Liverpool sukses menyabet predikat juara paruh musim Liga Inggris 2024-2025. Unggul 7 poin, mereka ingin tetap membumi.
27 Des 2024 08:51 WIB · Olahraga
LIVERPOOL, JUMAT — ”Kado” natal berupa kemenangan yang mengokohkan posisi Liverpool di puncak klasemen bak sesuatu yang tak terelakkan. Liverpool pun terbang dengan menjuarai paruh musim, tetapi tetap ingin membumi karena menyadari betapa sulitnya persaingan Liga Inggris.
Liverpool membuktikan bahwa pertarungan dengan Leicester City pada laga boxing day, Jumat (27/12/2024) pukul 03.00 WIB, di Stadion Anfield, tidaklah seimbang. Liverpool mampu menyegel kemenangan meyakinkan dengan skor 3-1.
Tim asuhan Arne Slot unggul segala-galanya, mulai dari penguasaan bola dengan 68,9 persen hingga upaya serangan yang terdiri atas 19 tembakan dengan 7 di antaranya menemui sasaran. Leicester hanya berhasil melepaskan 4 tembakan dengan hanya satu yang mengarah ke gawang.
Kendati sempat kecolongan pada awal laga dengan gol Jordan Ayew pada menit ke-6, Liverpool menemukan jalan untuk membalikkan keunggulan. Menekan pertahanan lawan, menciptakan berkali-kali peluang, hingga akhirnya memastikan kemenangan.
Kami harus tetap berada di puncak permainan kami. Itu jawaban yang agak membosankan tetapi sebagai manajer, Anda menjalani pertandingan demi pertandingan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/27/f7d01aafbfefc6fb5cfb84e93f352e7e-AFP_36RK9L4.jpg)
”Mencetak gol sebelum turun minum benar-benar membangkitkan semangat kami,” tutur Slot yang juga menyesali kebobolan cepat akibat pertahanan tim yang ceroboh.
Gol pembangkit semangat itu tercipta lewat aksi Cody Gakpo pada menit ke-45+1. Pada babak kedua, giliran Curtis Jones (49’) dan Mohamed Salah (82’) yang menambah keunggulan Liverpool.
Jika merujuk pada performa Liverpool sebelumnya, kemenangan itu seolah keniscayaan. Setelah menelan hasil imbang pada dua laga di Liga Inggris, ”Si Merah” keluar dari tren tersebut dengan meraih kemenangan atas Tottenham Hotspur, 6-3, pekan lalu.
Kemenangan atas Leicester, yang diwarnai pemecahan rekor 100 gol kandang Mohamed Salah, membuat Liverpool menjadi juara paruh musim dengan 42 poin. Salah dan kawan-kawan memperlebar keunggulan mereka di puncak klasemen menjadi 7 poin menyusul kekalahan Chelsea 1-2 dari Fulham di kandang sendiri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/27/49bf2f4a0f11821bf2ec24e5ceb1c475-AFP_36RK9KN.jpg)
”Tentu saja kami melihat klasemen, tetapi kami juga tahu betapa sulitnya liga ini. Dua bulan lalu kami tertinggal satu poin dari Manchester City,” kata Slot kepada BBC Match of the Day.
”Kami harus tetap berada di puncak permainan kami. Itu jawaban yang agak membosankan tetapi sebagai manajer, Anda menjalani pertandingan demi pertandingan. Sebab, begitu banyak tim yang memiliki kualitas,” ujarnya.
Keinginan untuk tidak hanya menjadi juara paruh musim itu begitu kuat di dalam tim. Namun, seperti Slot, para pemain Liverpool enggan lengah karena banyak hal tetap bisa terjadi.
Salah, misalnya, menekankan bahwa timnya harus tetap fokus sehingga bisa memenangi gelar Liga Inggris seperti impiannya. ”Rasanya berbeda, tetapi yang terpenting adalah kami harus tetap rendah hati,” ujar Salah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/27/3fa9651c326a03f5e0ddb4419204a847-fc15c1ad8b7149f89c0556fb424dd539_0_8da1b03590cd48399c0c49a04db9fe9b.jpg)
”Ini sangat istimewa. Mudah-mudahan kami memenangi Liga Inggris dan bagi klub ini, itu adalah sesuatu yang saya impikan,” tuturnya lagi.
Gakpo senada dengan Salah. Menurut Gakpo, tim tetap rendah hati dalam perburuan gelar karena pendekatan mereka terhadap setiap laga. Tidak ada pikiran terlalu jauh selain memikirkan pertandingan berikutnya.
Pola pikir itu wajar tertanam di dalam diri pemain dan pelatih Liverpool. Apalagi, Liverpool punya rekam jejak yang meneguhkan bahwa tim yang menjuarai paruh musim belum tentu menjadi juara pada musim panas tahun depan.
Liverpool pernah memimpin klasemen menjelang perayaan Tahun Baru pada edisi 1996-1997, 2008-2009, 2013-2014, 2018-2019, 2019-2020, dan 2020-2021. Namun, dalam periode itu, Liverpool hanya bisa mengangkat trofi juara pada pengujung musim 2019-2020.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/27/ba5cc688887ec2b0afa4d23e5d9cf823-AFP_36RK9KE.jpg)
Sementara itu, kekalahan dari Liverpool membuat pekerjaan rumah Leicester City semakin banyak. Apalagi, mereka kian tenggelam dalam rentetan kekalahan.
Meski demikian, Ruud van Nistelrooy justru menilai anak-anak asuhannya mampu menunjukkan penampilan bagus kontra Liverpool. Gol Jordan Ayew menjadi bukti para pemain mampu menjalankan rencana permainan dengan tepat.
”Sayang sekali kami tidak dapat mempertahankan keunggulan hingga jeda dan setelah turun minum, kebobolan gol kedua. Namun, secara keseluruhan, kami mampu bertahan dalam permainan untuk waktu yang lama,” tuturnya.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan