karena kalah pada babak-babak awal, seperti di Jepang dan China Terbuka.
Maka, untuk debut dalam Kejuaraan Dunia, Sabar/Reza menyatakan tekad bisa bermain konsisten pada setiap babak. ”Kami berharap bisa bermain maksimal di setiap pertandingan, tetapi harus fokus pada babak pertama dulu karena lawan tidak mudah. Dengan tampil maksimal, semoga hasilnya pun maksimal,” kata Reza.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari