Indonesia memiliki tiga wakil pada semifinal turnamen Final BWF World Tour. Namun, tak ada satu pun yang melangkah ke final.
14 Des 2024 23:01 WIB · Olahraga
HANGZHOU, SABTU—Setelah Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan menjuarai Final BWF World Tour 2019, Indonesia tak juga membawa gelar juara dari turnamen bulu tangkis di pengujung tahun tersebut. Skuad “Merah Putih”, bahkan, gagal menempatkan wakil pada laga final dalam dua edisi terakhir.
Indonesia sebenarnya memiliki peluang meloloskan wakil ke laga puncak dengan adanya tiga semifinalis. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan dua semifinalis pada 2023. Akan tetapi, hasil dari persaingan di Hangzhou Olympic Sports Centre Gymnasium, Sabtu (14/12/2024), sama seperti setahun lalu di tempat yang sama.
Pada semifinal 2023 dan 2024, kekalahan dialami Jonatan Christie dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Tahun ini, wakil lainnya yang kalah di fase empat besar adalah Sabar Karyaman Gutama/Muhammad Reza Pahlevi Isfahani. Namun, hasil ini cukup baik bagi Sabar/Reza yang untuk pertama kalinya lolos ke Final BWF.
Jonatan, yang tampil pada laga terakhir semifinal, menjadi harapan terakhir Indonesia setelah rekannya kalah. Namun, dia kalah dari Anders Antonsen dengan skor 6-21, 21-15, 13-21.
Fajar/Rian, sebagai wakil pertama Indonesia yang tampil di semifinal, memiliki kesempatan terbesar untuk melaju ke laga perebutan gelar juara. Namun, peluang itu hilang seiring dengan melayangnya enam match point mereka di semifinal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/14/5061ec5940c60d3086e41370ebf7cf7d-AFP_36QD8RJ.jpg)
Momen tersebut terjadi ketika mereka berhadapan dengan pasangan Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izuddin. Ganda putra nomor satu Indonesia itu memasuki lapangan dengan pengalaman tampil pada tahap yang sama dalam Final BWF 2022 dan 2023, sementara, Goh/Nur baru kali ini tampil pada penutup persaingan ajang BWF setiap tahunnya tersebut. Sejak 2019, Malaysia biasanya meloloskan Aaron Chia/Soh Wooi Yik dan atau Ong Yew Sin/Teo Ee Yi pada ganda putra.
Fajar/Rian juga membawa delapan kemenangan dari 11 pertemuan dengan Goh/Nur, tetapi, mereka kalah dalam dua pertemuan terakhir yang terjadi tahun ini, yaitu pada perempat final Jepang Terbuka dan Arctic Terbuka di Finlandia.
Pasangan Indonesia yang telah sepuluh tahun berpasangan tersebut menciptakan kesempatan besar menghentikan kemenangan Goh/Nur ketika unggul 14-9 pada gim ketiga, lalu mendapat enam match point. Akan tetapi, kemenangan yang ada di depan mata hilang dan Fajar/Rian kalah dengan skor 21-17, 16-21, 25-27.
Laga selama satu jam 21 menit, bahkan, menjadi yang terlama di semifinal termasuk saat dibandingkan dengan dua semifinal ganda putri, nomor yang biasanya berdurasi paling panjang. Seperti dikatakan Gillian Clark, mantan pebulu tangkis Inggris yang menjadi komentator untuk BWF, Fajar/Rian melawan Goh/Nur berlangsung semakin menarik ketika mereka harus unggul dua poin setelah terjadi skor 20-20 pada gim penentuan.
Fajar/Rian mendapat enam match point beruntun sejak 20-19 hingga 25-24, tetapi, setiap keunggulan selalu bisa diimbangi Goh/Nur. Ganda Malaysia ranking ketujuh dunia itu akhirnya menang, hanya pada match point pertama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/14/c33bac2bbb32ab87259cee33647f6655-FajarRian7_SF_WTF2024_PBSI_20241214.jpg)
“Pada momen itu, lawan lebih percaya diri, lebih yakin. Walaupun terus tertinggal, mereka tetap tidak lengah,” komentar Rian.
Semifinal ini tak mengubah hasil Fajar/Rian pada dua edisi Final BWF sebelumnya. Mereka pun tak bisa menyamai prestasi dua ganda putra Indonesia lainnya, yaitu Hendra/Ahsan dan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, yang bisa menjuarai Final BWF.
Tahun 2024 bukan tahun terbaik, tapi kami bersyukur bisa kembali ke semifinal Final BWF serta mendapat dua gelar, yaitu All England dan Kumamoto Masters.
Hendra/Ahsan, bahkan, menjadi atlet Indonesia tersukses pada turnamen yang hanya diikuti delapan wakil terbaik dari setiap nomor ini. Mereka menjadi juara pada 2013, 2015 (ketika bernama Final BWF Super Series hingga 2017) dan 2019, adapun Kevin/Marcus juara pada 2017.
Setelah Hendra/Ahsan juara pada 2019, hanya mereka, Kevin/Marcus, dan Anthony Sinisuka Ginting yang bisa lolos hingga ke final pada 2020-2022, tetapi tanpa gelar juara. Setelah itu, pemain-pemain Indonesia kalah bersaing dengan pemain-pemain China, Denmark, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan.
“Tahun 2024 bukan tahun terbaik, tapi kami bersyukur bisa kembali ke semifinal Final BWF serta mendapat dua gelar, yaitu All England dan Kumamoto Masters. Kami pun bisa menempati ranking keempat dunia di akhir tahun,” kata Fajar yang berterima kasih pada tim pendukung Indonesia yang membuat kondisi kaki kirinya membaik. Pergelangan kaki kirinya terkilir saat bermain pada penyisihan grup, Kamis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/12/6cb13d7e2258903a69aeb8948ac932ff-SabarReza2_D2_WTF2024_PBSI_20241212.jpg)
Berbeda dengan Fajar/Rian, tahun 2024 justru memberi banyak momen baik bagi Sabar/Reza hingga bisa menjalani debut di Final BWF. Mereka menjuarai Spanyol Masters Super 300, menembus semifinal Indonesia Terbuka Super 1000, dan mencapai tiga final pada rentang September-November, sebelum Final BWF.
Rangkaian hasil itu menaikkan posisi dalam daftar peringkat, dari urutan ke-48 pada awal tahun menjadi ke-11 pada saat ini. Semua itu dicapai dengan status mereka sebagai pemain independen yang berlatih di luar pelatnas.
Namun, kejutan yang diciptakan di Final BWF, salah satunya mengalahkan peraih perunggu Olimpiade Tokyo 2020 dan Paris 2024, Chia/Soh, berhenti di semifinal. Sabar/Reza kalah 21-23, 13-21 dari unggulan teratas, Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen.
“Kami sudah unggul 18-14 pada gim pertama, tetapi terkejar. Pada poin-poin akhir, banyak terjadi adu reli yang menguras tenaga dan berujung pada kesalahan yang kami lakukan,” ujar Reza.
Walau tersingkir, banyak hal yang bisa mereka bawa untuk bersaing pada 2025. Sabar pun mengatakan bahwa dia ingin tampil lebih konsiten pada tahun mendatang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/14/4a494acb83c78aa3233f9ab87ec31bb9-AFP_36QD9QL.jpg)
Pada nomor ganda campuran, gelar juara akan diperebutkan oleh pemain China peraih medali emas Olimpiade Paris 2024, Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, dan Chen Tang Jie/Toh Ee Wei. Ini akan menjadi laga terakhir Zheng yang telah mengumumkan akan pensiun dari persaingan internasional usai Final BWF.
Pemain China lainnya yang lolos ke final adalah Shi Yu Qi. Tunggal putra nomor satu dunia itu akan menantang Anders Antonsen.
China memastikan mendapat gelar dari tunggal putri dengan akan terjadinya final antara Wang Zhi Yi dan Han Yue. Wang menghentikan pemain nomor satu dunia, An Se-young, 21-17, 21-14, sementara, Han menang atas Aya Ohori 21-17, 21-13.
Tuan rumah sebenarnya memiliki kesempatan menciptakan final antara sesama pemain mereka pada ganda putri, tetapi, dua wakil China pada semifinal kalah. Mereka adalah Chen Qing Chen/Jia Yi Fan (peraih emas Paris 2024) dan “adik” mereka, Liu Sheng Shu/Tan Ning.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .